GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Ular


__ADS_3

“Hah?  Ular?”  Emir berteriak keras sambil melompat, memundurkan badan.


Elnara sontak terkejut.  Melompat cepat sambil menjerit ketakutan.  Belum hilang rasa takut gara- gara para preman itu, malah muncul ketakutan baru.  Sungguh menyebalkan!


Entah dimana Emir melihat ular, Elnara belum sempat melihat, yang jelas ia kabur duluan.  


“Mana ularnya?  Mana?”  elnara menatap wajah Emir yang sangat dekat dengan wajahnya.  Entah bagaimana wajah mereka bisa sedekat ini?  


Oh… Elnara baru menyadari bahwa ia sekarang di posisi menempel di badan Emir.  Persis seperti cicak jatuh dari atap.  Kedua lengannya melingkar di leher Emir erat, dengan kedua kaki yang juga melingkar di pinggang pria itu.  


Ya ampun, posisi ini buruk sekali.


“Maa ularnya?” jerit Elnara panik, tak mau mengubah posisinya itu.


Anehnya, Emir malah tersenyum.  Menampilkan wajah tak berdosa.


Eh, tunggu dulu, Elnara baru sadar satu hal, bagaimana mungkin di kamar kedap udara yang dipastikan aman dari binatang buas itu bisa dimasuki ular?


“Kamu nge prank aku?” Elnara nyaris seperti orang bodoh.


“Mukamu lucu saat ketakutan begitu.”


“Pembohong!”  Elnara kesal bukan main.  Ia mendorong dada Emir dan menjauhi pria itu.  perasaannya sedang kalang kabut dan Emir malah ngerjain.


“Hei, kok marah?  Kupikir kamu akan tertawa.”  Emir makin bingung.


“Ini waktunya nggak tepat untukmu berbuat hal konyol begini.”  Elnara kesal bukan main.  Air matanya kembali merembes.


Huh, betapa ia kesal, batinnya sedang tidak nyaman, sedih dan trauma, tapi Emir bisa- bisanya berbuat hal konyol disaat yang tak tepat.  Ini menyebalkan sekali, bikin dada semakin sesak.  Kekacauan di benaknya makin menjadi- jadi.


Emir bangkit berdiri, kini tepat berdiri di hadapan Elnara.  “Kau istirahat aja dulu kalau begitu.”

__ADS_1


Elnara memalingkan wajah.  Apakah begini rasanya menikah dengan orang yang tak dicintai?  Pernikahan itu terjadi di atas kata nikah paksa, Elnara pun menjalani dengan penuh keterpaksaan.  Dan akhirnya sekarang ia merasa kesal sekali saat mendapat perlakuan tak menyenangkan.  Padahal Emir tadi sudah menjadi pahlawan untuknya dengan mempertaruhkan nyawa melawan tiga preman beringas itu, tapi Elnara malah sewot begini.


Elnara kesulitan membuang perasaan ego itu.  Tatapannya kemudian tertuju ke lengan Emir yang terluka, juga celana pria itu yang sobek, kulit paha pria itu tergores dan tampak bercak darah di dalamnya.  Bahkan wajah Emir pun lebam di bagian sudut bibir. 


Emir melangkah menuju pintu hendak keluar.


“Tunggu!” seru Elnara membuat langkah Emir terhenti.


“Kamu terluka, biar aku obati.”


“Tidak perlu.”  Emir kembali memalingkan wajah.


“Biar aku obati.”  Elnara memaksa.  Ia meraih lengan Emir dan menarik pria itu kembali ke kamar.  


Dengan cekatan, Elnara mengobati luka di lengan Emir, juga paha pria itu.


“Afsa itu siapa?  Dia serupa dengan wajahmu.  Aku hampir tidak bisa membedakan antara kau dan dia.  Kalian hampir tidak memiliki perbedaan.  Identik.  Dia itu kembaranmu?” tanya Emir.


“Ya,” singkat Elnara dingin.


