
Sore ini aku bersama Tegar. Pria yang sebelas tahun terakhir selalu menjadi sandaran hidup seorang wanita lemah sepertiku. Aku mencintainya. Senja selalu menjadi saksi bisu cinta kami.
Aku pergi dari apartemen saat aku dan Mas Kukuh sempat bersitegang. Kehadiran Bang Teguh dan Sukma yang tiba-tiba membuatku bicara melewati batas. Padahal aku tidak seharusnya membahas mengenai kejadian setahun yang lalu. Belum saatnya. Tapi entahlah, aku sangat terjebak dan ingin segera terbebas. Aku ingin melanjutkan perjalanan cintaku dan Tegar dengan tenang.
"Sukma udah pulang, Ra?" tanya Tegar. Tangannya sibuk mengepang rambutku. Aku mengangguk sambil terus menikmati martabak kecap favoritku.
"Dia titip salam untuk kamu," kataku dengan mulut yang penuh.
"Udah ketemu Mas Kukuh?"
"Kayaknya sekarang mereka lagi ketemuan. Tadi Sukma sempet ke apartemen. Tapi Mas Kukuh lagi pergi. Sukma sengaja mau kasih surprise. Tapi Toy, tau nggak? Sukma sekarang gemuk loh. Haha, aku aja sampe melongo tadi."
"Oh ya? bagus deh kalo gitu. Sekarang kamu nggak perlu lagi mantau Mas Kukuh. Jangan ganjen ya, Ra." Aku terkekeh saat Tegar yang kini memelukku dengan posesif dari belakang. Aku mengusap lengannya. Menikmati udara sore di pantai ini. Pelukan hangat dan nyaman Tegar selalu membuat aku merasa terlindungi. Napasnya menerpa bahuku dengan hangatnya.
__ADS_1
"Ra pengen terus kaya gini sama Toy. Ra bahagiaaaa banget karena Tuhan telah mempertemukan kita. Ra jadi tau apa itu arti cinta yang sesungguhnya. Dan Ra jadi belajar tentang ketegaran bersama Tegar. Andai dulu kita nggak pernah bertemu. Ra nggak tau apa yang akan terjadi sama gadis yatim piatu kayak Ra. Mungkin Ra akan menjadi orang yang gagal karena terbuang. Dan mungkin juga Ra akan terus terbayang dengan luka yang orang-orang terdekat Ra lakukan. Makian, cambukan, bahkan luka-luka di tubuh ini, Ra masih ingat. Meskipun sudah tidak berbekas. Tapi luka itu berpindah ke sini. Di dada ini. Beruntung Ra diselamatkan oleh orang-orang berhati malaikat. Ibuk, bapak, kamu." Aku membalikkan tubuhku untuk menghadap Tegar.
"Ra...." Tegar merangkup wajahku. Menatap mataku dalam. Aku tersenyum. Bicara lewat mata dan gimik bahwa aku tidak akan menangis.
"Tegar, apakah kamu akan sama seperti mereka yang membuang aku saat kamu mendapati aku memiliki masalah yang besar? apa kamu akan mencampakkan aku?"
"Ra ngomong apa?"
"Berjanjilah untuk tetap mencintai aku apapun yang terjadi, Tegar. Aku nggak akan paham dan nggak akan bisa menjalani ketegaran tanpa Tegar disisi Gembira. Ra akan hancur kalau Tegar ninggalin Ra karna kesalahan Ra." Aku menghambur memeluk Tegar. Tubuhku bergetar hebat. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini. Tapi aku juga harus menjaga kondisi Tegar. Aku tidak mungkin mengatakan semuanya sekarang. Aku tidak mau menjadi dalang dalam keterpurukan Tegar.
"Ra takut. Ra takut Tegar pergi. Tolong yakinkan Ra kalau kamu nggak akan pergi dari hidup Ra, apapun yang terjadi." Aku semakin erat memeluk Tegar.
"Aku nggak perlu berjanji untuk menepati apa yang sudah tertanam rapi di hati ini, Ra. Semua yang ada di antara kita nggak perlu banyak kata dan janji, karena kita berdua akan mewujudkannya nanti. Cukup kita dan hati kita," ucap Tegar sungguh-sungguh.
__ADS_1
Sore ini kami tidak menjadi saksi cinta langit untuk senja. Melainkan mereka yang menyaksikan betapa besar cinta Tegar untuk Gembira. Tanpa harus berkata-kata. Dan kini Tuhan tengah menguji cintaku. Menguji seberapa kokohnya cintaku untuk Tegar tanpa terlena dengan pesona pria lain. Tegar, jangan benci aku suatu hari nanti saat kamu mengetahui semua. Kamu harus tahu dulu perjuanganku sebelum membenci. Semua ulah kakakmu. Tapi kamu harus percaya bahwa cinta ini tidak pernah goyah sedikitpun. Semoga tidak akan pernah.
"Ra...." Tegar melepaskan pelukan kami. Kemudian ia merogoh sakunya dan meraih sesuatu.
"Ini apa, Toy?" tanyaku saat melihat kotak kecil berwarna biru yang ada di tangan Tegar.
"Untuk menjawab semua keraguan kamu, Ra. Yang seharusnya aku melakukan ini sedari dulu. Membuktikan Cinta melalui tindakan. Dan hari ini, disaksikan oleh langit dan bumi, aku melamar Gembira Fajarini untuk menjadi pendamping hidup Tegar selamanya. Apakah kamu bersedia, Gembira?"
Aku tertegun. Jantungku berdetak kencang. Momen ini yang aku tunggu-tunggu sedari lulus kuliah. Tegar membuktikan cintanya melalui tindakan. Tapi satu hal yang kini mengganjal. Ini belum saatnya. Aku belum bisa meskipun aku sangat menginginkannya. Akibat kejadian setahun yang lalu, aku masih belum bisa menerima lamaran Tegar sepenuhnya.
"Aku tahu ini terlalu mendadak, Ra. Tapi aku nggak akan memaksa kamu untuk menikah cepat. Aku akan tetap memakaikan cincin ini di jari kamu sebagai tanda bahwa aku sayang kamu, Ra. Nanti, saat kamu udah seratus persen siap maka aku dan keluargaku akan melamar kamu secara resmi. Gimana?"
"Apa nggak papa?" tanyaku. Terlihat jelas guratan-guratan kecewa di wajah Tegar meskipun ia mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku tau kamu butuh waktu kan? Dan juga masih banyak yang belum kamu capai." Aku mengangguk lalu memeluk Tegar dengan erat.
"Aku akan segera menjadi milik kamu, Tegar. Jangan khawatir aku akan meninggalkan kamu. Kamu adalah satu-satunya pria yang bertahta di hatiku. I Love you, Tegar. Full i love you."