GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Keharuan


__ADS_3

Muka Cindy mendadak berubah, memerah, kecewa dan tampak bingung.  “Jj jadi… aku ini anaknya siapa?  Aku orang asing di sini ya?  Berarti benar apa kata Tante Afsa bahwa aku ini anak pungut?  Aku bukan siapa- siapa di sini.”  Air mata Cindy langsung deras berguguran.  Tanpa suara tangis.


Melihat reaksi itu, Emir semakin mempererat genggamannya di tangan Cindy.  “Jangan berkecil hati.  Meski kita tidak ada ikatan darah, tapi kamu tahu kan sejak awal kalau papamu ini sangat menyayangimu?  Papa juga membawa Mama El kemari untuk membuatmu merasakan kasih sayang yang lengkap, jadi jangan anggap mama El sebagai musuh, tapi jadikan teman, sahabat, ibu dan orang terdekatmu.”


 “Papa belum jawab pertanyaanku, aku ini anaknya siapa?”


“Papa pun tidak tahu.  Kamu ditemukan di jalan saat baru lahir.  Masih merah.  Papa menemukanmu dan membawamu pulang.  Kalau orang tuamu saja tidak menginginkanmu, untuk apa aku mencari mereka?  Akulah yang ingin membesarkanmu tidak peduli siapa orang tuamu, apa asal usul mereka, yang penting kamu hidup terjamin.”


Cindy termenung sambil mengusap air mata.  “Ternyata kehidupan indah ini bukanlah milikku.”


“Siapa bilang?  Kamu di sini, hidup di sini, tinggal di sini.  Tentu semua ini untuk kesenangan dan kebahagiaanmu juga kan?” imbuh Elnara berusaha menghibur.  “ada atau pun tak ada ikatan darah diantara kita, tapi kita tetap saling menyayangi.  Itulah yang paling penting.  Ada pun ikatan darah, jika malah saling bermusuhan, maka itu akan lebih menyakitkan.  Contohnya saja aku dan tante Afsa.”


Cindy masih tampak berkecil hati.  Kesombongannya yang merasa memiliki seorang ayah kaya, ternyata salah.  Ia bukan siapa- siapa di keluarga itu.


“Pasti aku ini anak haram yang nggak diinginkan ibuku lahir,” celetuk Cindy.


“Jangan pikirkan masa lalumu.  Sulit untuk dicari jejaknya, kita hanya perlu menatap masa depan,” imbuh Emir.  “Selama ini papa menyayangimu tulus bukan?  Itu membuktikan bahwa papa tidak mengucilkanmu.  Kalau papa tidak sayang, tentu papa tidak mau mengambilmu dan membesarkanmu sampai sebesar ini.”


“Ayolah, jangan memikirkan masa lalu.  Masa depanmu lebih penting.  Siapa pun statusmu di sini, yang terpenting kami menyayangimu.”  Elnara tak kalah mengimbuhi.


Melihat dukungan kedua orang tua angkatnya, semangat Cindy pun tumbuh lagi.  Ia akhirnya tersenyum kecil.


“Ya sudah, pergilah sekolah.  Nanti kamu terlambat,” ucap Yona dengan senyum.  Ia mengusap pucuk kepala Cindy.

__ADS_1


Bergegas Cindy bangkit berdiri.


“Hei, tidak minta uang jaja?”  Emir tersenyum.


Cindy mengangguk.


Emir mengambil uang dan memberikannya kepada Cindy.


“Makasih, papa.”  Cindy berlalu pergi.


“Ya sudah, mama pun mau pergi.  Sudah ditunggu teman.”  Yona melenggang.


“Aku mau cuci piring.”  Elnara menarik pring kotor.


Beginilah enaknya punya suami perhatian.  Dia tidak membabukan istri, tidak mau istrinya bekerja mengurus rumah.  


“Emir, kenapa kamu nggak bilang sejak awal ke aku kalau sebenarnya Cindy itu bukan anakmu?” 


Emir memiringkan badan hingga sedikit menghadap ke arah Elnara.  “Kurasa itu tidak begitu penting.”


“Kamu mau menguji aku?”


“Ada juga niat begitu.”  Emir mengangguk kecil.

__ADS_1


“Kamu mau tahu apakah aku akan tulus meski kamu seorang duda?”


“Setidaknya aku ingin wanita baik di sisiku.  Dan aku yakin kamu adalah pilihan yang tepat.  Sejak awal, sejak pertama kali aku melihatmu menangisi ayahmu saat kecelakaan itu terjadi, aku sudah menginginkanmu.  Aku mengatur kondisi supaya bisa menikahimu, wanita yang ternyata ibunya adalah orang yang memiliki hutang besar terhadapku.”


Elnara sudah mendengar kisah itu dari Hamish.  Ia tidak kaget lagi dengan kalimat itu.  


“Aku sudah menginginkanmu sejak lama,” imbuh Emir lagi.  “Aku ingin ketulusanmu.  Dan aku yakin kamu orang yang tepat saat melihatmu begitu tulus merawat aku, seorang duda cacat.  Meski kamu menganggapku pelaku yang telah menyebabkan ayahmu meninggal, tapi kamu tetap merawat aku dengan baik.  Aku mencintaimu, elnara.”


Senyum Elnara mengembang.  Ia membiarkan saja ketika Emir mengangkat tangannya dan mencium punggung tangannya itu.


Srrrr… 


Darah di tubuh Elnara terasa menghangat ketika bibir Emir mendarat di punggung tangannya.


“Kita temui ibumu dulu, ya.  Kita bicarakan masalah Afsa bersama- sama,” ajak Emir.


“Kamu mau temani aku untuk menemui ibu?”


“Iya.  Tidak apa- apa kan?”


“Baiklah.”


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2