Elnara menekan jempolnya ke paha Emir hingga pria itu meringis.  Entah kenapa ia tak rela Emir memperburuk nama Afsa meski sebenarnya Afsa itu memang jahat.  Elnara tak ingin kembarannya dijelek- jelekin.


“Kamu tidak rela kalau nama kembaranmu itu dijatuhkan, hm?” 


Elnara tak menjawab.  Dia sibuk mengobati luka Emir.


“Dia menurunkanmu di jalan dan melepas pakaianmu supaya dia bisa memakai pakaianmu.  Dia muncul ke hadapanku sebagai Elnara.  Dia sangat mirip dengan wajahmu.  Dia memakai kalungmu.  Memakai pakaianmu.  Tak ada yang bisa membedakan.  Dan aku benar- benar mengira dia adalah kamu.  Lalu kamu tahu apa yang dia lakukan?  Tentu kamu tahu apa yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya kan?”


Elnara terkejut mendengar pernyataan itu.  “Maksudmu?”


“Dia mendampingi aku sebagai Elnara di hadapan tamuku.  Lalu dia menemani aku tidur.”

__ADS_1


Kotak obat yang dipegangi dengan satu tangan oleh Elnara pun terjatuh.  Jantungnya seperti tersengat.


Emir melirik Elnara yang kelihatan gusar.


“Apakah wanita yang rela melepas pakaiannya sendiri untuk pria yang bukan suaminya itu tidak pantas untuk dikatakan menjijikkan dan rendahan? Bahkan dia sampai memberikan permen per*ngsa*g demi bisa ditiduri olehku.  Ini menjijikkan sekali,” ucap Emir dengan tatapan nanar.


Elnara terdiam.  Hatinya kebas.  Makin panas jadinya.  Belum kelar kekacauan yang ada, malah tambah panas jadinya.


“Jangan membela wanita itu.  dia tidak pantas disebut saudara.  Saudara tentu tidak akan menjatuhkan saudaranya sendiri, apa lagi sampai merendahkan harga dirinya dengan menyerahkan keperawanannya kepada suami saudaranya.”


Tubuh Elnara mendadak terasa lemas.  Ia terduduk di sisi kasur. Ada rasa tak terima jika Afsa dan Emir melakukan hubungan yang tak seharusnya.  “Jadi… Kalian melakukannya?”


Emir diam saja.  ngetes.  Apa reaksi Elnara saat mengira dirinya melakukan hubungan dengan Afsa.


“Jawab, Emir!  Apa kalian melakukannya?”


Melihat Elnara yang panik, emir tak tega juga.  Ia lalu menggeleng.


“Lalu bagaimana kamu bisa bilang kalau Afsa itu perawan?” tanya Elnara dengan raut gelisah.


“Aku tidak mengatakan begitu.”


Kamu tadi bilang Afsa bersedia menyerahkan keperawanannya, berarti kamu tahu kalau dia perawan.”


“Iya.  Soalnya hampir saja terjadi dan aku cepat menguasai diri.  Aku berusaha menghindarinya.”


“Sungguh?”


“Kamu takut kalau aku menyentuh dia?  Kamu cemburu?”


Elnara gelagapan.  “Enggak.  Bukan begitu.  Tapi kalian kan bukan suami istri.  Jadi nggak boleh berbuat apa pun.  Aku juga nggak mau Afsa sampai berbuat nekat begitu padamu.  Tapi bagaimana kamu bisa sadar bahwa Afsa bukanlah aku?”

__ADS_1


“Jarimu terluka.  Ini luka baru kemarin dan masih basah.”  Emir mengangkat jari Elnara yang sampai detik ini masih dalam keadaan terluka akibat pecahan gelas kemarin.  “Tapi saat aku memasangkan cincin untuk Afsa, aku tidak melihat luka di jarinya.  Sikap Afsa juga berbeda darimu.  Dia terlihat ugal- ugalan.  Dia juga tampak takjub saat masuk ke toko perhiasan yang pernah kita datangi bersama- sama.  Dia seperti baru pertama kali memasuki toko itu.”


Bersambung


__ADS_2