
Perutku sangat bergejolak tatkala melihat kondisi Raisa saat ini. Setelah sekian lama penantian, akhirnya hari ini menjadi momentum bahagia untuk ibu hamil itu. Ya, hari ini dia akan bersalin. Tapi karena kecemasanku yang berlebih, akhirnya asam lambung ku naik. Aku mual sedari tadi. Selalu seperti ini saat aku merasa grogi atau cemas. Mas Kukuh dengan telaten memijit tengkukku. Padahal aku sudah menyuruhnya menyingkir, tapi ia tanpa rasa jijik malah membasuh mulutku.
Lima belas menit. Akhirnya aku menyudahi acara mual ku. Aku kembali ke rumah Raisa dengan tubuh yang sudah melemas. Tapi semuanya terobati saat Raisa telah berhasil melahirkan anak pertamanya. Mataku berbinar. Satu makhluk Tuhan terlahir di dunia dengan imutnya. Aku melihat wajah Raisa yang tampak menahan sesuatu. Bahkan ia tak mengeong atau mengeluh sama sekali. Sangat luar biasa bukan. Menurutku ibu adalah makhluk paling luar biasa di muka bumi ini. Mas Kukuh merangkul bahuku. Dia tahu kecemasanku. Aku mengangguk tanda aku baik-baik saja.
"Itu kayaknya ada kepala lagi. Eh, Raisa kok—"
"Dia malu dilihatin, Mas." Aku tertawa geli saat Mas Kukuh tetap bersikeras untuk mengintip proses lahiran Raisa. Apalagi saat ini jelas terlihat tubuhnya bergetar. Aku hanya diam. Membiarkannya memenuhi rasa penasarannya. Ku harap ia tidak akan jatuh pingsan nantinya.
Tujuh menit kemudian, Baby caty kedua lahir dengan selamat. Aku mengelus baby pertama yang tampak tak mau diam sedari tadi untuk mencari sumber kehidupannya. Warnanya orange. Dan yang baby kedua ternyata loreng tiga. Aku sudah bisa menebak jenis kelamin baby kedua. Pasti betina. Karena sangat jarang sekali ada kucing loreng tiga berjenis kelamin jantan. Aku kembali melirik Mas Kukuh. Mungkin jika ada orang lain di sini sudah tidak nanti-nanti lagi untuk mempertawakan ekspresi wajahnya sekarang. Seperti ketakutan, tapi juga sangat penasaran.
Persalinan Raisa sudah selesai. Raisa berhasil melahirkan empat bayi dengan selamat, sehat, dan lucu. Dan entah sejak kapan pula Mas Kukuh menyandar di bahuku. Menyaksikan Raisa yang menjilati bayi-bayinya meskipun lelah.
"Mas?" Aku mencoba mengangkat kepalanya agar bangkit dari bahuku.
"Sekarang Mas tau perjuangan wanita. Ternyata nggak mudah. Wanita rela merasakan sakit dan mengorbankan nyawanya untuk makhluk baru yang menyandang sebagai anaknya. Dek, Mas mau tanya sama kamu. Apakah kamu sebagai seorang wanita akan merasakan sakitnya persalinan? Kalau iya, apakah boleh sakit itu dipindahkan sama suami kamu aja?"
"Cepat atau lambat aku akan menjalankan peranku sebagai wanita, Mas. Seperti apapun sakitnya nanti, aku akan menjalankan itu semua. Aku ingin menjadi salah satu wanita sempurna di dunia ini," jawabku dengan sungguh-sungguh. Aku sangat menantikan hari di mana aku akan menikah dengan Tegar dan menyandang gelar sebagai istri serta ibu dari anak-anak kami.
"Mas berjanji Mas nggak akan seperti kucing jantan yang meninggalkan pasangannya di saat persalinan. Mas akan mendampingi momen-momen perjuangan itu."
"Sukma beruntung punya Mas Kukuh," ucapku antusias. Mas Kukuh menatapku entah dengan definisi apa aku bisa menjelaskannya. Ku harap ia benar-benar memegang teguh ucapannya. Ia tidak akan menjadi seperti kucing jantan.
__ADS_1
Kami kembali fokus pada Raisa dan anak-anaknya. Ku timang si bungsu yang tampak paling mungil di antaranya. Aku pecinta kucing. Sangat cinta. Tapi aku hanya berkesempatan memelihara satu, yang sekarang menjadi lima. Mata Raisa begitu tampak lelah setelah menyudahi menjilati bayi-bayinya satu persatu. Aku meraih dot yang sudah aku persiapkan tadi lalu kuberikan kepada Raisa. Raisa menerima masih dengan posisi rebahan. Ia belum sanggup untuk bangkit lagi. Aku mengusap kepalanya lembut. Beberapa kali aku mengucapkan kalimat terimakasih karena telah menjadi wanita yang kuat.
drrrrt drrrrt
Dering ponselku menyala. Aku meminta tolong pada Mas Kukuh untuk menggantikan posisiku menyusui Raisa. Ku sambar ponselku yang tergeletak di atas sofa.
