
Angin berembus menggoyang-goyangkan dedaunan. Ranting-ranting pun mulai ikut terbawa suasana. Sore ini mendung. Gumpalan awan hitam mulai merapat mencari formasi yang tepat untuk menumpahkan airnya. Hari ini tak ada senja, tapi Tegar tetap ada.
Aku meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada layar laptopku. Mungkin banyak pasang mata yang menatap kami dengan aneh. Lihat saja, pria di depanku sedari tadi tak kunjung usai menatapku. Aku hanya terkekeh dengan tingkahnya. Tapi itulah yang menjadi inspirasi ku. Tegar adalah objek istimewa yang selalu membuatku mengalirkan isi kepala.
"Kedip, Toy." Aku terkikik setelah meliriknya lagi.
"Kalau aku adalah inspirasi kamu, maka kamu adalah tujuan hidupku. Aku terkesima. Kamu adalah wanita pertama yang membuat aku takut akan kehilangan. Bila suatu saat nanti alam merebut mu dariku, maka aku juga akan meminta alam untuk mengambil ku. Semua demi sebuah asa untuk tetap bersama. I will always with you, Ra." Lagi-lagi tegar membuatku berdebar. Cinta memang hebat. Mulut cukup sedikit bicara, biar hati yang memaparkan nya. Aku tertawa menanggapi.
"Tegar, kamu adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan. Kamu adalah satu-satunya alasanku untuk tetap tegar di saat badai menghempas semua yang aku miliki. Aku berharap, semua nggak akan berakhir di sebelas tahun. Ra ingin hidup jutaan tahun bersama Tegar walaupun nanti dunia kita sudah berbeda." Aku menggenggam tangan Tegar dengan erat. Senyum merekah terus menghiasi wajahku. Aku gembira bersama Tegar dan ketegaran.
Aku kembali melanjutkan kegiatanku. Aku seorang penulis. Sudah tiga tahun ini. Tapi hanya Tegar satu-satunya orang yang tahu. Selama tiga tahun ini pula aku selalu mengetik di depan Tegar. Karna Tegar adalah inspirasiku. Meski memakan waktu berjam-jam, dia tetap setia menemani aku. Aku lebih suka menulis jika ada dia di depanku. Karena dia adalah setiap cerita-cerita ku.
Aku menghela nafas. Tak terasa sudah empat jam kami berada di sini. Tapi lihat, Tegar masih setia. Tak sekalipun ia mengajakku untuk pulang. Aku melipat laptopku kemudian memasukkan barang-barang kedalam tas.
"Besok jadi berangkat ke luar kota?" tanya ku. Tegar mengangguk.
"Ada beberapa menu baru yang bakal aku presentasi kan. Tapi hari ini, Gembira adalah orang pertama yang makan menu itu." Aku antusias mengangguk. Tegar adalah chef handal. Aku sangat sering makan-makanan enak buatannya. Bukan hanya enak, tapi juga karna pengaruh cinta. Mungkin bila rasanya seperti brotowali pun kalau Tegar yang buat, aku lahap-lahap saja.
"Nanti selama tiga hari aku di sana, kalo Ra butuh apa-apa minta tolong aja sama Uda Roni, ya." Aku kembali mengangguk. Uda Roni sudah seperti kakak bagi aku dan Tegar. Uda Roni dan aku dibesarkan bersama di sebuah panti asuhan. Sama-sama tak memiliki keluarga lagi.
Hari beranjak malam. Hari ini aku kerja pulang cepat. Sinyal terputus. Untuk itu aku kemari, menyusul Tegar di restoran.
__ADS_1
Tegar membukakan pintu mobil untukku.
"Manis banget sih, Bang." Aku menggoda Tegar dengan kedipan mataku.
Tegar terkekeh kemudian menyibak poniku ke belakang telinga. Mata hitamnya intens menatapku. "Abang emang manis dari lahir, Dek." Aku langsung mencubit perutnya dengan gemas.
