
Suasana duka diiringi tangis yang begitu pilu
ikut menyayat hati. Rintihan serta doa beriringan mengantar kepergian sosok yang sangat berbudi semasa hidupnya. Foto yang berada di depan nisan itu terus diusap dan ditangisi sedari tadi. Raden Agus Saputra, ayah mertuaku yang dinyatakan meninggal kemarin sore dan baru dimakamkan pagi ini.
"Bu, ayo kita pulang. Ayah udah bahagia bersama Tuhan. Ayah akan sedih kalau ibu kaya gini. Ayo semua, kita pulang." Semuanya mengangguk patuh pada pak Sam. Aku merangkul ibu dan menuntunnya untuk berjalan meskipun beliau sangat enggan untuk beranjak.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Hanya ibu dengan sisa isak tangisnya. Aku terus mengusap punggungnya dan sesekali mengusap air matanya. Hampir setiap hari tidak ia lewatkan untuk tetap menemani ayah yang sakit-sakitan. Untuk itu, ibu masih sangat terkejut dengan kenyataan ini. Apalagi ayah adalah belahan jiwanya yang sudah menemaninya puluhan tahun lamanya.
Satu jam tujuh menit, kami tiba di rumah utama. Deretan karangan bunga berjajar rapi menunjukkan bahwa ayah bukanlah orang biasa. Banyak kolega bisnis dan orang-orang yang segan kepadanya.
"Nak, kamu susul suami kamu aja di kamar. Ibu nggak papa kok di sini banyak orang. Kasian suamimu sendirian," saran Ibu yang akhirnya buka suara. Aku mengangguk patuh tanpa membantah.
Aku mengetuk pintu kamar beberapa kali, namun tak mendapat sahutan dari dalam. Ku putar kenop pintu dan saat ini mataku langsung tertuju pada Mas Kukuh yang berdiri menghadap jendela dengan sebatang rokok yang dihisapnya. Aku menutup pintu dengan sangat pelan. Melangkah mendekati Mas Kukuh yang bergeming walaupun aku yakin ia tahu kedatanganku. Aku berdiri di sampingnya namun ia tak menoleh sedikitpun.
__ADS_1
"Mas," tegur ku saat sudah hampir sepuluh menit hanya berdiri tak tahu apa yang mesti dilakukan. Aku mengusap lengannya berusaha untuk menguatkannya yang tengah berduka.
"Kamu tau kenapa ayah meninggal?" tanyanya ambigu dan aku menggeleng. "Karna ayah tau kita udah melakukan sidang perceraian. Setelah itu ayah shock berat dan terkena serangan jantung."
Aku terdiam sesaat lalu bertanya, "Semua ini gara-gara aku, Mas?"
"Kita," jawabnya singkat. Air mataku tak sadar mengalir begitu saja. Dan aku memilih untuk duduk di tepi ranjang karena begitu terkejut dengan pernyataan yang Mas Kukuh berikan.
Setelah aku berhasil menguasai diriku, aku beranjak dan langsung memeluk tubuh Mas Kukuh dengan sangat erat. Entah mengapa aku malah semakin menjadi, berulang kali meminta maaf padanya.
"Ya Tuhan, aku tidak ingin mengeluh dengan semua ujian-Mu. Tapi mengapa Engkau mengujiku seberat ini?" Aku meraung di atas lantai. Aku tidak pernah seperti ini, kenapa hidup ini begitu kejam yang membuat langkahku tertatih.
Hari sudah hampir larut malam, namun Mas Kukuh sama sekali tak menampilkan batang hidungnya walau hanya sekedar mengajakku makan. Huh, aku terlalu berharap berlebihan. Bagaimana mungkin Mas Kukuh mau menghampiri wanita yang menjadi penyebab ayahnya meninggal itu.
__ADS_1
Cklek
Pintu terbuka, dan aku pura-pura memejamkan mataku. Saat ini aku tidur di atas sofa. Dan bisa aku dengar suara seseorang merebahkan diri di atas ranjang. Aku berusaha untuk tetap tenang dan bergeming. Pada akhirnya aku berhasil menangkap suara orang menangis namun lirih. Sangat lirih. Hampir tak terdengar. Aku menajamkan pendengaran ku. Dan benar, ku lihat tubuh pria yang masih berstatus suamiku itu menutup kepala dan wajahnya dengan bantal.
Dengan nekad, aku naik ke atas ranjang dan memeluknya lagi dari belakang. Ia tak menolak ataupun menerima, hanya suara isak nya yang terdengar semakin jelas. Aku larut, ikut tenggelam dalam duka dan rasa bersalah yang dalam.
"Apakah saya salah ingin mempertahankan rumah tangga saya dan istri saya? Apakah istri saya begitu membenci saya, hingga tak memberikan celah sedikitpun untuk suaminya sendiri masuk ke dalam relung hatinya?" Helaan napasnya begitu kasar. Aku tak menyahut, tangisanku malah semakin meraung sembari mengeratkan pelukanku.
"Aku berdosa, Mas," ucapkan disela-sela tangis ini.
"Semuanya udah terlanjur, Ra. Terimakasih untuk selama ini. Ayah udah nggak ada, perceraian kita akan tetap terlaksana tanpa hambatan apapun."
"Mas, kamu ngomong apa?" Aku melepaskan pelukanku dan mengusap sisa-sisa air mata ini.
__ADS_1
"Jangan dilepas." Mas Kukuh membalikkan tubuhnya dan meraih tanganku untuk memeluknya lagi. "Setelah sidang mediasi kedua nanti, Mas udah nggak bisa memeluk kamu lagi, Dek."
Malam berselimut duka dan rasa bersalah yang mendalam kian mereda. Pelukan hangat ini merengkuh jiwa yang enggan untuk terlepas. Akan ku hayati tanpa mencemaskan pria lain.