
Jantungku seperti ingin lompat dari tempatnya. Menangkap tatapan mengintimidasi dan penuh dengan kekecewaan itu. Baru sepatah kata, namun pipinya sudah berderai air mata dan isak tangisnya. Mulutku tercekat. Mulai melangkah mendekat untuk meraih kaki itu.
Aku bersimpuh. Tangis ku kian meraung. Hatiku pun seolah tersayat kala mendapati ibu mertuaku yang kini diam seribu bahasa.
"Ibu, ampun. Tolong jangan benci Gembira," lirihku. Aku enggan mendongak karena tak mampu menatap wajah wanita paruh baya itu.
"Ibu," rengek ku lagi saat ibu sama sekali tidak merespon dan masih menatap tajam ke arah Mas Kukuh.
Sesaat kemudian, ibu memintaku berdiri dan menjajarkan tinggi badan kami. Tatapannya melembut, ia belai rambutku dengan sangat sayang. Aku semakin terisak. Apakah wanita seperti ini yang akan aku tinggalkan nanti? Ibu mengusap air matanya lalu meninggalkan kami begitu saja. Tentu saja ibu sangat terpukul mendengar ini semua. Belum lagi ibu masih sangat berduka atas meninggalnya ayah. Siapa yang egois di sini? Aku.
Empat hari sudah ayah meninggalkan kami semua yang ada di sini. Rumah duka semakin ramai saat sanak saudara mengumpul menjadi satu di sini. Riuh obrolan dan teriakan anak-anak menggema, seperti tak ada yang berduka sama sekali. Semuanya sudah ikhlas atas kepergian ayah dan memilih untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Aku dalam berbagai kesempatan memilih menghindar dan tidak berbaur dengan mereka. Bukan tanpa alasan, Mas Kukuh yang memintaku. Bisa dipastikan mereka akan mengintrogasi dan menanyai segala macam tentang rumah tanggaku. Tentu aku tidak mau itu terjadi dan terus menerus berpura-pura di depan mereka. Aku duduk di bawah pohon jeruk. Dedaunannya bergoyang mengikuti alur angin yang berembus.
"Ra, ada Suk—Sukma. Kamu—" ucapan Pak Sam terputus. Aku segera beranjak dan meninggalkan Pak Sam yang masih menganga tak percaya.
Sukma benar-benar datang.
Mataku terus menyusuri wajah Sukma di antara para orang-orang yang ada di ruang tamu. Ada beberapa yang tersenyum padaku dan ada beberapa pula yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku setengah berlari menuju ke teras rumah dan nihil, tidak ada Sukma di sana. Aku pun tidak mendapati ibu dan Mas Kukuh di manapun. Aku semakin cemas. Tak putus arang, aku langsung menyusuri rumah luas ini dan tidak satu sudut pun ku lewatkan.
__ADS_1
Aku kembali lagi ke ruang tamu. Tidak ada Sukma maupun Mas Kukuh. Siapa yang tidak cemas di situasi seperti ini. Bagaimana kalau ibu malah mengusirnya. Mau bertanya lagi pada kakak ipar, tapi entak di mana juga batang hidungnya. Aku memutuskan untuk menuju lantai dua, menapak satu persatu tangga. Mulai dari kamar Mas Kukuh, tidak ada. Di kamar mandi, jelas tidak ada lah. mau apa juga di kamar mandi. Saat kakiku akan menapak lagi menuruni tangga, aku berhenti. Sebentar, apa mungkin di kamar kosong itu? Ah, masa iya? Tapi aku tidak tahu kan kalau tidak aku lihat dulu?
Perlahan aku mendekat di dekat pintu. Memasang telinga guna memastikan ada orang di dalamnya. Benar dugaan ku. Huft, sebenarnya aku tidak ingin overthinking, tapi yang sebenarnya terjadi membuatku semakin overload thinking.
Cklek
Haha, benar kan. Wajah terkejut mereka berdua seperti orang yang ketahuan selingkuh.
"Ra, kamu dari tadi di situ?" tanya Mas Kukuh dengan gugupnya. Aku menahan tawa. Aku saja baru masuk, kok ditanya dari tadi si situ.
"Nggak kok, aku cuma nyariin Sukma tadi. Tapi ternyata Sukma udah aman sama kamu, Mas. Udah aman di pelukan kamu." Sekali lagi aku ingin tertawa melihat ekspresi Mas Kukuh. Mas Kukuh mendekati aku. Wajah Sukma tampak sangat kesal saat ini. Mendengus kasar dan membuang muka.
"Oh, Sukma mau istirahat?" tanyaku dan Mas Kukuh mengangguk. "Ya udah, lanjut aja."
"Apanya yang lanjut?"
"Kelon nya," bisik ku sambil melirik Sukma yang semakin menatapku tidak suka.
"Sukma, aku tinggal dulu ya. Maaf aku ganggu waktu istirahat kamu. Biar suami aku yang jagain kamu di sini. Aku pinjemin suamiku tapi jangan sampe lecet ya!"
__ADS_1
Brak
Buru-buru aku keluar dari kamar itu. Kamar yang di dalamnya terdapat seorang suami dan selingkuhannya. Aku terkikik geli mengatai Sukma sebagai selingkuhan Mas Kukuh. Padahal sudah jelas-jelas bahwa aku yang menjadi tembok penghalang di antara mereka. Aku yang sudah merebut Mas Kukuh dari seorang Sukma, sahabatku. Eh, sahabat? Oke lah. Tetap akan ku anggap sahabat meskipun mulutnya dengan jahatnya memaki dan menghina kedua orang tuaku yang tidak diketahui asal usulnya.
Aku lelah dan memutuskan untuk tidur di kamar. Biar saja saudara-saudara di bawah. Mereka asik sendiri dan untuk makanan, mereka tidak sedikitpun minta dimasakkan atau dilayani. Ah, nyamannya kasur ini. Sudah lama aku tidak tidur di kasur empuk seperti ini semenjak aku memutuskan untuk meninggalkan apartemen dan tidur di Rumah Asuh.
"Halo, Sayang!" sapa ku pada Tegar yang menghubungiku bertepatan dengan pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.
"Mati? Kok bisa?" Tegar menjelaskan dari telepon.
"Kasian banget. Tapi Raisa baik-baik aja, kan? Kamu langsung kuburin di samping yang dulu ya."
"Oke kalau gitu. Good bye, Sayangku. Emuaaaccchhhh." Aku meng-klik tombol merah mengakhiri percakapan yang ku sengaja dengan nada seperti tengah tergila-gila pada cinta pandangan pertama. Aku menoleh, pura-pura tidak tahu jika ada orang.
"Eh, Suami." Nyengir. Tangan pria itu berkacak pinggang dengan raut wajah sebalnya. Aku menaik-turunkan alisku, menggodanya.
Gila, mukanya lama-lama seram!
"Mas Suami kok kesini? Nanti mbak selingkuhannya nyariin, loh," godaku. Muka pria itu memerah dan pergi begitu saja menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Solo karier dulu, yang diajak duet lagi sibuk mikir skenario," selorohku yang membuat Mas Kukuh membanting pintu kamar mandi dengan kasar.