GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Di Toilet


__ADS_3

Rintik hujan membasahi jalanan. Elnara berdiri di dalam kelas yang berada di lantai dua. Menatap pada tetes- tetes hujan. 


Sudah tiga puluh menit sejak kelas usai, ia masih berdiri terpaku di sana. Sejak tadi hujan sangat deras, dan kini sudah mulai berubah menjadi gerimis. Jika ia berlari keluar gerbang kampus, pasti tubuhnya akan kuyup dalam hitungan detik saja. 


Meski jurusan Afsa dan Elnara sama, namun mereka berlainan kelas, sehingga Elnara tidak melihat keberadaan Afsa. Awalnya Afsa memilih untuk mengambil jurusan yang berbeda dengan jurusan yang diambil Elbara, namun saat tahu jurusan yang diambil Elnara, Afsa pun pindah haluan. Selalu saja pilihan Elnara diikuti oleh Afsa. 


"El, aku duluan!" Salah seorang teman yang juga menunggu hujan reda berpamitan.


Elnara mengangguk dengan senyum. Kelas sudah sunyi. Entah kenapa Elnara merasa lebih nyaman berada di ruangan sunyi itu. Menyendiri dan menikmati sepi. Jarang- jarang momen sepi begini ada di kehidupannya. Di saat begini, ia bebas berangan- angan, berkhayal dan memikirkan apa saja yang menurutnya menyenangkan.


Ting.


Sebuah chat masuk ke hp nya. Ia mengambil hp dari dalam tas dan mengusap layar. Sebelum sempat melihat isinya, ia sudah bisa melihat nama pengirim. Emir.


Elnara tersenyum tipis menatap nama itu.


‘Kalau pulang sekalian belikan vitamin C.’


Sebelum sempat Elnara membalas, sudah muncul chat baru lagi dari nama yang sama.


‘Jangan menunggu Hamish.  Hamish tidak bisa menjemputmu, dia tugas ke luar kota.  Kamu pulang naik taksi saja.’


“Hei, siapa juga yang menunggu Hamish?  Aku telat pulang karena menunggu hujan reda,” gumam Elnara.  


Mungkin Emir sekarang sedang di rumah.  Dan ia menyadari bahwa Elnara telat pulang dari kampus sehingga mengira Elnara menunggu jemputan dari Hamish.  Biasanya kan Hamish yang menjemputnya pulang.

__ADS_1


Elnara melangkah keluar kelas.  Langkahnya gontai menapaki lantai koridor.  Pandangannya tertuju ke tetes- tetes air dari langit yang sudah mulai menipis.  Inilah saatnya pulang.


Sunyi.


Hanya langkah kaki Elnara saja yang terdengar mengisi kesunyian.


Baru saja Elnara menapakkan kaki menjauhi teras lantai satu dengan mengangkat tangan ke atas untuk menutupi wajah dari rintik hujan, baju punggungnya ditarik ke belakang hingga tubuhnya kembali mundur.


Elnara terkejut.  Siapa yang masih tertinggal di gedung ini dan kini menariknya sedemikian rupa?  Bukankah Elnara hanya tinggal sendirian saja di sana?  Eh, rupanya ada orang lain juga yang belum pulang selain dia.  


“Lepas!”  Elnara memberontak.  Namun rambutnya yang ditarik paksa bersamaan dengan punggung baju membuatnya tak berkutik hingga terus terseret mundur mengikuti tarikan orang itu.  


Bruk.


Tubuh Elnara membentur lantai saat dilempar di toilet.


Gadis itu menyilangkan tangan di dada.  “Fuck you!”


“Afsa, aku ini saudaramu!  Kenapa kamu lakukan ini ke aku?”  Elnara berseru keras.


“Kenapa kamu pertanyakan itu, hm?  Aku muak melihatmu menjadi keren, aku muak melihatmu berbahagia bersama dengan Emir.”  Afsa berjalan mengelilingi tubuh Elnara.  “Aku ingin seperti kamu.”


