Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 19


__ADS_3

Bibirku bergetar. Berusaha fokus pada apa yang sedang ada di depanku saat ini. Pagi tadi, aku memaksakan diri untuk segera bangkit dari tempat yang menjadi saksi kejadian miris semalam. Kecewa yang aku rasakan. Merasa bersalah karena aku telah bermain api dengan kekasih sahabatku sendiri. Dan lucunya itu adalah suamiku. Aku juga kecewa pada diriku sendiri karena aku tidak mampu menjadi seorang wanita yang tegas dalam mengambil keputusan.


Aku menyeka air mataku yang hampir luruh. Bukankah seorang Gembira tidak boleh bersedih dan menangis? Lalu mengapa akhir-akhir ini banyak sekali bulir bening membasahi pipiku tanpa permisi? Benda pipih menyala. Aku hanya melirik, enggan untuk menjawab panggilan itu. Dadaku semakin sesak. Rasa bersalah dan rasa benci tumbuh begitu saja di dalam diri ini.


Sudah pukul enam sore. Para pegawai lainnya sudah beranjak sejak tadi untuk kembali menyambangi kediaman mereka. Dan aku masih di sini. Masih menatap layar monitor dengan pikiran kalut. Aku sudah berusaha untuk tenang, tapi tetap saja aku masih merasa Tuhan tidak adil. Mengapa harus ada Kukuh? Mengapa harus Kukuh? Mengapa Kukuh? Dan mengapa harus ada Tegar dan Kukuh?


"Ketegaran dan kekukuhan. Dua-duanya bisa membuat kamu lebih baik," ujar seseorang yang baru saja muncul di balik pintu. Aku hanya tersenyum menanggapi. Aku hanya ingin sendiri. Aku tidak butuh dinasehati. Karena tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula.


Aku tahu ia masih menatapku sebelum akhirnya kembali bersuara, "Sepertinya kamu sudah mengambil keputusan yang besar, Ra."


"Apa?" tanyaku sembari melihat arah pandangannya. Sontak aku kembali melingkarkan syal yang tadi sempat aku lepas.


"Jadi, kamu sama-"


"Saya rasa pekerjaan saya sudah selesai, Pak. Maaf tidak bisa bicara lama dengan anda," pungkas ku.


"Oke. Saya tadi cuma mau kasih tau kamu kalau di depan sudah ada Tegar. Kalau begitu silakan."


"Kalau begitu permisi, Pak," pamit ku. Namun saat aku melihatnya hendak berbicara lagi, aku pun dengan cepat berkata, "Saya akan tetap bekerja profesional di sini dan tidak akan melibatkan urusan pribadi saya dengan pekerjaan ataupun urusan bos. Sekali lagi terima kasih sudah peduli dengan hidup orang lain, Pak. Permisi."


Aku tak menghiraukan raut wajah kecewanya. Padahal sebelumnya aku selalu membutuhkannya untuk bicara. Karena hanya ia yang tahu pernikahanku dan Mas Kukuh setelah ayah dan ibu. Namun sekarang ini aku benar-benar sensitif. Aku hanya tidak ingin ada orang yang tahu bahwa aku tengah semrawut.


"Sore banget pulangnya, Ra?"


"Ada banyak kerjaan tadi, Toy," jawabku.

__ADS_1


"Mau ke mana? Ada pasar malam di terminal. Mau ke sana?" tawarnya.


"Langsung pulang aja. Ra agak nggak enak badan hari ini. Next time aja, Toy."


"Ya udah. Tapi beli makanan dulu, ya. Aku tau Ra belum makan." Aku mengangguk sembari tersenyum lebar.


"Kalau misalnya ada orang yang paling kamu sayang mengkhianati kamu, apa yang bakal kamu lakukan?"


"Serius banget nanyanya. Kenapa, sih?" Tegar terkekeh.


"Ya udah jawab aja," kataku.


"Tergantung sih. Kalau orang itu keluarga aku, ya aku bakal maafin walaupun aku harus berusaha keras untuk itu. Dan kalau orang itu Ra, maka aku juga akan maafin. Tapi-"


"Tapi apa?"


"Kok gitu? Kenapa harus pergi?"


