Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 7


__ADS_3

Angin berhembus sendu. Udara masuk ke rongga hidungku dengan teratur. Merespon setiap helaan nafas ku yang kasar. Menerpa wajahku dengan sangat lembut, seolah menenangkan aku. Aku sudah hampir gila menghadapi situasi ini. Menahan diri untuk tidak bersuara. Menahan diri agar tetap menjaga kesopanan diri. Aku Gembira, wanita biasa yang juga memiliki masalah hidup. Sangat rumit.


Hari ini aku ingin segera bicara. Dan berlari mengatakan cintaku yang sesungguhnya pada Tegar. Aku harap ia benar menerimaku apa adanya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana kondisinya saat mengetahui aku setahun belakangan ini. Aku menoleh, pria di belakangku masih setia menatapku dengan sendu. Aku tak kalah sendu. Aku berharap akan ada keputusan-keputusan yang membuatku bebas. Tapi aku harus masih menunggu. Entah sampai kapan. Aku tidak berani bicara.


"Dek, makan di bawah, yuk." ajaknya. Aku menggeleng.


"Biar aku aja yang masak."


"Dari tadi kamu ngomong begitu. Ayo!" Mas Kukuh menarik tanganku. Ia tahu apa yang tengah membebani pikiranku saat ini. Tapi ia tak kunjung bicara untuk memberikan jalan keluar. Aku lelah. Tapi aku hanya bisa diam sementara ini.


Malam ini masih seperti biasanya. Malam yang penuh dengan pikiran-pikiran takut. Aku ingin menjelma menjadi manusia yang baru terlahir. Dewasa ini membuatku hampir gila.


.....….


Rentetan alunan musik mengirama. Menemani ku lewat nadanya yang begitu riuh menggelora di telinga. Hari ini aku ingin menari, berbicara melalui bahasa tubuh ini. Agar semua yang selalu aku doakan untuk menjadi nyata. Tuhan tahu tentang apa yang selalu aku inginkan. Aku ingin masalah cepat berakhir. Dan sederhana saja, aku ingin skenario hidupku berakhir indah bersama Tegar. Semoga.


Serunai nyanyian ombak tak kalah menggelora tatkala aku melepas sumber alunan musik. Burung camar ikut menghiasi birunya laut yang diterpa rona jingga. Sore ini begitu anggun. Seolah tiada keindahan di muka bumi ini selain pesonanya. Indah. Aku menyandar di bahunya. Seperkian detik senja tenggelam menyisakan semburat jingga yang menawan. Aku mendongak. Ternyata senja juga menambah kesan indah yang menerpa wajahmu, Tegar.


"Apa yang bisa menghilangkan keraguan seorang gadis saat harus menjatuhkan pilihan?" tanyaku ambigu. Tegar mengusap kepalaku dengan sayang.

__ADS_1


"Jika ragu, yang harus dilakukan hanyalah berdoa, meyakinkan diri, dan menatap senja." Aku paham. Meskipun Tegar menjawab ku dengan asal. Aku memeluknya erat. Tubuh pria yang selalu membuatku hangat dan nyaman sebelas tahun terakhir ini. Tegar selalu menjadi rindu kasihku, menjadi fajar senjaku, dan menjadi gembira-tegar ku. Aku sangat mencintainya. Berharap agar Tuhan menjemput ku terlebih dahulu. Karena aku sangat tidak siap kehilangan Tegar meskipun itu tujuh puluh tahun yang akan datang.


Aku belum sempat pulang. Aku langsung menemui Tegar-ku saat kembali dari stasiun radio. Aku selalu begini, rindu berlebihan. Walaupun aku tahu semua orang mengatakan bahwa yang berlebihan itu tidak baik. Tapi aku aku begini karena suatu alasan. Tegar bisa tiba-tiba pergi dariku. Dan kecemasanku untuk kembali hidup sendiri.


Masih di pantai ini. Aku dan Tegar menghabiskan sisa-sisa waktu untuk makan.


"Curang banget sih, Ra. Kenapa aku cuma makan sayur?" Tegar dengan nada protesnya.


"Ra cuma mau yang terbaik buat—" ucapan ku terpotong.


"Tapi aku baik-baik aja, Ra. Jantung aku nggak papa." Aku menggeleng tanda tak menerima penolakannya. Ia mendengus. Aku menggenggam tangannya.


"Satu hari bersama kamu itu sangat berharga. Untuk itu, Ra nggak mau merusak hari kita. I hope you are always healthy."


"I'm promise. Seumur hidupku. I love you, Tegar." Lagi. Aku mengucapkan kata cinta lagi pada Tegar. Tapi Tegar tetap sama, hanya tersenyum dan mengecup keningku. Meskipun tidak terucap, aku tahu cinta Tegar teramat nyata. Dia punya caranya sendiri untuk mencintaiku.


