gelap tak selamanya kelam

gelap tak selamanya kelam
Dua Dunia (Irene)


__ADS_3

Malam itu kulihat Viona, mama Shinta, Tania dan Bibi sudah tertidur di ruang keluarga. Aku mencoba mencari arti kejadian kejadian ini. Lama aku menajamkan batin sambil berdoa. Seperti ada yang berbisik disisiku suara lembut. Tapi tak begitu kuperhatikan aku tau itu cuma gangguan. Hingga aku seperti sedang berhadapan dengan sosok tanpa wujud hanya bayangan tak jelas. Kali ini ada suara jelas disampingku.


"kali ini dia yang terkuat yang akan kamu hadapi": kata suara itu.


"apa yang harus kulakukan?": kataku dalam hati.


"selesaikan satu persatu dari yang termudah": kata suara itu.


Tiba tiba wajah Irene terbayang, memang kemarin ada masalah dengan Irene gara gara foto itu. Tapi sosok tak jelas itu siapa dan bagaimana menyelesaikannya.


Tiba tiba terbayang wajah ibuku mungkin aku harus ketemu ibu meminta doa. Kubuka mataku kulihat jam 4 pagi bentar lagi adzan subuh ku bangkit ke kamar mandi mengambil wudhu.


Aku terbangun sudah pukul 10 siang gara gara semalam begadang. Hpku berdering ternyata Ibu menelpon. 


"hallo, ibu apa kabar": kataku.


"sehat nak bagaimana kabarmu": kata ibuku.


"baik, bagaimana kabar teh Ida": kataku


"teh Ida baik sekarang lagi hamil udah 7 bulan, Ibu kangen nak ibu mau ketemu sama mantu ibu": kata Ibu.


"ya ibu aku juga kangen ntar aku ada waktu kerumah ibu": kataku


"ga usah besok ibu main kerumah kamu dianter sama mas Indra": kata Ibu.


"oh iya bu kutunggu": kataku.


"ya udah dulu ya nak": kata ibu.


Telpon terputus. 

__ADS_1


"siapa yang?": kata Viona.


"ibu katanya kangen sama kamu": kataku


"sama aku juga kapan dong main kerumah ibu": kata Viona


"ga usah besok ibu kesini": kataku.


"asik, udah mandi dulu katanya mau liat tempat untuk cafe temen temen": kata Viona


"iya aku mandi": kataku.


Aku mandi beres mandi aku langsung makan. Pamit pada Viona dan bilang ga usah kuatir kejadian seperti kemarin tak akan terjadi lagi.


Aku mengeluarkan mobil dari garasi dan menuju kosan Intan menjemput Intan untuk melihat tempat yang rencananya untuk usaha cafe kami bersama. Tak lama aku sampai di kosan Intan aku telpon dia aku sudah didepan kosan. Kulihat Intan keluar dari kosan dan masuk kemobil.


"ka, Opik,Joko,dan Erni udah ditempat kita langsung kesana ya": kata Intan


"siip": kata Intan.


Mobil meluncur memasuki jalan utama. Lalu lintas agak macet hari itu.


"opik ga cemburu nih kamu naik mobil sama aku": kataku.


"ya ga lah kan opik tau kamu dah merit terus aku sama kamu dan Viona sobat": kata Intan.


"baguslah kalo gitu": kataku.


"ka liat itu,itu kan irene": kata Intan


Ku melihat dipinggir jalan Irene sedang bertengkar dengan wanita setengah baya dan 2 orang perempuan muda. Kulihat Irene didorong dorong dan ditampar kemudian mobil yang biasa dipakai Irene dibawa pergi.

__ADS_1


"ka, samperin Irene kasian": kata Intan.


"iya": kataku.


Mobil kuhentikan dekat Irene. Aku dan Intan turun menghampiri Irene yang sedang menangis. Intan mengajak Irene naik mobil dibelakang. Akupun kembali ke mobil.


"Irene kenapa?" kata Intan.


Irene hanya menangis.


"kemana nih apa balik lagi kekosan nganter Irene?": tanyaku.


"ga usah aku ikut kemana kalian pergi": kata Irene.


"kamu gak terluka apa perlu lapor polisi mobil kamu dibawa pergi": kataku.


Irene masih menangis.


"udah aka jangan ditanya aja udah jalan aja": kata Intan.


"iya ibu, koq ane serasa jadi sopir": kataku becanda.


"hihihihihi kaya sinetron dong kalo punya supir ganteng kaya kamu ka": kata Intan.


"kalo supirnya ganteng gajinya gede dong": kataku.


"gedelah apalagi jadi supir plus plus": kata Intan.


"supir plus merangkap pembantu plus merangkap tukang kebun ya": kataku.


"iya hihihihi tauuu aja": kata Intan

__ADS_1


Irene sedikit tersenyum. Mobil melaju menuju tkp.


__ADS_2