"Hahaha. Kenapa muka Ra jadi panik gitu, sih? Lagian aku yakin kok kalo Ra nggak akan pernah melakukan itu. Tegar percaya Ra bisa menjaga hati untuk seorang Tegar."


Aku hanya tersenyum, tak merespon lagi. Aku tidak bisa membayangkan jika pria yang sangat aku cintai akan pergi saat tahu aku mengkhianatinya. Bukan jika, tapi aku telah mengkhianatinya. Mungkin tinggal menunggu waktu yang tepat untuk Tegar tau semua rahasia yang telah aku sembunyikan darinya. Dan saat tiba saatnya, aku akan tetap mencintai Tegar apapun resikonya. Aku akan tetap menginginkannya singgah meskipun aku harus mengorbankan banyak hal. Aku egois.


Lima belas menit menuju apartemen setelah berhenti untuk membungkus makanan. Kata-kata manis selalu keluar dari mulut Tegar untukku. Bukan rayuan buaya, cintanya tulus, setulus pasir yang mencintai lautan. Dan seikhlas tanah yang menerima hujan. Aku harap cinta ini kekal. Kesalahan yang aku perbuat di masa lalu akan segera menemukan jalan keluarnya.


"Ra, kamu tau kenapa air hujan lebih memilih turun dari langit dan bukan dari tanah?" tanya Tegar sebelum aku turun dari mobil.

__ADS_1


"Kalo dari tanah bukan turun dong. Yang ada naik. Emang ada naik hujan dari tanah? Yang ada turun hujan dari langit," jawabku disertai protes.


"Salah." Tegar mencubit pipiku dengan gemas. Aku hanya menaik-turunkan alisku untuk segera mendapat jawaban.


"Karena Hujan mencintai tanah. Semakin dalam air hujan masuk ke dalam tanah, maka semakin dalam juga cinta air hujan untuk tanah."


"Aku masih nggak ngerti bahasa kamu, Toy."


Tegar kembali berceloteh menjelaskan arti perkataannya tadi. Aku tertawa lepas tapi juga bahagia saat kali keduanya Tegar mengatakan cinta padaku. Harusnya sedari dulu. Seharusnya hubungan ini resmi dari dulu, jauh sebelum Teguh menghancurkan masa depanku dan menjerumuskan aku ke dalam kehidupan Mas Kukuh.


Seseorang dari jauh mengelus keningnya saat aku baru saja turun dari mobil.


***


Aku menatap sebuah gedung yang aku cari-cari sejak dua puluh menit yang lalu. Tersenyum lebar. Melihat gumpalan-gumpalan awan putih bak kapas yang begitu indah sejenak. Berdoa pada Yang Maha Kuasa sebelum melangkah menuju gedung itu. Sebagian berkas-berkas sudah ada di tanganku, sebagian lagi ada pada pengacara ku yang sudi membantuku untuk segera menyelesaikan semua.


"Ibu Gembira, sudah yakin dengan keputusan ini?" tanya pengacara ku untuk kesekian kalinya. Aku mengangguk sembari tersenyum.


"Mari masuk, Pak."


"Apa Ibu sudah siap untuk menyandang status janda muda?" tanyanya lagi. Aku menghentikan langkahku tapi tak jua menoleh. Janda? Bukankah itu lebih baik daripada terjebak dalam hubungan yang hanya akan menggores luka hati banyak orang? Aku kembali meyakinkan pengacara ku. Berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memakinya karena terus-terusan bertanya. Aku harus tetap bersikap baik agar semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.


Aku terpaksa menggunakan foto-foto kebersamaan Mas Kukuh dan Sukma sebagai alat bukti. Bukankah berhubungan dengan wanita selain istri itu disebut dengan selingkuh? Jadi tidak ada salahnya aku menggunakan alasan ini untuk segera menggugat cerai Mas Kukuh. Lebih cepat lebih baik.


Sudah pukul 12.28, saatnya untuk menuju tempat tujuan selanjutnya. Aku harus segera memberi tahu ayah. Aku tahu aku begitu buru-buru.

__ADS_1


Hari yang begitu terik. Cuaca sering sekali tidak stabil. Aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri yang begitu nelangsa.


__ADS_2