
Hari ini sedikit berbeda. Tegar pergi untuk urusan pekerjaannya. Untuk itu aku lebih memilih menatap senja dari apartemen. Meski kesannya berbeda, tapi aku tetap ingin menjadi penggemar cinta langit untuk senja.
Angin lembut menerpa wajahku. Menggoyangkan helaian-helaian rambutku yang masih basah. Meski udara kota tak sesejuk itu, tapi aku menikmatinya. Aku bersyukur masih diberi nafas, bersyukur bisa berdiri tegak tanpa kekurangan, dan aku bersyukur karna Tuhan telah menciptakan Tegar. Aku tegar bersama Tegar. Pria yang sebelas tahun terakhir selalu menjadi rindu kasihku, menjadi fajar senjaku, dan menjadi gembira-tegar ku. Aku sangat bersyukur.
"Hot coffee or ice coffee?" Aku menoleh, kemudian tersenyum menyambutnya.
"Kopi susu nggak ada?" tanyaku. Dia menyengir kuda lalu menggeleng.
"Ya udah, Mas buatin dulu, ya."
"Nggak usah, aku cuma bercanda." Aku kemudian mengambil kopi panas dari tangan Mas Kukuh.
Aku menyeruput kopi itu dengan tenang. Kembali menatap senja yang sebentar lagi akan men-jingga. Biasanya selalu di pantai. Menikmati empat puluh tujuh detik indahnya senja. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu berapa lama senja itu tiba. Aku hanya pernah membaca dari buku Tere Liye yang menuliskan bahwa senja hadir dalam empat puluh tujuh detik. Sedangkan aku tidak tahu kapan detik senja itu dimulai.
Lima, empat, tiga, dua, satu. Senja sempurna tenggelam. Hanya tinggal sisa cahaya yang menyiratkan warna jingga. Aku bahagia. Dua puluh lima tahun ini aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat Kuasa-Nya di dunia. Aku takjub. Terimakasih, Tuhan.
"Kamu cantik," ucap Mas Kukuh tiba-tiba. Aku tidak sadar kalau ia sedang memperhatikan aku. Darah mendesir merangkak naik di wajahku. Malu.
"Thank you, Sir." Aku tersenyum simpul.
Pria yang menyandang sebagai kekasih sahabatku itu memang sosok yang hangat dan dewasa. Menurutku ia memang cocok dengan Sukma. Yang satu kekanakan, yang satu dewasa. Saling melengkapi. Bahkan aku menyaksikan sendiri bahwa cinta mereka begitu besar meski orang tua Mas Kukuh tidak pernah merestui hubungan mereka. Tapi itulah cinta. Harus ada pengorbanan dan perjuangan untuk tetap bersama. Meski aku tahu, hubungan mereka kelak akan terguncang bukan karena masalah restu. Lagi-lagi aku berdebar. Aku kembali cemas saat hari itu tiba.
__ADS_1
"Nggak mau masuk?" tanya Mas Kukuh. Aku menggeleng.
"Masih betah di sini."
"Emang nggak laper?" Aku hendak menggeleng, tapi dengan cepat aku mengangguk. Aku lupa, sedari siang perutku belum terisi nasi. Kami tertawa bersama. Mas Kukuh memeluk aku tiba-tiba. Dia aneh hari ini. Aku luar biasa terkejut. Aku berusaha untuk melepas pelukannya, namun Mas Kukuh semakin mempererat.
"Sebentar aja, Dek. Just two minutes," lirihnya. Aku mengangguk. Dia cuma butuh bahu. Seharusnya Sukma yang ada di sini. Menemani saat-saat Mas Kukuh sedang hancur. Pak Raden, ayah Mas Kukuh beberapa hari yang lalu dilarikan ke rumah sakit lagi. Aku tahu betapa hancurkan hati Mas Kukuh saat orang yang dicintai terbaring tak berdaya. Aku juga merasakan hal itu. Saat aku berusia dua tahun, orang tuaku menjadi korban pembunuhan oleh orang tak dikenal. Saat pelakunya ditangkap, ternyata ia salah sasaran. Pembunuh bayaran yang sama sekali tak memiliki hati nurani.
"Semua akan baik-baik aja, Mas. Nangis aja kalau mau nangis." Aku mengusap punggungnya. Tapi aku tak merasakan bahuku basah, hanya badannya bergetar. Aku semakin mempererat pelukan ini. Sepertinya bukan hanya masalah ayahnya. Mungkin ada hal lain.
