GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Siuman


__ADS_3

“Ibu!”  Elnara meraih pundak Linol yang terduduk lesu di samping Bed tempat dimana Afsa tengah terbaring lemas dengan keadaan masih sama seperti saat terakhir kali ditinggalkan oleh elnara.


Linol menatap kedatangan Elnara.  Ia melihat Elnara tidak sendiri, ada Emir yang mendampingi, juga sosok pria berparas tampan lain yang berdiri di belakang.  Tak lain Hamish.


“Bu, aku ingin bicara. Penting.  Tentang Afsa,” ucap Elnara.


“Ini mengenai pelaku penganiayaan itu,” imbuh Emir.


Sontak Linol membelalak.  “Apa kalian sudah menemukan orangnya?  Ah, tapi kan polisi pasti akan bergerak cepat menemukan pelaku.”


“Pelakunya Hamish.”  Emir menunjuk Hamish tanpa berbasa- basi.  Ia bicara to the point.  “Hamish adalah asisten pribadiku.  Dia melakukan hal itu karena khilaf.”


Linol bangkit berdiri, menatap Hamish dengan tajam.  “Lalu, apa maksud kedatangan pria ini?  Dia mau minta maaf, huh?”


“Awalnya aku meminta Hamish untuk mencari tahu siapa pelaku yang telah menganiaya Elnara.  Ya, Elnara dianiaya tanpa belas kasih oleh seseorang.  Berhubung Elnara tidak mau mengakui siapa pelakunya, maka aku meminta Hamish yang mencari tahu.  Dan pelakunya adalah Afsa.”

__ADS_1


“Jadi.. Elara dianiaya oleh Afsa?” Linol menatap dengan mata lebar.


“Sebelum Afsa terkapar dianiaya oleh Hamish, Afsa lebih dulu menganiaya Elnara dan Elnara melindungi Afsa.  Hamish terbawa emosi saat mengetahui pelaku penganiayaan Elnara adalah kembarannya sendiri.  sehingga terjadilah hal ini.  Aku menyesalkan kejadian ini, seharusnya Hamish tidak sampai melakukan ini pada Afsa.  Tapi semuanya sudah terjadi.  Hamish pun menyesali perbuatannya.  ini terjadi tanpa direncanakan.  Aku minta ibu mencabut perkara ini,” ungkap Emir.


Linol terdiam.  Jika Emir yang bicara, ia pun tak dapat berkata- kata.  Seperti kalah telak.


“Jika kasus ini dilanjutkan, maka pasti akan merembet kemana- mana.  Kasus penganiayaan terhadap Elnara pun akan terungkap.  Disebabkan Hamish menganiaya Afsa atas dasar kemarahannya melihat penganiayaan Afsa terhadap Elnara.  Mkaa kita ambil aman, maka cabutlah kasus ini, jangan diteruskan!”  Emir mendominasi.


Linol kembali terduduk.  Pandangannya lesu.  “Emir, jadi ini masalahnya Afsa terjadi karena Afsa sudah menganiaya Elnara?”


Linol menatap Elnara dengan pandangan canggung.  “Elnara!” panggilnya kemudian mengusap wajah putrinya dengan tetesan air mata.  “Kamu selalu menjadi korban.  Kamu selalu tersakiti.  Maafkan ibu yang selama ini tidak berdaya.  Mulai sekarang, ibu akan mendukungmu.”


Elnara memegang tangan ibunya.  Mengangguk pelan diiringi senyum.


“Ibu jahat padamu, kan?”  Linol menunduk.

__ADS_1


“Aku senang ibu berkata begini.  Berarti besok- besok ibu nggak akan jahat lagi sama aku!”  Elnara nyengir, membuat Linol tertawa, namun juga menitikkan air mata.  


Linol sadar sudah terlalu banyak menyakiti Elnara hanya demi menyenangkan Afsa, dan semua itu Linol lakukan karena rasa takut dimaki atau pun dihardik oleh Afsa.


Sekarang tidak lagi, Linol tak mau mengalah oleh keadaan yang sama.  Afsa adalah tanggung jawabnya.  Maka ia tak mau takluk terus- terusan pada anaknya sendiri yang jelas- jelas salah jalan.


“Kamu anak baik, kamu harus bahagia!”  Linol mengusap pipi halus putrinya.


Di tengah keharuan yang menguap, terdengar suara pergerakan di atas bed.  Elnara bergegas mendekati bed, menatap Afsa yang sudah dalam keadaan membuka mata.  Tangan Afsa bergerak membuka alat bantu pernapasan yang menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


“Afsa!” Elnara memegang lengan Afsa.


Tatapan Afsa bergiliran mengawasi wajah- wajah di hadapannya.  Elnara, Linol, Emir, dan terakhir Hamish, pria yang sempat cek- cok dengannya dan kemudian terjadi penganiayaan yang tak wajar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2