"Maafin aku ya. Aku belum bisa bawa kamu ke Mahameru. Gimana kalau lusa?" Aku menggeleng. Memeluknya lagi dari samping. Aku masih ingat betul kejadian lima tahun lalu saat Tegar tak sadarkan diri karena memaksakan diri untuk kepuncak Mahameru. Impiannya hanya satu. Menapak puncak Mahameru bersamaku. Memperkenalkan aku pada fajar yang cerah. Tapi impiannya harus gagal. Aku terus melarangnya. Bagiku cukup bersamanya aku merasa indah, tanpa harus mengenal fajar lebih luas.


"Only here with you," jawabku.

__ADS_1


"Gimana kalau ke Banda Neira? atau mau ke Mandalika?" Aku kembali menggeleng. Tegar tertawa kecil saat melihat ekspresi ku yang manyun. Sudah sangat sering kami berdebat masalah ini. Tapi pada akhirnya wanita selalu menang.


Bersama Tegar aku menabur harapan-harapan besar. Yang kuharap suatu hari nanti akan tumbuh subur menjadi perwujudan hidup indah bersamanya. Aku wanita yang beruntung mendapatkan cinta darinya. Meskipun aku tahu, aku tidak sengaja merajut luka yang akan mengguncang hubungan kami nantinya. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap meraih cintanya apapun yang terjadi. Cinta tak salah. Aku yang salah.


Ternyata malam ini hujan. Entah sampai pukul berapa aku bersama Tegar. Tiga hari kepergiannya membuat rinduku penuh. Dan malam ini saatnya menguras rindu ini. Agar esok terisi lagi. Bertahan di sini dengan alasan hujan.


"Seperti cinta dan ketulusannya. Seperti hati dan pengorbanannya. Aku rela tubuhku basah dan kering demi untuk memelukmu. Kebahagiaanku mengalir sederas hujan membasahi bumi ini. Ku hapus luka dan duka ku, bergantian dengan gembira-tegar untuk tetap berdampingan bersamamu. Semoga hujan akan tetap sama. Begitu juga dengan kita berdua." Tegar merangkup wajahku. Aku terharu dengan kata-katanya. Wanita mana yang tidak bahagia mendapatkan cinta sebesar ini. Hujan belum reda, tapi rinduku sudah. Saat Tegar menyatukan bibir ini dengan hangat. Hanya dengan cinta, bukan napsu.


"Terimakasih sudah menjagaku selama ini. Aku harus banyak bersyukur pada Tuhan. Kamu adalah anugerah terindah, Tegar. Aku mencintaimu meski nanti kita menua dan tidak ada lagi kata-kata cinta yang terucap dari mulut kita." Seperkian detik kemudian, Tegar membawaku ke dalam dekapannya. Aku ingin terus seperti ini. Menjadi wanita yang gembira dan bahagia. Tidak ada kesedihan, karena aku tegar bersama Tegar.


Hujan sudah reda. Rinduku juga sudah reda. Tegar mengantarku sampai di depan pintu apartemen. Satu kecupan manis mendarat di keningku sebagai pertanda pamit. Tegar membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk bak seorang ratu.


"Saya harap kamu bisa belajar dari masa lalu." Suara bariton berhasil mengejutkan aku yang baru tiga detik menutup pintu. Aku menelan ludah dengan kasar.


"Mas, tadi Sukma nelfon. Katanya tolong lihatin Mas Kukuh pulang jam berapa, pulang sama siapa, intip dia lagi apa, jangan lupa juga untuk ambilin laundry-an nya, mastiin Mas Kukuh badannya tetep sama, nggak terlalu gendut dan juga nggak terlalu kurus, dan ingetin Mas Kukuh untuk ngabarin Sukma. Karna Ra adalah tetangga dari calon suami sahabatnya Ra."


"Dan kamu nggak menjalankan amanah Sukma hari ini. Apa kamu nggak lihat ini jam berapa, Dek?" Aku mulai takut. Meskipun suaranya datar. Tapi aku tahu Mas Kukuh menahan amarah.


"Itu bukan urusan Mas Kukuh. Aku menganggap Mas Kukuh sebagai kakak, bukan berarti aku harus nurut semua apa kata Mas Kukuh." Mas Kukuh tampak terkejut dengan nadaku yang meninggi. Aku pun tidak sadar sudah kelepasan seperti ini.

__ADS_1


"Tapi saya bukan kakak ka—"


"Aku mau tidur, Mas. Capek," pungkas ku.


__ADS_2