Malam ini Tegar mengantar ku pulang. Sama seperti hari kemarin. Bedanya malam ini pulang lebih cepat. Sebenarnya masih ingin menempel, tapi wajah Tegar tak bisa berbohong. Dia cukup penat hari ini. Mobil melesat membelah kota hingga sampai ke apartemen. Rasanya terlalu cepat. Aku ingin terus bersama Tegar. Pria yang sebelas tahun terakhir menjadi rindu kasihku, menjadi fajar senjaku, dan menjadi gembira-tegar ku.
"Kamu hati-hati ya," ucapku sembari menepuk bahunya.
"Baiklah."
"Minggu depan harus checkup." Tegar mengangguk. Wajahnya kian mendekat, aku memejamkan mata. Satu kecupan di pipi. Aku menghambur memeluknya erat, seolah akan berpisah berbulan-bulan. Tanganku melambai mengantar kepergian Tegar. Aku berjalan menuju lift sembari melirik jam di pergelangan tangan, sudah pukul tujuh. Aku harus segera ke atas dan memasak. Kulihat tadi belum ada mobilnya. Sepertinya hari ini dia lembur.
"Halo, aku udah masak. Kalo udah pulang langsung ke apartemen aku, ya." Orang dari seberang telepon mengiyakan.
Aku mulai menata makanan di atas meja. Menuang air ke dalam gelas. Menyiapkan dua piring untuk ku dan dia. Sudah cukup kurasa, tinggal menunggu kedatangannya.
Cklek
Aku menoleh saat pintu terbuka. Dengan segera aku menghampirinya dan mengambil alih jas dan tas yang ia tenteng. Tak lupa aku menyambutnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Ayo makan, Mas. Keburu dingin." Ia mengangguk. Tangannya masih sibuk membuka kancing baju. Aku langsung menyajikan nasi dan lauk pauk ke piringnya.
"Pulang jam berapa tadi, Dek?" tanya nya.
"Jam tujuh, Mas." Aku menghampirinya dan membantunya membuka kancing lengannya. Dia selalu begitu, selalu kesulitan untuk memasang dan melepas kancing baju. Terlalu tidak sabaran.
"Besok-besok kalo udah kemaleman nggak usah masak. Telfon aja, biar Mas yang beliin makanan di luar." Aku hanya mengangguk menanggapi. Tanganku masih sibuk membuka kancing terakhir sebelah kiri. Baju baru, lubangnya masih sempit.
"Tapi lebih baik kalo sering masak sendiri, Mas. Ini udah tanggal tua. Kalo beli terus boros," ucapku sambil menyaksikan ia melepaskan kancing kemeja paling atas.
"Oke deh. Gimana sama Tegar?"
"Baik," jawabku sambil menghidangkan makanan ku sendiri. Ia hanya manggut-manggut.
"Kemarin Sukma nelfon aku."
"Ada apa?" tanya nya dengan mulut yang penuh.
"Tolong lihatin Mas Kukuh pulang jam berapa, pulang sama siapa, intip dia lagi apa, jangan lupa juga untuk ambilin laundry-an nya, mastiin Mas Kukuh badannya tetep sama, nggak terlalu gendut dan juga nggak terlalu kurus, dan ingetin Mas Kukuh untuk ngabarin Sukma. Karna Ra adalah tetangga dari calon suami Sukma, sahabatnya Ra." Aku menirukan gaya bicara Sukma yang agak cempreng. Mas Kukuh tertawa sumbang. Kata-kata itu lagi, pikirnya.
"Aku pulang jam delapan lewat dua belas menit. Pulang sendiri. Aku lagi makan sama Gembira. Sekarang nggak laundry lagi, nyuci sendiri. Bahkan cuciannya nambah banyak gara-gara Gembira. Dan badan aku kayaknya lebih gemuk karna di kasih lemak-lemak terus sama Gembira. Bilang sama Sukma, tanpa harus aku kabari, setiap jam pun dia nelfon." Kami tertawa riuh. Benar-benar kehidupan aneh.
__ADS_1
Dia Mas Kukuh. Pria yang menyandang sebagai kekasih Sukma, sahabatku. Kebetulan apartemen kami bersebelahan. Dia sangat baik dan dewasa. Tapi pria sempurna bagiku hanyalah Tegar. Hanya Tegar.