
"Udah lama banget nggak ketemu, Wa. Kamu sehat kan?" tanyaku pada Sendawa.
"Sehat kok, Ra. Gimana? Aku langsing kan sekarang? Padahal aku nggak diet loh, hehehe."
Aku tersenyum mendengarnya. Kata-kata yang begitu apik untuk menutupi luka. Aku tahu di balik tubuh Sendawa yang semakin kurus, ada tekanan batin yang begitu besar menerpanya. Sesakit itukah di tinggal tanpa penjelasan?
"Mau makan apa? Hari ini aku yang traktir deh," tawar ku.
"Makan apa aja, Ra. Samain aja sama kamu." Aku mengangguk, menulis pesanan dan menyerahkannya pada pelayan.
Ting
Satu pesan masuk, tertera nama Tegar di sana. Aku membalasnya singkat kemudian meletakkannya lagi.
"Kamu beruntung punya Tegar, Ra. Andai aku seberuntung kamu," ucap Sendawa.
"Dawa, kita adalah wanita yang beruntung. Kamu masih punya banyak orang yang sayang dan peduli banget sama kamu. Kita berdua wanita yang beruntung, Wa. Cuma cara Tuhan yang sedikit membedakan nasib kita." Aku menggenggam tangannya, mencoba menguatkan.
"Tapi Zamman beda, Ra. Kamu pasti tau gimana rasanya, tanpa perlu aku jelaskan. Bahkan aku nggak tau di mana batang hidungnya sekarang ini. Pergi tanpa penjelasan. Apa bagi Zam semua yang terjadi di antara kami nggak ada artinya? Apa aku yang terlalu berangan-angan dan terlalu berambisi untuk bisa terus memiliki dia? Bahkan mungkin suatu saat bila Zam kembali ...."
Aku mencegah Dawa untuk melanjutkan kalimatnya. Menggenggam tangannya erat untuk menyalurkan energi, namun segera ia tepis dan menghambur ke pelukanku.
"Entah Zamman kembali atau nggak, kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu, Wa. Karena Tuhan yang memberi kamu napas menginginkan kamu untuk berhasil melewati ujian-Nya. Jangan pernah menggantungkan hidup kamu pada manusia, karna manusia itu tempatnya salah." Ku usap punggung Dawa yang sudah ku anggap sebagai adik.
__ADS_1
Aku tahu, bahwa menghibur luka itu tak akan sembuh dan membuat ingatan itu rapuh.
Itu tidak merubah permukaan perasaan yang sudah tergores. Bekasnya mungkin takkan menghilang, meskipun dengan segala proses. Aku hanya membantu menekannya agar tak merekah, berharap sakitnya berkurang dan tak lagi basah.
....
Aku tersenyum. Sangat sumringah. Karena beberapa waktu lalu, aku mendapat surat dari pengadilan agama bahwasanya gugatan yang aku ajukan disetujui dan hari ini akan menjadi sidang perdana. Teleponku berdering, tertera nama tegar di sana.
"Hallo, udah kangen, Toy?" tanyaku diiringi gelak tawa.
"Di mana, Ra? Kalo udah mau jalan, kabari ya. Hati-hati di jalan. Semoga semuanya lancar. Aku sayang kamu, Ra."
"Iya-iya, Sayang. Aku juga sayang kamu, Toy. Ketemu besok, bye."
Sebuah mobil yang sangat aku kenali berhenti tepat di depanku. Aku melongo melihat sosok yang masih berstatus suamiku itu turun dan menghampiri aku. Kami bersitatap dan saling diam. Helaan napas kasar sangat nyaring terdengar di telingaku. Aku membuang wajah.
"Kamu udah yakin sama keputusan kamu, Dek?" tangannya lirih.
"Hmm." Aku mengangguk tanpa menatapnya.
"Mas belum sempat membahagiakan kamu, Dek. Bahkan sebenernya ingin. Rasa sayang untuk kamu itu sudah tumbuh sejak Mas mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Rasanya ingin selalu melindungi kamu. Tapi maaf semuanya belum sempat terwujud," ungkap Mas Kukuh sembari merapikan rambutku yang diterpa angin
"Semuanya hampir selesai, Mas. Kita punya jalan cerita masing-masing dan semuanya belum terlambat untuk kita memperbaiki kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Kita sama-sama punya seseorang di balik punggung rumah tangga kita. Hubungan kita memang nggak sehat dari awal, untuk itu dengan penuh kerendahan hati aku meminta Mas Kukuh untuk melanjutkan sidang kita dan kembali ke jalan cerita kita yang semula. Seperti sebelum kita mengenal."
__ADS_1
"Entah kenapa, Dek. Rasanya berat untuk melepas apa yang sudah kita miliki. Kamu sangat berharga bagi Mas, bahkan dari awal pengucapan janji suci itu Mas bersumpah akan senantiasa menjaga kamu dan segala kebutuhan kamu. Tapi sekarang, kamu yang meminta pernikahan ini untuk segera usai dan secara tidak langsung memaksa Mas untuk mengingkari janji Mas di hadapan Tuhan." Mas Kukuh menghela napas berat seraya membenarkan posisi kacamatanya. Kami saling membisu cukup lama.
"Apa kabar Sukma, Mas? Dia nggak kenapa-kenapa kan?" tanyaku.
"Sempat transfusi darah dan kami semua bingung karna golongan darah Sukma nggak tersedia di rumah sakit. Tapi akhirnya kami menemukan pendonornya dengan cepat. Sekarang dia udah pulih dan kembali beraktivitas seperti semula."
"Sukma kuliah lagi?"
"Iya, setelah aku bujuk dia untuk tetep menyelesaikan S2 nya."
"Bagus deh kalo gitu." Aku tersenyum lega.
"Kita nggak jadi ke pengadilan agama, kan?" tanya Mas Kukuh yang membuatku melotot dan langsung melihat angka di jam tanganku.
"Gawat, tiga puluh menit lagi. Ayo buruan, Mas!"
"Antusias banget. Tau gitu nggak Mas ingetin tadi," jawabnya acuh.
"Mas...." rengek ku yang membuatnya terkekeh namun juga membuatnya menendang ban mobil.
Dalam perjalanan menuju pengadilan agama, aku maupun Mas Kukuh sama-sama saling membisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sebenarnya sedikit tersentuh saat ia mengatakan bahwa mulai menyayangiku dan berjanji di hadapan Tuhan untuk senantiasa menjagaku. Entah mengapa perasaanku tiba-tiba hampa dan sedikit ada rasa tidak rela.
Akhirnya mobil kami tiba di depan gedung pengadilan agama. Aku memejamkan mataku dan menyenderkan kepala. Ini yang selama ini aku inginkan. Tapi mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal? Bukan, ini bukan perasaan cinta. Tapi benar kata Mas Kukuh tadi, bahwa sulit untuk melepaskan apa yang telah kita miliki.
__ADS_1
"Kamu yakin, Gembira?"