GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Bukan Kepribadian Ganda


__ADS_3

Emir berlalu dan menutup pintu. 


Elnara tidak tahu harus merasa lega atau sebaliknya. Ia lega karena Emir akhirnya meninggalkannya begitu saja, namun ia juga cemas karena Emir mengatakan akan mencari tahu sendiri pelaku yang menganiaya Elnara. Jika sampai Emir menemukan nama penganiayanya, bisa jadi Afsa akan tertimpa hal- hal yang tak diinginkan, Elnara tentu tak ingin hal itu terjadi. 


Emir itu kan kejam, entah apa yang akan dilakukan pria itu saat mengetahui pelakunya. Huh, jangan sampai!


Elnara keluar kamar setelah mengenakan pakaian. Ia menuju ruang makan, perutnya lapar sekali. 


Tidak ada makanan yang tersaji. 


Tumben. Apakah Yuni tidak memasak? Eh, Elnara melupakan sesuatu, Yuni diskors. Tentu saja tidak akan ada makanan meski menunggu sampai jamannya kucing mengeluarkan tanduk. 


Dalam keadaan badan yang ngilu dan sakit- sakit, Elnara memasak. Ia membuat makanan yang simpel saja. Memanfaatkan bahan yang ada di lemari dan kulkas. Bakso, sosis, telur dan kue tiaw dijadikan mie goreng. 


Sebentar saja, hasil masakan pun telah siap tersaji. Ada empat porsi, untuk Elnara, Emir, Yona dan Cindy. 


Elnara mencari penghuni rumah ini untuk mengajak mereka makan, tapi Emir tak ada. Pria itu pergi entah kemana, sepertinya Emir serius ingin mencari tahu tentang pelaku penganiayaan itu.

__ADS_1


Elnara menemukan Yona di kamar. "Ma, kita makan yuk!"


Elnara sudah mulai terlihat leluasa menghadapi mertuanya. Jika dulu ia membenci dan tak menyukai wanita itu, kini sudah tidak lagi. Ada rasa sayang yang muncul di hatinya untuk sang mertua. 


"Okey. Kita makan. Eh, tapi kan Yuni tidak ada. Jadi siapa yang masak? Apa kita pesan makanan saja? Tinggal pesan dan kang ojol datang mengantar makanan, bagaimana?" Yona tersenyum lebar.


"Aku udah masak, Ma. Tapi cuma masak mie aja. Soalnya mau masak yang simpel. Mama mau nggak makan mie?"


"Looh... Ya mau dong. Udah dimasakin kok, pasti mama makan. Ayo, kita makan." Yona melenggang menuju ruang makan.


"Haloo... Cindy! Ayo, kita makan malam!" ajak Elnara dengan senyum lebar, ramah sekali. Sebisa mungkin ia menampilkan ekspresi paling manis untuk mengambil hati anak itu.


Cindy yang tengah memain kan hp dengan posisi menelungkup di kasur itu mendadak duduk. Ia menatap Elnara. Tidak ada sahutan darinya, malah hanya menatap seperti sedang menilai- nilai.


"Hei, kenapa malah bengong? Ayo makan! Aku udah masakin mie untukmu." Elnara masuk, mendekati Cindy.


Melihat senyum cerah di wajah Elnara, Cindy kemudian bertanya, "Apa benar kamu itu punya kembaran? Oma bilang begitu."

__ADS_1


Elnara terdiam sebentar hingga akhirnya ia mengangguk. "Namanya Afsa. Dia sangat mirip denganku. Dia lahir ke dunia lima belas menit sebelum aku lahir. Banyak yang bilang bahwa mereka sulit membedakan kami. Wajah kami serupa. Tapi sekarang kamu bisa membedakan antara aku dan dia selagi luka di jariku ini masih ada. Nih, belum hilang." Elnara memperlihatkan luka bekas terkena pecahan gelas di jemarinya.


Cindy mengangguk. "Apakah dia pernah mendatangi rumah ini sebelumnya?"


"Ya."


"Aku sempat beranggapan bahwa kamu itu memiliki kepribadian ganda. Sebentar berubah dan sebentar berubah lagi." Cindy tampak mulai terlihat nyaman bercerita. Jika biasanya ia tampak sinis dan muak setiap kali melihat Elnara, namun kini ia tampak lebih baik dalam berkata- kata. 


"Memangnya perubahan seperti apa yang kamu lihat?"


"Kemarin kamu datang ke rumah ini dan marah- marah padaku saat kita bertabrakan. Kamu memakiku, mengataiku anak pungut, mengataiku setan dan bahkan memukulku. Papa nggak percaya ketika aku menceritakannya. Dia bilang kamu adalah wanita yang lembut, mustahil bisa kasar dan kejam. Bahkan aku sendiri pun nggak percaya kamu bisa sekejam itu waktu itu."


"Aku pastikan itu bukan aku. Pasti itu Afsa. Aku nggak akan pernah menyakitimu. Aku ini ibumu. Aku dipilih oleh ayahmu untuk menjagamu. Dan aku akan lakukan itu." Elnara mengusap pucuk kepala Cindy, menyalurkan kasih sayang itu melalui sentuhan tangannya. Ia tak mau kehilangan kepercayaan Cindy. Bocah itu harus menyadari kasih sayang Elnara.


Tatapan Cindy kini sudah mulai teduh, tak ada tatapan kebencian. Inilah kekuatan kasih dayang, yang mampu meruntuhkan kebencian dan kemarahan dengan kata- kata dan bahasa kelembutan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2