
Kami adalah sepasang raga yang saat ini masih berjalan berdampingan, untuk sepasang tangan yang saat ini masih saling menggenggam, dan sepasang hati yang masih dipenuhi keyakinan untuk selamanya bertahan. Aku selalu berdoa pada Tuhan, semoga harapan-harapan tak berujung patah. Kebahagiaan terus berlanjut hingga usia tak lagi muda. Tuhan, aku mencintai Tegar. Jangan hilangkan dia, kumohon.
Jari-jari tangan kiri ku masih sibuk memegang sebuah pulpen demi menuliskan kata-kata indah. Aku tahu, cinta ini tak bisa dibubuhkan melalui aksara. Tapi itulah diriku, yang terlalu mencintai Tegar. Jika ditanya alasannya, maka jawabannya adalah; Tegar satu-satunya orang yang aku miliki lebih dari apapun. Dia adalah kaki saat aku sulit melangkah, tangan disaat aku sulit menggapai, dan raga yang merengkuh disaat aku kehilangan apapun. Tapi aku juga menyakiti Tegar. Seharusnya aku bisa menjaga semua kepercayaan yang Tegar berikan. Seharusnya aku tidak berada di situasi seperti ini. Aku melirik, ternyata ada delapan pasang mata yang sedari tadi memperhatikan aku.
"Kenapa?" tanyaku tanpa bersuara. Mereka hanya menggeleng. Aneh. Aku menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal. Mungkin karena aku sedari tadi tersenyum dan cemberut tiba-tiba. Dan mungkin juga mereka mengira aku mulai gila. Terserah. Aku memilih bodo amat.
Pagi tadi aku hampir saja telat. Lupa memasang alarm. Biasanya Mas Kukuh yang selalu membangunkan aku. Al hasil aku berangkat kerja tanpa mandi. Hanya cuci muka, ganti baju, dan berangkat. Benar kata Tegar, seharusnya namaku Gembira Senjani, bukan Gembira Fajarini. Karena hampir setiap hari aku tidak pernah melihat fajar. Selalu kesiangan. Susah bangun pagi. Untuk itu aku lebih jatuh hati pada senja.
Aku bekerja sebagai penyiar radio, tapi juga sebagai pekerja paruh waktu di sebuah perusahaan kopi. Bekerja sebagai penyiar radio sangatlah menyenangkan, tapi terbagi dengan sift rekan lainnya. Untuk itu aku mengambil peluang paruh waktu ini, gajinya lumayan. Buktinya aku bisa mengkredit apartemen hingga lunas. Dengan sedikit bantuan dari Tegar tentunya. Aku kuliah pun tak luput dari bantuan keluarga Tegar. Keluarga yang sangat baik, aku berhutang budi pada mereka.
Pukul 16.00 waktunya untuk pulang. Sialnya aku lupa memesan taksi online sebelum keluar dari kantor. Ini pasti akan lama. Tegar masih sampai esok lusa. Tapi aku sudah merindukannya. Cinta ini tak bisa dibendung, membanjiri seluruh hatiku hingga tenggelam bersama indahnya cinta Tegar.
tin tin
Sebuah mobil berhenti tepat di depan ku. Aku menyipitkan mata, memastikan bahwa itu pengemudi mobil itu Mas Kukuh. Ternyata benar, ia turun dari mobil lalu menghampiri aku.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Mas Kukuh menggandeng tanganku agar cepat masuk kedalam mobil. Aku hanya menurut. Sepertinya ia tahu kalau Tegar sedang tidak ada.
__ADS_1
"Mas—" ucapan ku terpotong.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Dek." Aku tertegun. Pasti ada kaitannya dengan Ayah. Aku mengangguk. Memilih untuk tidak bertanya.
Seperti jalanan Kota pada umumnya, jalanan macet total. Aku bisa melihat wajah tidak sabaran Mas Kukuh. Kurasa ada yang terjadi di rumah sakit. Tapi aku tidak berani menyinggungnya. Perlahan semut-semut Kota mulai merangkak. Satu jam empat puluh tujuh menit kami akhirnya sampai di rumah sakit. Mas Kukuh tanpa banyak basa-basi langsung menggandengku sambil berlarian menuju ruang di mana ayah dirawat. Saat sampai di ruang rawat ayah, aku menghela nafas. Aku sudah hampir pingsan karena cemas. Ayah tersenyum kearah kami. Aku membalasnya. Mas Kukuh langsung menghampiri Ayah lalu mencium tangannya. Aku juga begitu.
