
Hamish menunduk ketika tatapanya bertemu dengan mata bulat Afsa.
Elnara prihatin melihat kondisi Afsa yang mengenaskan. Bahkan sebagian wajahnya pun dibalut perban setelah menjalani operasi kulit akibat kerusakan yang parah. Setelah ini, wajah Afsa pasti akan terlihat berbeda dari wajah Elnara, mereka tidak akan memiliki wajah kembar identik lagi.
Air mata Afsa menetes- netes dari kedua sudutnya.
Elnara bingung, maksud dari tangisan Afsa itu apa? Apakah Afsa merasa sedih atas kejadian yang menimpanya sehingga ia kini terbaring lemah di sana, ataukah ia takut pada Hamish yang merupakan pelaku penganiayan itu, ataukah Afsa merasa tak berdaya melihat kondisinya sendiri? Ataukah apa?
“Afsa!” Elnara kembali memanggil Afsa.
“Mungkin ini yang dinamakan azab?” Afsa berkata lirih.
Oh… rupanya Afsa sedang merasa sedih menganggap dirinya sedang ditimpa azab.
“Aku udah dengar semuanya! Aku mendengarpercakapan kalian semua.” Afsa berbicara dengan suara lirih sekali.
Semuanya bertukar pandang.
“Aku sudah menganiaya kamu dan kemudian aku dianiaya orang lain separah ini,” sambung Afsa. “Balasan itu kontan. Aku capek. Aku lelah menuruti nafsuku sendiri, merasa kesal melihatmu senang, merasa marah melihatmu bahagia.”
“Udah. Yang penting sekarang kamu harus sembuh.” Elnara menguatkan, mengusap punggung tangan Afsa.
__ADS_1
“Apa kamu nggak muak melihatku, El? Aku terlalu jahat padamu.” Tatapan mata Afsa sayu.
“Kita saudara. Kembar lagi. Ikatan darah itu lebih kental. Aku nggak bisa marah padamu.”
“Apa kamu masih menganggap aku saudara?”
Elnara mengangguk.
Afsa balas menggenggam jemari Elnara sehingga tangan mereka bertaut. Situasi itu tak pernah terpikir oleh Elnara sebelumnya. Mereka bisa sedekat ini. Sangat dekat.
Bahagia sekali Elnara bisa bergenggaman tangan begini dengan Afsa. Momen ini sudah dia tunggu sejak lama.
"Enggak. Kamu tetap cantik."
"Wajahku masih dibalut perban, kamu belum lihat wajahku, bagaimana bisa bilang cantik? Ini wajahku tegang sekali rasanya." Afsa meraba bagian pipi yang ditutup perban.
Kemarin, Elnara melihat wajah itu memang hancur, entah bagaimana sadisnya penganiayaan itu sampai akhirnya terjadi. Tapi mungkin memang beginilah cara Tuhan membuat Afsa menjadi insaf, di balik peristiwa sadis yang mengenaskan itu, ada hikmah besar yang membuat Afsa menyadari kesalahannya.
Di balik kekhilafan dan kesalahan Hamish, memberi peluang besar pada Afsa untuk menjadi gadis yang lebih baik.
Beberapa kali Hamish tampak menunduk, mengusap wajah dan menghela napas berat. Dia tampak sangat menyesali perbuatannya.
__ADS_1
“Aku akan menjadi jelek,” lirih Afsa lagi, merasa takut tidak cantik lagi. “Aku juga nggak akan memiliki wajah serupa denganmu lagi.”
Elnara mendekatkan wajahnya ke wajah Afsa. Dia menatap haru. “Afsa, hidup itu kan bukan sekedar untuk memperlihatkan kecantikan kepada semua orang, hidup itu untuk berbagi kebaikan, yang nantinya kebaikan itu akan menjadi milik kita.”
Afsa hanya diam. Manik matanya berputar, hingga akhirnya pndangannya bertemu dengan mata Emir. “Iya, kamu benar. Aku selama ini jahat banget ya?”
Elnara menggeleng pelan. Iya, memang jahat banget. Tapi demi kebaikan, mendingan menggeleng saja deh. Afsa harus dihibur.
“Emir, maafkan aku. Aku sudah memberi racun pada makanan Cindy waktu itu hingga Cindy masuk rumah sakit, aku sudah merusak dokumenmu, aku sudah memukul Cindy dan memaki- maki dia,” lirih Afsa hampir seperti bisikan.
Emir menatap saja tanpa memberikan jawaban, Emir tidak perlu berbasa basi untuk mengatakan bahwa ia menerima permintaan maafnya Afsa. Cukup diam, semua orang sudah bisa membaca ekspresi wajahnya.
“Hei hei, jangan menangis!” Elnara mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata kembarannya itu. Usapannya lembut dan membuat Afsa malah makin nangis kejer.
Melihat tangisan Afsa yang pecah, Elnara menjatuhkan kepalanya di pundak Afsa. Berusaha menyalurkan kehangatan dan bahasa kasih sayang. Satu lengan Afsa yang tanpa infus merangkul punggung elnara.
Mata Emir berembun menyaksikan keharuan itu. Sepasang saudara kembar yang biasanya tak pernah akur, kini berpelukan. Ini pemandangan langka. Padahal Emir bukanlah pria lemah, dia terbiasa dengan kehidupan yang keras, tapi kok bisa- bisanya melihat pemandangan itu jadi baper?
***
Bersambung
__ADS_1