Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 10


__ADS_3

Aku memutuskan untuk pulang tanpa mengabari Tegar, ibu, dan bapak. Aku nekad pulang ke apartemen dengan menggunakan mobil Tegar. Aku sudah tidak bisa berlama-lama di rumah itu. Perasaan bersalah ku semakin jadi ditambah lagi dengan kehadiran Bang Teguh yang semakin menghantuiku. Aku belum siap Tegar mengetahui semua rahasiaku. Aku terlalu takut kehilangannya. Aku takut menua tanpa melihat senja bersamanya. Aku takut tanpanya.


Aku menyeret kakiku menuju lantai enam belas. Suasana sudah sangat sepi karena memang malam ini sudah sangat larut. Ku masukkan angka password. Membuka pintu dengan sangat malas. Dadaku masih sedikit sesak karena kejadian tadi. Tegar tidak memberi tahuku bila Bang Teguh ada di rumah. Pria iblis yang setahun ini lenyap seperti ditelan bumi. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkannya. Karena ulahnya aku harus melibatkan orang lain untuk menyelamatkan harga diriku.


Mataku terbelalak saat membuka pintu kamar dan mendapati sosok pria yang dengan pulas nya tidur di atas ranjang ku. Aku mendekat. Ada apa dengannya sampai-sampai ia tidur di apartemenku. Tanganku terulur dan menyentuh bahunya. Dan aku sedikit terkejut saat merasakan tanganku mendadak menjadi panas. Punggung tanganku langsung mengecek panas di keningnya. Ya Tuhan, panas sekali.


"Mas Kukuh sakit?" tanyaku. Ia hanya melenguh menjawab pertanyaan ku. Aku segera bangkit dan mencari kotak P3K. Untunglah masih ada stok paracetamol. Aku langsung meminta Mas Kukuh untuk duduk dan meminumnya sebelum suhu tubuhnya semakin tinggi.


"Dek." Aku sedikit terkejut mendengar rengekan Mas Kukuh. Dan yang lebih membuat aku terkejut lagi saat ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku berusaha untuk tenang. Panas tubuhnya menjalar ke tubuhku meskipun aku mengenakan pakaian lengkap.


"Ya udah. Tidur ya." Aku membantu Mas Kukuh untuk kembali berbaring dan aku juga ikut berbaring tanpa mengganti baju. Ia kembali memelukku dengan erat. Kurasakan tubuhnya sedikit menggigil. Mas Kukuh jarang sekali sakit.


"Hug me, please." Ia berbicara dengan nada seraknya. Aku menelan saliva ku susah payah. Aku harap salah mendengar. Atau berharap jika Mas Kukuh sedang mengigau. Tapi dugaan ku salah, ternyata Mas Kukuh bersungguh-sungguh. Aku hanya bisa menurutinya. Bagaimanapun ia aku tidak akan tega melihatnya sakit.


Malam ini, disaksikan oleh cahaya rembulan yang menembus jendela kaca, aku melakukan tugas dan kewajiban ku untuk mencoba mendampingi Mas Kukuh saat sakit. Pria yang menyandang sebagai kekasih sahabatku, Sukma. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Sukma bila tahu malam ini aku dan Mas Kukuh sangatlah dekat tanpa jarak. Jangankan Sukma, bahkan aku tidak tahu bagaimana kecewanya Tegar saat mengetahui hal ini.

__ADS_1


.......


Sinar pagi menelisik di sela-sela jendela. Menyorot ku dengan cahayanya yang mulai panas. Tirai-tirai tak ada lagi menutupi cahaya itu. Mataku enggan terbuka, karena aku tidak terbiasa bangun pagi buta. Tapi kali ini bukan lagi pagi buta saat merasakan tubuhku menghangat terkena sinarnya. Dengan terpaksa aku membuka mata. Menatap lamat-lamat sekitarku. Masih mencoba untuk mengumpulkan nyawa hingga beberapa detik lamanya. Mataku menyipit menatap pria bertelanjang dada tengah duduk di depan jendela dengan secangkir kopi di tangannya. Aku duduk sembari merapihkan rambutku.