"Hai, Ra. Aku udah di depan nih. Tapi kok pintunya dikunci dari dalam sih?" Aku melongo saat mendengar Tegar telah berada di depan. Sedetik kemudian aku mulai sadar dan segera mencari alasan.
"Hmm. Tunggu sebentar ya, Toy. Aku masih ganti baju, nih. Bentar ya." Segera ku matikan ponselku.
Tujuanku saat ini hanya terfokus pada Mas Kukuh yang masih menimang bayi-bayi. Dengan segera aku menyeretnya dengan tergesa. Layangan protes terus terlontar dari mulutnya. Aku hanya diam sambil menarik tangannya ke dalam kamar. Dewa Krisna pun pasti akan cemas di saat seperti ini.
"Why?" tanyanya.
"Ada Tegar di depan. Sementara Mas aku kurung dulu di sini. Jangan berisik, ya." Aku memperingatinya lagi lewat jari telunjukku yang menempel di bibir.
"Dek, tunggu!" Mas Kukuh menarik tanganku.
"Apa lagi?" tanyaku. Mas Kukuh memintaku menunggu. Kemudian ia membuka lemari. Entah apa yang dicarinya.
"Pake ini." Mas Kukuh memakaikan aku cardingan tebal dan mengancingkan nya. Aku mengerutkan dahi. Tapi kemudian aku paham. Karena pakaianku terlalu terbuka untuk bertemu dengan Tegar. Aku langsung keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.
__ADS_1
Dan benar saja, Tegar-ku sudah stand by di depan pintu apartemenku. Aku dengan antusias memeluknya erat. Rinduku benar-benar penuh. Pelukan Tegar selalu membuatku hangat dan nyaman. Aku mempersilahkannya untuk masuk. Tanganku masih dengan posesif menggandengnya seolah tak ada yang boleh mengusik waktu kami berdua. Aku langsung mengajak Tegar untuk melihat wajah anak-anak asuh kami yang baru. Bercerita sedikit banyaknya aktivitas kami akhir-akhir ini. Tak lupa aku bercerita tentang perayaan dua tahunku di kantor.
"Nggak kerasa udah malem, Ra. Kalo gitu aku pulang dulu ya. Jangan lupa besok." Aku mengangguk. Esok aku aku akan kembali menjadi saksi cinta langit untuk senja bersama Tegar. Mengisi hari dengan kegembiraan-kegembiraan yang kami ciptakan. Terimakasih, Tegar. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku.
"Tegar, Ra sayang Tegar." Aku memeluk erat tubuh Tegar, cintaku.
"Tegar juga sayang banget sama Ra." Tegar mencium pucuk kepalaku. Membuatku selalu merasa dicintai. Membuatku tak kekurangan kasih sayang.
"Promise?" tanyaku dengan posisi mendongak.
"I'm promise, Dear. Satu lagi, kamu jangan terlalu deket sama Mas Kukuh ya. Ra cukup pantau dia seperti yang Sukma minta. Jangan genit." Tegar mencubit pipiku dengan gemas. Aku mengaduh tapi juga tertawa.
"Mas Kukuh udah kayak abang ku sendiri, Toy. Jangan khawatir."
"Aku tetep cemburu, Ra. Siapapun itu." Aku memeluknya lagi. Menenangkannya seolah itu semua tak akan terjadi. Aku mencintaimu, Tegar. Sangat. Meski aku pun takut nanti akan ada luka. Kecemasan mu itu benar adanya.
Kepergian Tegar membuatku sedikit cemas sekaligus lega. Aku menyeret kakiku menuju kamar di mana Mas Kukuh terkurung. Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat kepulan asap berasal dari Mas Kukuh. Dia merokok.
"Mas," sapa ku. Mas Kukuh langsung blingsatan dan segera mematikan putung rokoknya. Setelah itu membuka semua jendela kamar.
Malam ini aku ingin bicara. Tapi lagi-lagi tidak sampai. Latar pria di depanku ini lagi-lagi membuatku enggan menanyakan lagi hal itu. Selain itu, ia juga pernah menyelamatkan harga diriku. Aku sungkan. Dia sangat baik selama ini. Ditambah lagi dengan keadaan ayah Raden yang semakin memburuk.
__ADS_1