
"Mas, kamu—"
"Mas nggak sengaja ngikutin kamu tadi. Kamu tinggal di sini?" tanyanya. Aku menggeleng. Langkahnya semakin mendekat padaku.
"Nggak di atas gedung juga kali," jawabku diiringi tawa. Aku melirik pergelangan tanganku, memastikan bahwa Tegar belum segera datang.
"Tegar beruntung punya kamu." Mas Kukuh menyapu pandangannya melihat dekorasi. "Cinta kamu nggak bisa diragukan lagi, Dek. Utuh dan penuh tak tercelah untuk siapapun kecuali Tegar." Aku tersenyum menanggapi tanpa menatap matanya.
"Mas, maafin aku. Maafin semua kesalahanku selama masih menjadi istri kamu. Aku bahkan dengan sadar melakukan hal yang sangat tercela sama kamu, Mas. Keegoisanku yang membuat kamu kehilangan orang yang sangat berharga di hidup kamu. Maaf," ucapku lirih diakhir kata. Mas Kukuh memegang bahuku.
"Semuanya udah jadi takdir. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mengejar mimpi kamu yang sempat terhalangi, Dek. Mas minta maaf juga karna udah buat kamu menderita selama pernikahan kita. Kamu berhak bahagia setelah ini. Melanjutkan langkah-langkah besar kamu untuk menjadi orang yang sukses." Pria tiga puluh tiga tahun itu mengusap kepalaku.
"Kenapa kamu masih sebaik ini sama aku, Mas? Aku jelas-jelas udah menorehkan luka untuk kamu dan keluarga kamu dan—"
"Sssttttt." Ia meletakkan telunjuknya tepat di depan bibirku. Tubuhku bergetar, lagi-lagi aku mengingat senyuman ayah mertuaku yang begitu tulus menyayangi dan menerima segala latar belakangku sebagai menantu. Aku penyebab kematiannya. Berderai deras lagi air mata ini. Mas Kukuh merengkuh tubuhku, tangis ku makin jadi dalam pelukannya. Ia terus menenangkan ku dengan bisikan-bisikan nya.
"Kamu harus beruntung dan bersyukur punya suami kayak Mas. Ganteng, kaya, sopan, tapi sayang," ujarnya menggantung.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Belum pernah nyicip yang begituan." Aku memukul dada nya penuh kesal namun juga tertawa.
"Besok sidang terakhir kita, Mas." Ia mengangguk.
"Boleh peluk lagi? Sebentar aja," pintanya. Aku bersedekap tangan di dada sembari membuang muka. Pria itu malah terkekeh dan menarik ku membawa tubuh ini ke pelukannya. Aku ikut tertawa dan membalas pelukannya.
"Makasih ya udah di masakin tiap hari, udah di siapin pakaiannya setiap hari, udah ngerawat pas Mas lagi sakit. Kamu itu wanita yang luar biasa, Dek. Suami dan anak-anak kamu pasti bangga banget punya kamu."
Malam terakhir bersama suamiku benar-benar membuatku sedikit berat, namun inilah yang terbaik untuk kami berempat. Aku, Tegar, Sukma, dan Mas Kukuh. Kembali pada alur cerita cinta yang semula, memperbaiki satu persatu kesalahan yang telah diperbuat, dan Kembali melangkah bergandengan tangan dengan seseorang yang benar-benar mencintai kami satu sama lain.
Pria yang malam ini masih menyandang sebagai suamiku sebelum esok berpisah pun enggan beranjak, seolah ia tak ingin malam ini ia lewatkan. Tubuhku entah mengapa merasa enggan yang sama. Bukan perasaan cinta, hanya rasa sayang yang muncul begitu saja setelah setahun lebih bersama pria ini.
"Terimakasih juga untuk semuanya selama ini, Mas. Berbahagialah, Sukma adalah wanita terbaik untuk kamu. Jangan menyia-nyiakan atau meragukan cintanya yang besar untuk kamu, Mas. Hati-hati di jalan. Aku akan undang kalian berdua saat aku dan Tegar menikah nanti."
