
Hidup adalah perjalanan hidup yang penuh liku liku. Pagi itu aku bersiap berangkat kerumah Viona. Belum juga berangkat Viona menelpon agar aku mengajak ibu kerumahnya. Aku segera memberitahu ibu. Ibu yang belum siap jadi sedikit ngomel ke aku, kenapa ga bilang dari semalam kata Ibu. Setelah menunggu agak lama ibu siap dan kami berangkat. Singkat cerita kami sampai dirumah Om Hadi. Viona membukakan pintu dan kemudian mencium tangan ibuku. Ibuku diajak masuk ke kamar om Hadi dan aku disuruh menunggu diruang tamu.
Lama Ibu dan Om Hadi berbicara. Menurut Viona keadaan om Hadi kurang begitu baik sejak malam.
Akhirnya ibu keluar juga. Ibu berbicara sebentar dengan Viona, lalu ibu mengajak pulang. Aku kekamar Om Hadi pamit pulang dan om Hadi berpesan agar aku segera berbicara dengan Ibu. Setelah pamitan dengan om Hadi aku pamit pada Viona. Aku dan Ibu pulang.
Aku menyetir mobil dengan perasaan tak karuan ada apa dengan Om Hadi. Apa yang dibicarakan dengan Ibu.
"Ibu, apa tadi yang dibicarakan dengan Om Hadi?": kataku.
"Om Hadi ingin kamu menikahi Viona dalam waktu seminggu ini": kata Ibu.
"apa ga salah bu bagaimana persiapan dan segala macamnya apa jawaban Ibu": kataku
"ibu jawab iya ibu setuju awalnya ibu mengira Viona hamil duluan tapi akhirnya Om Hadi jujur dia lagi sakit keras": kata Ibu.
"Om Hadi sakit keras? maksudnya gimana?": kataku.
"Ibu juga ga tau sakit apa, yg jelas om Hadi ingin kalian segera menikah dan Ibu mengerti alasan om Hadi. Kalian menikah dulu biar resepsinya belakangan.": kata Ibu.
"Aku mengerti bu": kataku
"Walau umur kamu 21 tahun ibu harap kamu sudah berpikiran dewasa karena pernikahan bukan main main banyak tantangan kedepannya. Sampe rumah kamu segera urus surat nikah. Ibu mau hubungin kakakmu dulu ya ibu pikir lebih baik begini sebelum ibu pindah ke kota lain tinggal dekat kakakmu kalian sudah menikah terlebih dahulu": kata Ibu.
"iya ibu, doakan ibu agar anakmu ini jadi orang yg berguna bagi keluarga": kataku.
"iya ibu selalu mendoakanmu, jangan bilang Viona papahnya sakit keras dan seharusnya ibu ga boleh bilang ini kepadamu": kata ibu.
Sampai dirumah aku mulai mengurus surat NA
3 hari kemudian aku kerumah Viona memberikan surat NA ke Viona. Disana ada tante Shinta dan Tania. Lama aku berbicara dengan tante Shinta sama sepertiku tante Shinta menasehatiku dan aku dipanggil om Hadi kekamarnya. Om Hadi menasehatiku panjang lebar kulihat om Hadi pucat tak seperti hari hari yg lalu. Setelah lama aku bicara dengan om Hadi. Aku keluar dan duduk ditaman dan Viona menghampiriku.
"ka, apa yang kamu pikirkan sepertinya kamu resah": kata Viona
"takdir hidup ini kadang ku tak mengerti tiba tiba saja kita akan menikah": kataku.
"apa kaka ga mau menikah denganku?": tanya Viona
"bukan seperti itu hanya aku belum punya apa apa tuk bahagiakan kamu": kataku.
"hadirmu disini cukup buatku bahagia": kata Viona.
Pikiranku melayang seperti apa takdir kedepan yang akan ku jalani. Entahlah manusia hanya menjalankan skenario dari Tuhan, tak tau apa yang akan terjadi esok dikemudian hari.