Dua menit menjadi dua jam. Hari sudah gelap. Mas Kukuh baru saja melepaskan pelukannya. Mukanya merah, matanya sembab. Dokter sudah memvonis bahwa usia ayahnya tidak akan lama lagi. Penyakit komplikasi yang diderita sudah sangat sulit untuk diobati. Aku terenyuh melihat pria di depanku. Baru kali ini ia begitu hancur di depanku. Aku mengulurkan tanganku untuk membantu membersihkan sisa-sisa air matanya. Aku tersenyum, berusaha menyemangatinya.
drrrrt drrrrt
Malam ini mendung, tak ada bintang-bintang yang menghiasi malam. Hanya bintang dari hamparan bumi kota. Langit hanya menyuguhkan gumpalan-gumpalan awan seperti kapas dengan kapasitas besar. Aku mendengus. Teringat Tegar. Cepat-cepat aku mencari ponsel ku yang tidak sengaja ku buat mode senyap. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab.
"I Love you more!" seru Mas Kukuh pada Sukma di seberang telepon. Aku tergelak. Sukma benar-benar pawang dari pria dewasa seperti Mas Kukuh. Mereka berdua benar-benar beruntung meski usia mereka terpaut delapan tahun.
"Kenapa ketawa?" Mas Kukuh kembali menghampiri aku. Aku hanya menggeleng sambil menahan gelak tawa.
"Berasa ABG ya." Aku kembali tergelak.
__ADS_1
"Sedikit. Ya udah, ayo cari makanan." Aku mengangguk. Gara-gara adegan termehek-mehek, jadi lupa masak. Kami beranjak. Aku lupa kalau mau mengabari Tegar.
Malam berangsur larut. Sebagian makhluk-makhluk Tuhan tengah mengistirahatkan tubuhnya untuk kembali distart esok pagi. Sebagian juga masih setia menahan lelah dan tak kenal waktu demi bertahan hidup. Aku sendiri tengah bersiap untuk beristirahat, esok aku harus kembali menjadi manusia yang berguna, menjadi wanita yang kuat, dan melewati kegembiraan dan ketegaran. Tidak ada kata sedih ataupun tangis dalam hidupku. Karena aku tegar bersama Tegar. Saat bersama Tegar. Tapi meskipun aku menangis, aku akan tetap Gembira karena itulah namaku. Kata-kata itu sering diucapkan Tegar.
Miliaran makhluk Tuhan senyap dalam malam.
"Dek, Raisa tadi udah dikasih makan belum?" Suara bariton dari balik pintu mengagetkanku. Baru saja mataku hendak terpejam. Ku kira dia sudah pulang. Aku bangkit, dengan langkah lunglai membuka pintu kamar. Mas Kukuh nyengir sambil memegang ayam goreng di tangannya.
"Ternyata orang nangis juga bisa kelaparan ya," cicit ku.
"Nanti uang belanja ditambahin." Aku hanya mengacungkan jempol ku. Langkahku masih lunglai menuju rumah Raisa, Kucing Persia milikku dan Tegar. Raisa langsung mengeong menyambut kedatanganku. Ya Tuhan, aku sudah membuatnya kelaparan.
"Maaf ya, Mak." Aku langsung menuang makanan kering kedalam wadah makanannya.
"Udah berapa bulan bunting nya?" Lagi-lagi Mas Kukuh mengagetkanku dengan mulutnya yang penuh.
"Mas Kukuh pulang aja sana. Kalo perlu makanannya bawa pulang." Aku mulai kesal.
"Ya udah, iya. Besok jangan kesiangan bangunnya. Soalnya Mas mau pergi subuh, nggak bisa bangunin kamu." Mas Kukuh tetap dengan bahasanya yang hangat walaupun aku baru saja ketus padanya.
"Iya, Mas."
__ADS_1
Aku memandang figura di mana aku dan Tegar tengah menggendong Raisa baby. Bibirku melengkung membentuk senyuman. "Tegar, kamu adalah tujuan terindah dalam hidupku. Bersama adalah sebuah impian terbesar bagi kita. Melewati gembira-tegar hingga tak tersisa satu helai pun rambut hitam di kepala kita. Tapi Tegar, apa semua mimpi kita akan tetap menjadi nyata di saat ada pengkhianatan di antara kita?"
Malam ini aku gelisah. Sudah satu tahun. Sudah satu tahun aku bungkam. Menyembunyikan ini semua dari Tegar.