
Hpku berdering.
"iya Viona": kataku.
"udah ada no mamanya Irene dan dah ditelpon paling cepet datangnya pagi pagi soalnya diluar kota rumahnya": kata Viona
"haduh ntar malem ini yg nungguin siapa": kataku.
"kaka lah kalo nolong jangan tanggung": kata Viona
"yeeee besok kan ada kuliah pagi Intan aja ": kataku
"ya kaka sama ka intan nungguinnya sampe mama Irene dateng": kata Viona.
"ya mo gimana lagi ": kataku.
"Aku kerumah sakit lagi": kata Viona.
Aku bingung belum pernah mengalami hal seperti ini. Tak lama kemudian Viona dan Intan datang.
"kaka tunggu disini yah sampe keluarga Irene datang": kata Viona
"ya udah tapi kamu bolehin aku nunggu Irene": kataku
"kalo untuk nolong boleh kalo selingkuh ga boleh": kata Viona
"kamu baik deh Viona":kataku.
"ka aku balik dulu papah dah telpon ini aku udah bawa makanan sama minuman buat malem ini ada baju hangat punya papa di mobil pake kalo malam kan dingin jaket kaka aku bawa nanti aku ke laundry": kata Viona
"Iya hati hati salam buat papah": kataku.
Viona mencubitku pelan lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Begitu perhatiannya Viona padaku.
"Viona dah jadian sama kamu?": kata Intan
"iya baru beberapa hari yang lalu": kataku.
"dia baik aka jangan kamu kecewain dia": kata Intan.
Kami duduk terdiam. Aku kaget tanpa tau kapan ada anak kecil berdiri didepanku menatapku kosong. Aku bingung apa mau anak kecil ini. Lalu anak kecil ini menarik tanganku untuk mengikuti anak itu. Anak itu menarik ku hingga didepan suami istri setengah baya. Mereka seperti kebingungan.
"Ada apa bapak ibu koq seperti kebingungan": kataku.
__ADS_1
"Ini dek anak kami kekurangan darah kami udah ngehubungi PMI tapi stok nya kosong.": kata Bapak itu.
"koq bisa kosong biasanya suka ada stok": kataku.
"kalo golongan darah lain banyak tapi kalo AB lagi kosong": kata Bapak itu.
"golongan darah saya AB pak kalo ga salah dulu waktu diperiksa": kataku.
"Adek mau donor darahkan buat anak kami": kata Bapak itu.
"iya pak ": kataku.
"terimakasih nak": kata Bapak itu.
Aku pamit ke Intan sebentar dan aku diajak Bapak dan Ibu itu donor darah. Singkat cerita aku beres donor darah kembali ke Intan.
"udah beres donornya?": kata Intan.
"udah terus gimana udah ada kabar dari dokter?": kataku
"belum dokter belum bilang apa apa": kata Intan.
"terus liat anak kecil yg narik tangan aku koq ga keliatan lagi": kataku.
"itu yang narik tanganku ke arah bapak yang butuh darah": kataku
"ih aka jangan bikin takut deh": kata Intan.
Masa sih Intan ga liat dan nyata ku lihat dan pegangan tangannya kerasa menarikku. Lalu siapa anak kecil itu. Kulihat dokter menghampiriku dokter bilang Irene bisa pindah keruang rawat inap. Aku keruang Administrasi memilih kelas satu. Perawat membawa Irene ke ruang rawat Inap kami mengikuti dari belakang. Sampai kamar rawat kulihat Irene tertidur dan jarum infus menempel di lengannya. Aku merasa lelah tak lama setelah duduk dikursi aku tertidur..
Aku terbangun sudah kulihat jam di Hp jam 6.30, pagi kulihat Intan dan Irene masih tertidur . Aku ke kamar mandi cuci muka gosok gigi. Aku keluar kamar mencari kopi belum jauh kulihat Bapak yg semalam. Bapak mengucapkan terimakasih karena semalam aku mau donor darah untuk anaknya. Setelah ngobrol sebentar aku mencari kantin dan membeli dua gelas kopi dan makanan buat Intan. Ketika aku balik kekamar ternyata sudah ada mamahnya Irene dan seorang lelaki.
Kami berkenalan dan ternyata lelaki itu paman Irene adik mamahnya Irene. Ketika bersalaman aku heran kenapa pamannya Irene yang bernama Koko kaya segan padaku.
"saya ngucapin banyak terimakasih atas bantuan nak aka": kata mama Irene
"sama sama tante saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai teman": kataku.
"tante juga ucapin terimakasih sama kamu Intan": kata mama Irene
"sama sama tante ini hp punya Irene sama kunci kosan Irene": kata Intan.
"oh iya makasih": kata mama Irene
Paman Irene yang namanya Koko mendekati.
__ADS_1
"hmm saya merasa senang bisa ketemu salah satu keturunan pajajaran.": kata Om Koko.
"ah om bisa aja": kataku.
"panggil aja mang jangan om kan kita turunan sunda": kata Mang Koko.
"eh iya atuh mang koq apal saya ada turunan sunda": kataku.
"apal atuh salam ka eyang nya": kata mang koko.
"iya mang, tante dan mang kami mau pamit dulu mau kuliah nanti siang mampir kesini lagi": kataku
"mangga silahkan ": kata mang koko dan mama Irene.
Aku dan Intan berjalan keluar kamar dan bergegas keluar rumah sakit.
"aka tadi pamannya Irene ngomong apa sih": kata Intan
"Ya elah masa gitu aja ga ngerti,... aku juga ga ngerti hehehe": kataku.
"huuu kirain ngerti": kata Intan.
"halo dek kemarin kemana koq ngilang gitu aja": kataku kepada anak kecil yg malam menarik tanganku.
"ka jalannya cepetan": kata Intan.
"duluan ya dek temen kaka kayanya kebelet": kataku.
"aka kamu ngomong sama siapa?" kata Intan.
"anak kecil yg tadi malem": kataku.
"ih ga ada siapa siapa": kata Intan
"coba liat dikaca didepan masa ga ada koq bayangannnya ada dikaca": kataku.
"loh koq dikaca pintu didepan kita ada anak kecil": kata Intan kemudian menegok kebelakang.
Tiba tiba Intan menarik lenganku sambil berlari kecil.
"Napa sih Intan buru buru pelan prlan kenapa?" kataku..
Intan terus menarikku sampai parkiran dan mengajakku cepat cepat pergi dari rumah sakit.
Diperjalanan intan cerita ketika aku bicara dengan anak kecil ia tak melihat apa apa tapi di kaca didepan ada tampak anak kecil itu pas nengok kebelakang ga ada pas liat kedepan ada bayangan anak itu dikaca. Aku ingin bilang ke Intan kalo sosok anak kecil itu terbang disisi motor yang kita naiki sambil bilang Terimakasih kakak
__ADS_1