Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 13


__ADS_3

Musim penghujan. Gerimis mengawali gelap malam. Membasahi bumi dengan lembut untuk kemudian menumpahkannya menggebu-gebu. Begitu juga dengan cinta. Begitu saja datang menyentuh hati hingga kemudian menggebu-gebu takut kehilangan. Bibir ini terus tersenyum merekah. Memandangi gedung-gedung pencakar langit yang bersinar di tengah kegelapan malam tanpa ragu.


Aku melirik pergelangan tanganku. Malam ini sudah cukup larut. Namun aku masih terjebak macet. Tidak seharusnya aku masih di luar. Aku sudah bisa membayangkan tentang Mas Kukuh yang menungguku di apartemen.


Satu jam lebih aku terjebak macet. Aku berulang kali mendengar helaan nafas sopir taksi akibat macet ini. Aku tahu. Pasti ia sangat merindukan keluarganya setelah seharian mencari receh disepanjang jalan. Aku pun berulang kali mencoba menghibur sopir paruh baya itu dengan mengajaknya berbicara.


"Sudah sampai sesuai alamat ya, Mbak." Sopir itu tersenyum lebar ke arahku lewat kaca yang menggantung di atas. Aku mengangguk sembari membalas senyuman itu lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Kembaliannya untuk Bapak aja. Terimakasih sudah mengantar saya. Permisi." Wajah tua dan lelah itu tampak sangat antusias. Berulang kali mengucapkan kalimat terima kasih.


Langkahku terus menyusuri koridor dengan cepat. Tak peduli dengan tubuh yang sudah lelah. Aku harus segera sampai ke apartemen. Sudah bisa dipastikan bahwa ada pria yang sudah menunggu kedatanganku. Tubuhku tiba-tiba nerveous. Bagaimana tidak? Mas Kukuh kini tengah menatapku dengan datar.


gleg


"Mas--"


"Sukma ngundang kamu sama Tegar untuk doble date besok malam."


"Be-besok?" tanyaku dengan nada gelagapan. Seketika aku menjadi seperti orang bodoh. Dan saat Mas Kukuh melirik ke arah jemariku. Cepat-cepat aku menyembunyikannya. Nafasku naik turun dengan kasar. Namun Mas Kukuh tak kunjung mengalihkan pandangannya. "Aku ke kamar dulu, Mas." Aku segera berlari tanpa berani menatapnya lagi.


"Jangan lupa dengan status kamu, Gembira!" serunya yang membuat telingaku berdenging.


Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Tapi hari ini juga aku menjadi wanita yang ingkar atau bisa jadi berkhianat. Disatu sisi aku bahagia karena lamaran Tegar. Di sisi lain aku harus bersiap untuk menghadapi guncangan setelah ini. Belum lagi ancaman-ancaman Bang Teguh yang semakin meneror ku. Tapi aku tak seberapa takut dengan Bang Teguh, karena ia tidak akan macam-macam lagi mengingat kondisi Tegar yang semakin hari semakin buruk. Sulit untuk merubah bencinya menjadi iba.


***

__ADS_1


"Selamat pagi, Zeteners. Jumpa lagi di pagi yang cerah ini, bersama Gembira Fajarini."


"Dan Awan Setiawan. X Y Zet FM... Pagi yang cerah ini semoga Zeteners selalu diberi kesehatan jasmani, rohani, dan sehat kantong pastinya...."


"Bener banget, Wan. Apalagi tanggal tua, nih. Pasti pada berusaha untuk irit biar cukup sampe bulan depan."


"Tapi jangan cemas Zeteners! Karena yang bokek bukan cuma kalian, tapi kita berdua juga haha. Dan dan dan... Hari ini Zet FM akan menemani kalian beraktivitas dan yang pastinya supaya gembira terus kayak cewek di samping gue nih."


"Bener banget, Wan. Pastinya udah pada nggak sabar untuk dengerin lagu-lagu hits sepanjang masa kan? Nah kita akan puterin lagu-lagu terbaru yang lagi booming banget nih. Kira-kira apa yah?"


"Penasaran nih... Dan jangan lupa untuk kirim-kirim salam di 01547853. Jangan kemana-mana, tetep di Zet FM. Cekidot!"


Aku kembali bergelut dengan profesi ku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan menjadi seorang penyiar radio. Meskipun terdengar sepele, tapi tidak semua orang bisa menjadi menduduki posisi ini.


