GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Bikin Iri


__ADS_3

Bersama dengan Afsa, Elnara duduk di kursi belakang mobil milik Emir.  Mereka hendak berangkat ke kampus bersama- sama.  Elnara menghampiri Afsa ke rumah Linol, mengajak Afsa berangkat ke kampus barengan.


Setelah sekian purnama mereka tak pernah bersama- sama begini, sekarang mereka tampak sangat dekat sekali.  Duduk berdua, bercanda.  Terdengar suara tawa riang.


Emir yang mengemudikan mobil, tampak konsentrasi menyetir.  Meski begitu, telinganya fokus mendengarkan perbincangan antara Afsa dan Elnara.  Keceriaan keduanya membuat Emir merasa senang, namun terselip kecemburuan.  Semenjak Elnara dekat dengan Afsa, istrinya itu jadi lebih sering meluangkan waktu untuk Afsa.  Dan lihatlah, sekarang pun Elnara lebih memilih duduk di belakang bersama dengan kembarannya itu.  Tapi tak masalah, Emir menyukai pemandangan itu meski harus menahan kecemburuan karena ia tersisih.


Cindy duduk di sisi Emir mengenakan seragam sekolah.  Ia menjilat es krim dengan kilat, secepatnya menghabiskan makanan yang bisa saja membuat seragamnya menjadi kacau.


“Aku nggak secantik kamu sekarang.”  Afsa menatap wajahnya melalui cermin kecil yang selalu dia bawa di tas.  Tragedi satu bulan yang lalu membuat wajahnya tampak sedikit berubah, agak tirus dan membuat tulang pipinya pun tak sama seperti dulu.


“Cantik itu relatif.  Kalau menurut Emir, pasti akulah wanita paling cantik sedunia,”  Elnara menunjuk Emir dengan mengangkat dagu.  


Pria itu melirik istrinya dengan lirikan aduhai, seakan mata mereka berkomunikasi satu sama lain.


“Dan percayalah, di mata suamimu kelak, pasti kamulah wnaita paling cantik.  Hihiiii…”  Elnara tertawa kecil.


“Mata itu kan nggak bisa bohong.  Apa yang dilihat, pasti akan terlihat sama.  Kalau jelek, ya tetap jelek.  Dan kalau cantik, pasti akan terlihat cantik juga.”  Afsa nyengir.


“Kenapa pada heboh ngomongin kecantikan sih?”  Cindy menyeletuk, ikut nimbrung.  “Bukannya udah pada cantik semua?”  Cindy menoleh ke belakang, menatap dua wanita yang memang memiliki kecantikan yang luar biasa.  


Elnara tersenyum saja.


Sedangkan Afsa mengedikkan pundak.


“Kalau dilihat dari sifatnya, Tante Afsa ini pasti jodohnya laki- laki galak.”  Cindy menyeletuk lagi, tatapannya tertuju pada Afsa.


“Hei, jangan sembarangan!  Jodohku itu ustad!”  Afsa sok galak.  Kali ini kegalakan yang diwarnai canda tawa.


Cindy terkekeh.


Suasana bahagia itu terasa kental dan menyenangkan, membuat seisi mobil tak henti diwarnai dengan tawa.  Indonesia terasa damai kalau begini.  

__ADS_1


Sesampainya di sekolah Cindy, mobil berhenti dan menurunkan Cindy di sana.  Bocah itu berlari memasuki gedung sekolah setelah melambaikan tangan.


“El, kamu kalau mau pindah duduk ke depan juga nggak apa- apa, kok.”  Afsa menunjuk kursi di sisi kemudi, tepatnya di sebelah Emir.


“Enggak.  Aku di sini aja.”  Elnara menolak.


“Nggak mau temani suami?” tanya Afsa.


“Bukannya nggak mau.  Tapi kan kalau temani suami bisa kapan aja, sedangkan temani kamu hanya sesekali.”


Mobil kembali melaju.  Kali ini tujuannya ke kampus.  Emir cukup mendengarkan saja pembicaraan Afsa dan Elnara di belakang tanpa menanggapi.  Dua bersaudara itu tampak asik mengobrol seperti telah lama tak bertemu, seperti baru kali ini bercengkrama.


“Jadi menurutmu menikah itu enak nggak?” tanya Afsa.


“Tergantung dengan pernikahannya.  Kalau menikah dengan orang yang tepat, apa pun kejadiannya, pasti enak.”


“So, kamu menikah dengan orang yang tepat bukan?”  Afsa melirik ke arah Emir.


Elnara hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.  Afsa pasti sudah mengerti dengan arti senyumannya itu.


Emir menghentikan mobil di depan gerbang kampus.


Afsa segera turun.  Menyusul Elnara yang juga turun.  Elnara menghampiri Emir, menatap suaminya melalui kaca yang sudah dalam keadaan dibuka.


“Aku ngampus dulu.”  Elnara berpamitan.


“Ya.  Hati- hati.  Nanti supir yang jemput kamu.  Aku ada pekerjaan.”


“Elnara mengangguk dengan senyum.  “Malam pulang kan?”


“Ya, pulang.  Kenapa?”

__ADS_1


“Mau makan malam bareng.”  Elnara tersipu.  Berasa agresif begini jadi istri.  Apa- apa memulai duluan.


“Makan dimana?” tanya Emir.


“Di rumah aja.”


“Begini saja, kamu siap- siap nanti malam, aku jemput kamu jam tujuh.  Kita makan di restoran.”


“Serius?”  Elnara senang sekali.


Emir mengangguk.


“Sama Cindy juga?” tanya Elnara polos.


Langsung muncul kerutan di kening Emir.  “Tidak.  Berdua saja.”


Elnara lalu menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu penuh takzim. Emir menahan kepala Elnara sebelum kepala itu bangkit.  Pria itu mendekatkan kepala Elnara dengan cara meraih kepala itu dan memegangi belakang kepala dan menariknya supaya mendekat, lalu mengecup singkat pipi dan kening wanita itu.


 Kehangatan itu disaksikan oleh beberapa mahasiswa lainnya, yang turut iri menyaksikannya.  Jadi kepingin cepat- cepat nikah.


Demikian pula Afsa yang seperti terhipnotis untuk  turut tersenyum menyaksikannya.  Dia menunggu Elnara di dekat gerbang dengan bibir tersenyum lebar sekali.


Elnara melambaikan tangan pada Emir, membiarkan suaminya berlalu pergi.  Barulah ia balik badan, memasuki gedung kampus beriringan dengan Afsa.  


TAMAT


Setelah ini ikuti kisahku di F yang warna putih orange dengan judul :


Ibuku Disia- siakan Anaknya


Akan update mulai tanggal 1 Maret 2023

__ADS_1


Siapin tisu dan kebalkan hati saat membaca kisah hebat ini.  Baca gratis.  Cuss..  Sampai jumpa.


__ADS_2