“Perasaan iri yang kamu biarkan berkembang biak, inilah yang mengakibatkan kamu menjadi sedih dan hancur sendiri.  buang perasaan dengki mu itu!  Aku ini saudaramu, bukan sainganmu.”


“Stop!”  Afsa jongkok, ia meraih rambut Elnara dan menjambaknya hingga kepala Elnara mendongak mengikuti tarikan tangan Afsa.  “Kalau aku menginginkan posisimu, apa kamu mau menyerahkannya ke aku, hm?”

__ADS_1


“Enggak.  Aku punya hak atas kehidupanku.  Setelah semua yang kumiliki dan kamu sukai selalu aku serahkan ke kamu, kali ini enggak.  Aku nggak mau mengorbankan apa- apa lagi.  Semakin aku berkorban untukmu, semakin kamu nggak mengerti caranya menghargai aku sebagai saudaramu.  Kamu ngelunjak dan menganggap aku takluk.”


Entah kenapa Afsa terlihat begitu membenci Elnara, yang ada di pikirannya hanyalah rasa iri dan dengki.  Segala kenikmatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh Elnara membuatnya merasa sangat ingin memilikinya.  


Afsa kemudian memukul Elnara di lengan.  Tak hanya itu, dia pun bangkit berdiri dan menendang pinggang Elnara.  


Elnara hendak melawan.  Namun belum sempat bangkit, ia sudah mendapat tendangan lagi hingga jatuh menelungkup.


Afsa membabi buta, padahal Elnara sudah terkapar dan kesakitan tak berdaya akibat tendangan yang sangat keras, namun Afsa masih terus memburu.  Memukuli dan menendang badan Elnara yang sudah dalam keadaan tersungkur merasakan sakit yang luar biasa.  Ia ingin melawan, namun rasa sakit telah membuatnya kesulitan bergerak hingga yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mengangkat kedua tangan untuk melindungi diri dari tendangan kaki Afsa.


Sambil menendang dan memukul, Afsa terus mengumpat. “Fuck you!  Anj*g!  Terkutuk!”


Kata- kata kotor terus dia luncurkan.  Hingga saat tenaganya terkuras, keringat membanjir di sekujur tubuh, ia sedikit menunduk, membungkuk dengan napas ngos- ngosan seperti orang barusan lari marathon. 


Tangannya menjulur menyalakan keran di atas westafel.  Telapak tangannya menampung air dan menyiramkan air tersebut ke muka berkali- kali.


Elnara ngesot, bergerak mendekati Afsa.  Ia sebenarnya ingin bangkit bangun, namun rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya tak bisa bergerak.  Kekesalan membuatnya ingin melakukan apa saja terhadap Afsa.  


Mulut Elnara mangap seperti melihat roti ketika menatap kaki Afsa.  Lalu dengan gigitan yang sangat kuat, ia menggigit pergelangan kaki Afsa.  


Jeritan Afsa membahana merasakan sakit oleh gigitan Elnara.  Ia menarik kakinya berusaha melepaskan diri dari gigitan itu.  namun makin ditarik, rasanya justru semakin sakit karena gigitan Elnara malah semakin kuat.  


Afsa terus menjejak- jejakkan kakinya sambil menariknya untuk menjauh.  Akhirnya pergelangan kakinya itu berhasil terlepas dari gigitan Elnara.


“Brengs*k!  sialan!  Sakit!”  Afsa hendak menghadiahi tendangan kepada Elnara yang masih di posisi menelungkup di lantai, namun kaki itu hanya terangkat di udara saat melihat kedua tangan Elnara yang terangkat ke udara, siap untuk menangkap kaki Afsa.

__ADS_1


Tak mau mengambil resiko, Afsa memilih mundur.  Ia kemudian keluar, menutup pintu.  Membiarkan Elnara terbujur lemas di lantai toilet.


***


__ADS_2