__ADS_1
Yah besok adalah hari pernikahanku. Walau sederhana saja tetap membuatku deg degan. Walau hanya akad saja tetap merupakan hari bersejarah bagiku. Malam ini aku kembali diberi nasihat oleh Ibu, paman, teh Ida, mas Indra karena kuyakin mereka seperti itu karena mereka sayang padaku. Malam itu aku sulit untuk tidur ketika tertidur pun lewat tengah malam. Dan ku bermimpi lagi kali ini aku bermimpi aku dan Viona duduk ditepi pantai menatap sang surya sedang tenggelam dan Viona menangis.
Aku terbangun dibangunkan ibu. Aku mandi dan berpakaian rapi kemudian sarapan bersama keluarga. Tak lama datang Ustad dan Pa Rt tetanggaku yang akam ikut menjadi saksi. Kemudian datang Deni dan Indri mereka pakai pakaian batik yang berpasangan mereka sangat serasi.
“lu udah nyusul gue duluan nikah hebat lu bro”: kata Deni.
“Kapan kamu nyusul Den?”: kataku
“beres kuliah gue langsung lamar Indri”: kata Deni
“Semoga keinginanmu terkabul”: kataku.
Kami berangkat menuju rumah Viona. Singkat cerita kami sampai dirumah Viona dan disambut om Warman kerabat om Hadi. Kami masuk kerumah dan sudah ada ada penghulu Tante Shinta, Tania dan om Jaya pengacara om Hadi. Belum tampak om Hadi dan Viona. Tante shinra dan om warman dengan ramah mengajak ngobrol rombongan dari pihak keluarga ku.
Tak lama kemudian muncul om Hadi yang jalannya dipapah Viona. Viona sangat cantik dengan dandanan pengantin. Akhirnya acara dimulai setelah sambutan dari Ustad dilanjut dengan acara ijab qabul. Kulihat om Hadi susah payah berbicara tapi tetap dipaksakan. Setelah selesai acara ijab qabul aku dan viona bergantian bersimpuh dihadapan ibuku dan om Hadi yang kini resmi jadi mertuaku. Om Hadi entah mengapa saat itu memelukku erat dan lama sambil berkata jaga baik baik viona. Aku tau om Hadi menangis karena air matanya membasahiku pula.
Kemudian kami berfoto foto keluarga. Hari yang bahagia. Kemudian kami melanjutkan acara makan makan. Setelah acara makan keluarga rombongan keluarga ibu pulang disusul om warman dan om Jaya. Aku meminta tante Shinta untuk menginap tapi tante Shinta menolak dengan alasan tak mau mengganggu kami.
Kutatap lekat wajah Viona. Wajah yang selama ini membuatku semangat kini resmi jadi pendamping hidupku. Beribu rasa ingin terucap tapi sulit kukeluarkan. Aku duduk berdampingan dengan Viona kami mengunggah foto foto kami ke instagram dan muncul komenan yg lucu lucu dari teman teman bahkan Joko pun akhirnya mengakui kegantenganku difoto. Bahkan teman teman banyak yang iri.
