gelap tak selamanya kelam

gelap tak selamanya kelam
dia yang hilang


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ruko tante shinta kami berhenti sejenak di warung baso. Kupandang wajah Viona putih yang mulai kemerahan karena kepedesan bertolak belakang dengan aku yang tidak suka pedas. Pikiranku melayang apakah Viona akan bisa adaptasi dengan kehidupanku yang biasa biasa saja. Apa Viona bisa hidup sederhana?. Uang pemberian om Hadi serasa besar bagiku tapi mungkin kecil bagi om Hadi dan Viona. Apa gaya hidup Viona bisa menyesuaikan hidupku yang sederhana. Semua orang pasti siap hidup senang bergelimang harta tapi jarang yang mampu hidup sederhana.


Kami beres makan baso dan melanjutkan perjalanan. Kami sampai di Ruko sekitar magrib. Pintu Ruko dibuka dan kami memasuki Ruko. Tante Shinta menyalakan lampu, aku mencoba menajamkan rasa dan batin. Ada aura didekat kamar mandi didalam ruko tapi tak kuat dan seakan menjauh dari aku.


Kami melihat sekeliling ruko yang berdebu karena lama tak diisi dan tak ada yang merawat.


"ka, ada...ada...sesuatu disana .... didekat cermin ..Kusitakut ": kata Tania.


"mana, aku ga liat apa apa": kataku.


Aku memang tak melihat dan merasakan sesuatu.


"ka ayo liat itu dicermin ada sesuatu": kata Tania


Aku mendekati cermin dan melihat.


"ah mana ga ada apa apa": kataku.


"itu masa ga keliatan hantunya": kata Tania.

__ADS_1


"ah ga ada apa apa ada bayanganku saja": kataku.


"nah tuh barusan hantunya ngaku": kata Tania sambil tertawa.


"dasar emangnya aku hantu apa": kataku sewot.


Viona dan tante Shinta mentertawakanku.


"tante saklar lampu lantai dua dimana aku mau keatas": kataku.


"lantai dua lampunya putus tante beli dulu ya": kata tante shinta.


Dan


Benar saja Tania menjerit ketakutan dan bilang liat sosok anak kecil mengintip. Aku dengan santai bilang ngga akan tertipu dua kali. kalo mau naik aja kelantai dua eh Tania dan Viona malah nunggu diluar. Tante Shinta datang dan aku turun mengambil lampu dan kemudian naik ke lantai dua memasang lampu.


Lampu kunyalakan Ruangan dilantai dua tampak kotor berdebu. Ku lihat sajadah aku jadi teringat belum sholat magrib. Aku cek kamar mandi kubuka keran air masih mengalir aku mengambil wudhu dan kemudian sholat dilantai dua. Beres sholat ku coba berdoa mohon petunjuk kenapa ruko ini sulit disewakan dab kenapa setiap penyewa seperti tidak betah.


Dan aneh aku merasa waktu mundur kebelakang. Ruko ini dulu rumah biasa. Keluarga kecil menempati rumah ini. sepasang suami istri dengan dua orang anak sepertinya anak terbesar telah sekolah di sd kelas satu atau kelas dua. Yang kecil masih bayi kulihat sang suami berangkat kerja dan sang istri membersihkan rumah. Dan anak terbesar bermain dipinggir jalan. Tiba tiba ada mobil melaju kencang dan anak itu malah berjalan ketengah jalan. Anak itu tertabrak dan meninggal di tempat dan supir itu kabur. Kulihat orang tua itu stress berat atas kematian anaknya. Akhirnya sang istri bunuh diri dengan cara menggantung diri dan anak balitanya dibuang ke sumur tua tak terpakai yang ada dibelakang ruko ini. sang suami tak dapat menemukan anaknya yg tidak bisa menemukan anaknya yang masih balita karena tak tahu anaknya dibuang oleh istrinya ke sumur tua itu. Kulihat ketika balita tak berdosa yang telah dicekik ibunya sendiri kemudian dilempar kesumur itu lalu kemudian ibunya menutup sumur itu dengan tanah sehingga bau busuk tak keluar.

__ADS_1


Pantas saja sosok anak kecil yang diliat Tania mungkin jin yang meniru anak kecil itu. Tapi tak mungkin jin tersebut membuat aura kelam di ruko ini. Aku mencoba merasakan kembali dan terlihat seperti pemilil ruko ini menanam sesuatu dihalaman ruko ini. Pemilik ruko menanam benda jimat untuk penjaga ruko ini tapi sampai pemilik pertama ruko ini meninggal jimat itu belum dicabut dan dibuang. Aku merasa jimat itu membuat kelam ruko ini.


Aku segera turun kebawah.. Mengambil sepotong besi didalam ruko dan keluar dari Ruko kemudian menggali tanah dihalaman ruko. Aku tak dengarkan ledekan tania dan terus menggali dengan bantuan sepotong besi tak lama aku menemukan bungkusan jimat itu. Ku angkat sambil berdoa ku buka kain pembungkus dan didalamnya asa keris kecil sebesar telunjuk dan harum wangi minyak seperti wangi minyak dari timur tengah.


Aku bungkus kembali keris itu.


Aku bercerita soal sumur tua kepada tante Shinta. Aku bilang agar orang membersihkan sumur tua itu bila sudah tergali sampe dasar baru timbun kembali sumur itu. Tante Shinta percaya dan besok akan menyuruh orang membersihkan sumur itu. Aku tak menceritakan soal jenazah bayi itu biar nanti terbuka sendiri tabir masa lalu.


Aku masuk kembali kedalam ruko dan mematikan lampu ruko.


Kemudian aku menelpon Deni meminta bantuan Deni untuk memberikan keris yg kutemukan pada pa Jamil karena beliau kurasa lebih mengerti hal ini apakah keris itu akan dibuang atau bagaimana. 


Kemudian kami pulang kerumah masing masing diantar oleh tante Shinta.


Selang dua hari tante shinta menelpon bila orang yang disuruhnya membersihkan sumur menemukan kerangka bayi. Aku bilang tanyakan kepada warga sekitar apa ada yg pernah kehilangan bayi. Sorenya tante shinta menelponku kembali dan bilang ada seorang bapa tua dulu pernah kehilangan bayinya dan kerangka itu diminta untuk dimakamkan dipemakaman keluarga.


Keris yg kutemukan ku titipkan pada Deni agar diberikan pada Pa Jamil. Sebenarnya Deni ingin memiliki keris itu tapi karena menurut pa Jamil banyak efek negatifnya maka Keris itu dilarung kelaut bersama beberapa barang oleh pa Jamil.


Dan tania seperti jadi mimpi buruk bagiku sehari bisa 15 kali sms belum bbm menanyakan hal hal ghaib dan yang bikin kesel kadang minta Jajan atau ditraktir. Karena kesal kusuruh dia minta traktir Viona malah Viona BBm aku bilang kasih aja kan calon adik ipar... Astaga belum jadi sudah repot gini apalagi sudah jadi adik ipar..

__ADS_1


__ADS_2