"Mas yakin Tegar adalah pria yang tepat untuk kamu, Ra. Semua orang pasti akan iri dengan keromantisan kalian, haha. Ya udah, Mas pamit. Sehat-sehat, Gembira Fajarini."
Aku kembali ke meja. Mendudukkan diriku di atas kursi, menatap langit yang begitu gelap dengan gumpalan-gumpalan awan hitam. Menutupi semua kemerlap bulan bintang. Suara bising klakson kendaraan dari kemacetan di bawah masih sayup-sayup terdengar di telingaku. Aku yang begitu haus berusaha menahan sebelum Tegar datang.
Empat belas menit berlalu, namun Tegar masih belum juga datang. Padahal seharusnya ia datang tujuh menit yang lalu. Aku melirik pergelangan tanganku lagi, berusaha tenang dan tersenyum. Mengingat lagi saat Tegar akhirnya menyatakan cintanya di tahun sebelas kebersamaan kami. Sungguh sangat lama aku menunggu Tegar mengatakan cintanya, sampai akhirnya senja kala itu. Darah berdesir merangkak naik ke wajahku, tersipu.
__ADS_1
Aku berdiri di tembok pinggiran kemudian duduk di kursi lagi, sampai entah berapa kali aku melakukan itu. Guntur mulai bersahutan menggelar di atas awan, tinggal menunggu rintik dan derasnya hujan. Aku akhirnya meraih ponselku setelah dilanda kebimbangan. Mencoba menghubungi sekali tak terjawab. Ku coba lagi, tidak aktif. Terus ku coba menghubungi Tegar namun terus tidak aktif. Rasa cemas mulai memenuhi hati dan otakku. Ah, mengapa malah ingin sekali aku menangis. Dadaku malah semakin sesak.
Sudah tiga jam. Tiga jam! Gerimis mulai deras, membasahi baju. Aku membawa lagi kue perayaan dua belas tahun kebersamaan Gembira dan Tegar. Masih penuh harapan jika Tegar akan datang nanti. Mungkin saja karena kota ini macet, jadi ia bisa saja terjebak. bisa saja, bisa jadi. Aku menapaki tangga dengan sangat hati-hati dengan sebuah kue yang lumayan besar di tanganku.
Aku mengetuk pintu apartemen Sendawa. Nihil, tidak ada sahutan sama sekali. Aku juga merasa janggal, harusnya Dawa berada di luar untuk menunggu kehadiran Tegar dan membawanya ke atas bersamaku. Tapi Dawa pun sama sekali tidak muncul sedari tadi walau hanya sekedar memberi tahu jika Tegar belum datang. Cemas semakin cemas. Aku mencegah seseorang yang hendak masuk ke dalam apartemen tepat di depan apartemen Dawa lalu menitipkan kue tadi.
Aku berlari menyusuri koridor dengan berlari tergesa-gesa. Mencoba menghubungi Sendawa berkali-kali namun tak kunjung mendapat jawaban. Ya ampun, aku benar-benar takut sesuatu terjadi pada Tegar maupun Sendawa lantaran mereka berdua sama-sama tidak menjawab telepon dariku.
"Pak, ada tamu yang datang kemari tadi?" tanyaku pada seorang satpam yang berjaga di luar.
"Wah, saya juga kurang tau, Mbak. Soalnya saya baru saja ganti sift," jelas pria itu.
"Oh, kalau gitu apa Bapak tadi melihat pria ini atau wanita ini? Yang wanita salah satu penghuni apartemen di lantai tiga puluh empat, Pak."
"Oh, kalo mbak ini saya kenal. Tadi saya lihat beliau buru-buru gitu, Mbak. Tapi saya nggak tau mau kemana malam-malam begini. Kalau cowoknya saya nggak lihat," jawab satpam itu.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Terimakasih atas informasinya," pamit ku.
Wajahku semakin pias. Bahkan kini ponselku mati. Aku menerobos hujan yang luruh menggebu-gebu. Pada akhirnya aku duduk di halte, meluapkan rasa sesak ingin menangis sedari tadi. Kemana Tegar? Tegar tidak pernah ingkar janji. Apa mungkin ada sesuatu yang sudah terjadi? Aku menggeleng, membuang pikiran-pikiran kotor tentang pria ku.
__ADS_1