Tiba tiba jerit bibi terdengar aku segera menghampirinya. Astaga kulihat om Hadi pingsan dan kata bibi om Hadi jatuh ketika hendak ke kamar mandi. Aku panik dan memanggil Viona. Viona pun sama paniknya seperti aku. Aku meminta bibi memanggil pa yayat untuk menyiapkan mobil. Kusuruh Viona berganti pakaian. Setelah mobil siap ku pangku om Hadi menuju mobil dan Viona menyusul naik mobil kami berangkat menuju rumah sakit sepanjang jalan Viona menangis. Aku hanya bisa berdoa sepanjang . ketika sampai rumah sakit langsung menuju ruang IGD. Beberapa perawat membantu membawa om dengan ranjang dorongnya. Viona menangis dalam dekapanku. Kami menunggu dengan cemas cemas. Lama waktu berjalan tiba tiba datang seorang dokter dan berkata dia telah berusaha semaksimal mungkin tetapi segala sesuatunya Tuhan yang menentukan kemudian mengajak kami ke tempat om Hadi . Aku melihat om Hadi tersengal sengal aku membaca talqin ditelinga om Hadi. Tak lama
nafas om Hadi seperti berhenti dan alat pembaca denyut jantung menunjukkan garia lurus.. Aku panik aku memanggil dokter.. Dokter memeriksa dan menggelengkan kepala Viona berteriak papah dan kemudian pingsan.. Aku memegangi Viona mendudukkan Viona dikursi dokter dan seorang perawat menolongku memegangi Viona. Saat itu aku tak bisa berkata apa apa hanya air mata yang keluar dari mataku membajiri pipiku. Kakiku lemas otakku tak bisa berpikir. Setelah agak lama aku berpikir harus menelpon siapa aku pertama mencoba menelpon tante Shinta. Lama telponku tak diangkat.
"hallo aka ada apa jam segini telpon": kata Tante Shinta.
"aka ada apa cepat bilang": kata Tante Shinta.
"papah, ..papah Hadi meninggal": kataku.
Terdengar jeritan tante Shinta terdengar disebrang telpon sana.
"Hallo, hallo ini kaka aka? ada apa ka?: suara Tania menggantikan suara Tante Shinta.
"papah Hadi meninggal kami sedang dirumah sakit": kataku.
Terdengar suara tangis Tania..
"ka sudah dulu Tania mau tenangin mamah": kata Tania dan telponpun terputus.
Ya Tuhan begitu mudah kau putarkan taqdir hidupku. Mestinya malam ini kurasakan bahagia tapi kesedihan yang dalam kudapat..
Jenazah om Hadi diurus pihak rumah sakit. Aku menunggui Viona yang pingsan. Aku bbm teh Ida karena aku sudah bisa berkata kata. Aku bbm teh Ida mertuaku meninggal dan aku dirumah sakit, aku tak berharap bbm ku dibaca karena sudah lewat tengah malam. Hpku bergetar bbm ku dibalas bahwa teh Ida dan mas Indra akan segera ke rumah sakit.
__ADS_1
Ku melihat Viona siuman lalu Viona berteriak "aku mau papah". Kupeluk erat Viona yang menangis keras didadaku. Baju pengantinku harusnya penuh kebahagiaan tapi ini penuh air mata kesedihan Viona dan aku. Ya Allah kuatkan dan beri kesabaran padaku menjalani takdir hidupku..
Dalam kesedihan mendalam aku tak mampu berfikir jernih untung Mas Indra dan teh Ida datang. Teh Ida menenangkan Viona dan mas Indra mengajakku mengurus administrasi dan mengeluarkan jenazah. Aku menyuruh pa Yayat membantu mempersiapkan rumah dan membantu untuk pemakaman. Aku menelpon Om Warman memberitahu meninggalnya om Hadi.
Singkat cerita setelah disemayamkan dirumah kamk semua sepakat hari itu juga jenazah dimakamkan. Diiringi rintik hujan pemakaman dilakukan di pemakaman keluarga. Ditengah prosesi pemakaman Viona dan tante Shinta pingsan hingga terpaksa dibawa kerumah. Aku berdiri di tanah merah makam om Hadi orang terbaik yang pernah mengisi hidupku. Pikiran ku melayang teringat ketika waktu dulu kehilangan kekasihku tersayang. Para pelayat sudah pulang hanya tinggal aku dan Om Warman yang menemaniku dan memberi semangat padaku. Dari jauh kulihat sosok sedang menangis disebuah makam anehnya dari jarak sejauh itu aku mendengar sosok itu menangis karena tak ada yg mendoakan dia. Aku pun mendoakan sosok itu. Tak lama sosok itu hilang bersama hembusan angin. Om Warman mengajakku pulang. Dan kamipun pulang.