"Akhirnya kamu datang lagi, Nak." Ayah terlihat sangat senang bertemu lagi denganku.
"Ayah apa kabar?"
"Ayah selalu baik. Cuma Ibu sama Kukuh aja yang berlebihan." Kami terkekeh bersama. Pria payuh baya ini selalu asik. Merasa bahwa dirinya selalu baik-baik saja. Aku salut dengan ayahnya Mas Kukuh yang tidak pernah mengeluh sedikitpun. Kami banyak berbincang, ayah Mas Kukuh selalu menyinggung hal itu. Tapi aku selalu dengan tenang menanggapi. Aku kembali mengingat Sukma. Sukma, kamu memang harus benar-benar berjuang untuk hubunganmu.
"Lihat malam aja gimana?" usul ku.
"Mending ke apartemen aja kalo gitu."
"Suasana malam di pantai itu tenang. Coba aja dulu, yuk." Akhirnya Mas Kukuh mengiyakan ajakan ku. Aku berlari-lari kecil di atas hamparan pasir putih, tanpa alas kaki. Rasanya sangat menyenangkan. Aku gembira menjadi Gembira yang mencintai pantai dan senja. Andai ada Tegar, dia pasti akan menjadi penonton pertunjukan menari ku di atas pasir. Kakiku menggores pasir dengan alunan nada romansa yang ku ciptakan sendiri. Gerakan tangan dan tubuhku tak luput terlewatkan. Aku Gembira, wanita yang selalu bahagia. Mengikhlaskan luka yang sudah-sudah.
__ADS_1
Ada yang meraih tanganku. Kemudian memutar tanganku mengelilingi kepala. Ia seolah tau nada-nada yang ku ciptakan. Aku sedikit terkejut. Tetapi pria itu tetap melanjutkan gerakannya. Mengajakku menari dengan nada yang ku ciptakan serta serunai nyanyian laut yang terdengar merdu. Gerakan-gerakan indah dimulai. Kaki mulai menari-nari dengan lincah di atas pasir, tubuh mengikuti alunan nada yang kami ciptakan sendiri. Hal ini tidak pernah aku lakukan dengan Tegar. Wajah kami sangat berdekatan, hidung menyentuh hidung dengan nafas yang tersengal.
"Duduk di sana aja, yuk." Aku melepaskan diri dari Mas Kukuh. Aku tidak menyangka bahwa pria dewasa sepertinya bisa menari. Baru saja kami berdansa dan menari seolah dunia ini hanya berpenghuni kan kami berdua.
Kami duduk di atas bebatuan. Masih menikmati serunai nyanyian laut. Serombongan burung camar melenguh di kejauhan. Laut selalu memesona. Suasana yang begitu tenang dan sepi. Alam punya caranya sendiri untuk menenangkan hati.
"Maafin ucapan ayah tadi, ya." Mas Kukuh membuka suara.
"Nggak papa, Mas."
"Kamu pasti nggak nyaman." Aku menoleh. Sebenarnya iya. Beberapa saat aku terdiam.
"Jadi gimana kedepannya, Mas?" Aku memberanikan diri bertanya. Setelah seperkian detik terdiam. Bahkan saat ini pun aku tidak berani menatap Mas Kukuh. Sunyi. Mas Kukuh sepatah kata pun tidak bicara. Tubuhku bergetar. Aku benar-benar ingin keluar dari situasi ini. Ia selalu tidak memberi jawaban dengan pertanyaan ini.
Lima belas menit berlalu. Aku masih menunduk. Aku tidak tahu apakah Mas Kukuh masih di sampingku atau tidak. Aku tidak berani mengangkat kepalaku. Tiba-tiba ada yang merangkul bahuku. Mas Kukuh mengangkat daguku. Membawa wajahku untuk menghadap dirinya.
"Pulang, yuk. Udah malam." Aku benar-benar kecewa. Tapi aku hanya bisa mengangguk mengiyakan ajakannya.
__ADS_1
Malam ini otakku kembali penuh. Aku sangat takut hari itu tiba. Saat Tegar mengetahui rahasia yang sudah ku simpan rapi setahun terakhir. Semoga esok saat matahari terbit, aku terbangun dalam keadaan setahun yang lalu. Semoga ini hanya mimpi. Meskipun mustahil.