"Senja?" tanya Tegar membuyarkan lamunanku.


"No, for today. Mendung." jawabku.


"Oke. Gimana kalau shopping? Untuk baju Ra nanti malem."


"Nggak usah, Toy. Baju yang dulu kamu beliin masih ada kok. Bahkan belum aku pake sama sekali. Bingung mau dipake untuk apa. Hehehe."


"Ya udah. Nanti malem dipake ya, Ra." Tegar menggenggam tanganku kemudian mengecupnya. Sedari tadi aku melihat senyum di bibir itu tak pernah pudar. Senyum yang menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku mencintai Tegar sangat dan sangat.


Terang bergantikan gelap. Kelap-kelip lampu mulai menyala dengan anggunnya tanpa berkedip. Mengindahkan dunia malam begitu anggunnya. Malam ini menjadi malam yang masuk kedalam memori muda. Di mana empat insan Tuhan yang saling mencintai duduk di satu meja yang sama. Saling bergurau ria, tak jarang pula Sukma menggoda Mas Kukuh. Wajah yang selalu riang itu kini semakin terpancar. Wanita yang dicintai Mas Kukuh dengan sungguh-sungguh serta wanita yang selalu memancarkan sisi gembiranya. Bagiku, Sukma ialah wanita yang sempurna. Dan seharusnya mendapatkan cinta yang sempurna juga.

__ADS_1


"Eh, Ra. Kamu tau kan si Sora temen kuliah kita dulu. Dia hari ini nikah loh. Nggak nyangka banget kan? Padahal dia tomboi banget loh dulu." Jiwa gosip Sukma mulai keluar.


"Oh iya? Bagus dong kalo gitu. Giliran kamu dong. Kapan halalnya?" tanyaku sembari bergurau. Pada saat yang sama pun, Mas Kukuh tersedak minumannya sendiri. Aku mengernyit heran. Kurasa tidak ada yang salah dari perkataan ku. Tapi apa mungkin ia menganggap ucapan ku berlebihan? Maybe.


"Apaan sih, Ra. Ya jelas aku sama Mas Kukuh bakalan nikah. Tapi kami kan nggak buru-buru. Ya kan, Mas?" Sukma menggandeng tangan Mas Kukuh dengan mesra. Mas Kukuh hanya mengangguk seraya mengusap kepala Sukma dengan mesra.


"I'm sorry. Aku cuma bercanda."


"Nah, kamu sama Tegar kapan?" tanya Sukma yang membuat aku mendelik.


"Segera. Lihat ini," jawab Tegar sambil menunjukkan cincin di jari manis ku. Aku semakin mendelik. Aku merasa ngeri sendiri saat merasa aura mencekam di sini.


"Woooow. Serius? Ya ampun, selamat ya untuk kalian berdua. Aku seneng banget loh. Mas, ucapin selamat buat mereka dong. Malah diem aja."


"Selamat ya," ucap Mas Kukuh. Aku mengangguk bersamaan dengan Tegar yang mengucapkan terima kasih. Aku mulai merasa tidak nyaman berada di sini. Ada lirikan yang sedari tadi seolah mengincar ku. Acara double date yang seharusnya romantis, malah terasa mengerikan bagiku. Tapi aku mencoba untuk rileks.


"Beneran nggak papa pulang sama Mas Kukuh, Ra?" tanya Tegar memastikan. Tapi aku tahu pertanyaan yang ditanyakan berulangkali itu mempunyai arti bahwa seorang Tegar menahan cemburu.


"Kamu tenang aja, Toy. Lagian apartemen Ra sama Mas Kukuh kan sampingan. Ini udah malem juga kalo kamu masih mau nganterin Ra."


"Bener banget, Gar. Udah nggak papa mereka pulang bareng. Jangan cemburu gitu dong. Masa kamu nggak percaya sama Ra," timpal Sukma.


Akhirnya Tegar mengiyakan tanpa membantah lagi. Kini aku berada di kursi penumpang mobil Mas Kukuh. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Entahlah. Terlihat sedari tadi mukanya merah dan berkali-kali memukul setir. Aku menelan saliva ku kasar. Bahkan sampai di basemen pun Mas Kukuh tetap mendiamkan aku.


"Masuk!" perintahnya padaku. Ia memintaku untuk masuk ke dalam apartemen miliknya. Firasat ku mulai tidak enak. Suasana sudah sangat mencekam.

__ADS_1


__ADS_2