Aku mengajak Ibu dan tante Shinta tinggal sementara bersama kami untuk menemani kami. Ibu menerima tapi tante Shinta menolak karena tak kuat selalu teringat kenangan bersama Om Hadi.
Hari hari yang kulalui masih diliputi kesedihan Viona masih sering menangis dan mengurung diri tak mau makan. Untung ibuku sabar membujuk dan menyemangati Viona. Kulihat ibu sangat menyayangi Viona seperti anak sendiri.
Bahkan ibu yang mengurus acara tahlil dan disetiap malam tahlil tante Shinta hadir. Di malam ketujuh aku berbicara dengan tante Shinta kubilang ku tetap menganggap tante Shinta sebagai ibuku juga dan menganggap Tania adikku juga. Aku minta tante Shinta menyayangi Viona seperti anaknya. Tante Shinta memeluk kami menangis dan bilang akan mengakui kami sebagai anaknya walau belum menikah dengan om Hadi.
Hari ini ibu meminta ijin untuk pulang kerumah mau mengurus pindahan barang rumah ke rumah baru diluar kota dan ibu menyuruhku menemani Viona karena kepindahan barang barang sudah diurus mas Indra. Dan aku mengiyakan.
Aku berencana pergi kelembaga yatim piatu menyumbangkan sedikit uangku semoga bisa jadi amalan yang mengalir bagi om Hadi. Aku ajak Viona. Viona mengiyakan.
Jam sepuluh pagi kami tiba di panti asuhan setelah memberikan uang aku minta ijin pengurus panti memberikan makanan dan pakaian yg kami bawa dan melihat lihat anak anak panti.
Pengurus panti mengijinkan. Aku dan Viona melihat anak anak yatim itu dan perhatian Viona tertuju pada satu balita yang lucu. Bahkan Viona meminta ijin memangku bayi itu. Pertama kali setelah meninggalnya om Hadi kulihat Viona tersenyum. Aku mengobrol ringan dengan pengurus panti dan Viona sepertinya asik dengan bayi itu. Tak lama kemudian kami pamit untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang Viona mendekap tanganku erat semoga ini awal Viona bisa move on.
Singkat cerita keesokan harinya aku terbangun dengan belaian lembut di pipiku. Viona membangunkanku untuk pertama kali Viona membangunkanku. Kali ini wajahnya berseri dia menyuruhku mandi dan menunggu di meja makan. Beres mandi aku makan bersama dengan Viona. Beres makan Viona mengajakku duduk di kursi taman. Dikursi taman itu Viona menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Yang terimakasih telah mengajakku ke panti, aku jadi tersadar berapa beruntungnya aku walau ditinggal papah aku masih mendapat kasih sayang dari kamu, dari ibu dan dari mama shinta": kata Viona
"kamu jangan sedih terus jalan kita masih panjang didepan masih ada jalan berliku yg mesti kita tempuh": kataku.
"Iya waktu dipanti aku melihat bayi kasihan masih kecil tak punya orang tua tapi untungnya masih ada yang peduli": kata Viona.
"begitulah hidup tapi Allah adil memberi kasih sayang kepada bayi itu walau bukan dari orang tua tapi ada orang disekelilingnya": kataku.
Tampak seseorang memasuki halaman ternyata Tania datang sendirian.
"Tania ga sekolah": tanyaku.
"ih kaka kan hari ini hari Minggu": kata Tania lalu dudjk disebelah Viona.
"Mamah sehat?": tanyaku.
"sehat ka nitip salam buat kaka sama ka Viona, eh pada ngelamunin apa sih ikutan dong nih aku bawa cemilan ngelamunnya sambil ngemil biar seru": kata Tania dengan gaya tengilnya.
"Tumben bawa makanan biasanya juga minta jajan": kataku.
__ADS_1
"kan nyogok dulu nanti baru minta Jajan": kata Tania.
"bisa aja kamu": kata Viona sambil tertawa. Sungguh bahagia hatiku melihat Viona kembali tertawa