"Mas udah sehat?" tanyaku dengan nada khas bangun tidur.


"Udah lebih mending, Dek. Maaf ya semalem Mas nyusahin kamu." Tatapan rasa bersalahnya terlihat jelas. Kami saling bertatapan beberapa saat. Aku mengangguk dan tersenyum. Ia menghampiriku dan memberikan secangkir kopi panas.


"Belum mandi udah ngopi?" Aku terkekeh. Bahkan muka bantal ku masih sangat melekat. Dan bukankah air liurku juga masih kecut? hahaha.


Berhubung hari ini hari Minggu, aku sedikit santai menjalani aktivitas ku di rumah. Aku sudah mengabari Tegar tadi malam saat aku dalam perjalanan. Dengan alasan lupa memberi makan Raisa. By the way, bayi-bayi itu sekarang sudah mulai bisa berdiri meskipun jalannya masih sempoyongan.


"Sejak kapan di situ, Dek?"


"Sejak Mas Kukuh nggambar sambil ileran." Aku tertawa renyah saat Mas Kukuh kini menyentuh bibirnya karena percaya akan perkataan ku. Ia tampak kesal dan melempari ku dengan pensil yang ia pegang.

__ADS_1


"Lagian hari Minggu juga. Katanya sakit, masih aja kerja."


"Emang kalo nggak kerja mau ngapain? kamu mau ngajakin jalan-jalan?"


"Big no," jawabku cepat. Yang benar saja mengajaknya jalan-jalan. Sudah bisa dipastikan bila Tegar akan cemburu besar. Apalagi Bang Teguh sekarang sedang berkeliaran di sini. Dan aku yakin ia memiliki mata-mata untuk terus memantau ku.


Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Kukuh saat dimintai pendapat tentang designnya. Aku sebenarnya juga bingung, tapi daripada aku berkata tidak tahu lebih baik aku memberi pendapat sebisaku. Dan entah sejak kapan sekarang Mas Kukuh berpindah posisinya dan duduk bersandar di pahaku. Aku membiarkannya. Aku tahu ia masih pusing. Namun karena tuntutan pekerjaan ia harus profesional mempersiapkan semua dengan sempurna. Ya, Mas Kukuh lebih memilih untuk menjadi arsitektur daripada meneruskan perusahaan kopi milik keluarganya. Dengan alasan perusahaan kopi itu tidak terlalu besar. Satu pemimpin saja sudah cukup. Karyawannya hanya terdiri dari tujuh orang termasuk aku. Itupun aku hanya bekerja dua sampai tiga kali dalam seminggu. Hanya untuk memastikan bahwa data tepat dan pengiriman kopi sampai ke gudang dengan aman.


Entah setan apa yang menepeli ku. Tanganku dengan lancang mengusap kepala Mas Kukuh yang menyender di pahaku. Dengan posisi aku duduk di sofa dan ia duduk di bawah.


"Mas nggak capek?" tanyaku. Sebenarnya kakiku sudah pegal.


"Kamu yang capek?" tanyanya balik. Aku terkekeh, tak bisa berbohong lagi.


tok tok tok

__ADS_1


Pintu diketuk dari luar. Aku melebarkan mataku kemudian saling bertatapan dengan Mas Kukuh. Gawat. Dengan segera Mas Kukuh membenahi semua peralatan kerjanya. Aku pun membantunya. Dan terpaksa Mas Kukuh aku kurung di kamar lagi. Tak lupa aku menguncinya dari luar. Aku gugup tapi mencoba untuk rileks. Memastikan kalau sudah tidak ada lagi barang Mas Kukuh yang tertinggal.


Aku membuka pintu dan, "Surprise...."


__ADS_2