Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 20


__ADS_3

Aku menyusuri koridor rumah sakit dengan sangat sumringah. Menyapa setiap orang yang aku lalui dengan ramah. Entah mengapa hatiku terus menerus mengucap syukur. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum akhirnya aku kembali harus memperjuangkan kata maaf dari orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Di mulai dari hari ini, semoga esok kan baik-baik saja.


Tinggal beberapa langkah lagi aku hendak masuk ke dalam ruang rawat ayah, namun sebuah tangan kekar lebih dulu mencekal pergelangan tanganku dengan kuat. Aku terperanjat kaget saat menyadari bahwa ternyata Mas Kukuh juga ada di sini.


"Ikut saya sekarang!" perintahnya padaku. Aku berusaha menolak dan memberontak atas apa yang ia lakukan sekarang. Namun ia dengan segala kekuatan lelakinya memaksaku untuk mengikuti langkahnya.


Mas Kukuh membawaku masuk ke dalam mobilnya. Berkali-kali aku meminta untuk turun, tapi ia seolah tuli dan tidak mau merespon sama sekali ucapan ku. Aku bisa melihat rahangnya yang mengeras dan sorot matanya yang tajam. Mungkin saja ia sudah tahu tujuanku ke rumah sakit. Itu sebabnya ia begitu kasar, sama seperti semalam saat ia sangat berambisi merenggut kehormatan ku.


Aku memilih untuk tidak lagi berteriak, percuma saja jika ia tak mau mendengarkan. Namun aku kembali terkejut tatkala mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah hotel. Aku menatapnya dengan bengis. Sumpah, aku sangat ingin memakinya habis-habisan saat ini. Tak sampai berhenti sampai di sini, Mas Kukuh kini keluar dan membukakan pintu untukku.


"JANGAN PAKSA AKU, MAS!" bentak ku. Tapi aku memang sedang memancing emosi pria yang sedang menyandang sebagai suamiku itu.


Aku terpaksa kembali mengikuti langkah Mas Kukuh yang sangat cepat. Semua orang yang ada di sana menatap kami dengan penuh tanda tanya. Aku berusaha keras untuk tidak berteriak dan menangis. Tetap ku ikuti langkah Mas Kukuh yang membawaku ke sebuah kamar.


"STOP, MAS!" sentak aku menepis tangannya dari pergelangan tanganku.


"Saya nggak nyangka kamu segila ini. Semua yang kamu butuhkan sudah saya penuhi dan martabat kamu sebagai seorang wanita sudah saya selamatkan. Tapi lihat, apa balasan kamu saat ini, Ra!" Matanya tajam menusuk.


"Jangan merasa kamu yang paling tersakiti, Mas. Aku juga udah berkorban banyak untuk tetap bertahan di hubungan kita. Sekarang apa lagi? Apa yang mau dipertahankan? Kita punya cerita kita masing-masing, Mas. Antara aku dan kamu itu nggak akan menjadi satu cerita. Harus gimana lagi aku bicara? Aku udah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, tinggal menunggu panggilan dan kita akan selesai," cercaku.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipiku. Aku tersenyum miring. Menahan sakit dan juga perih di pipi dan hatiku. Aku memperbaiki posisi kepalaku tanpa memudarkan senyuman. Aku menatap matanya yang berubah sendu sembari menatap tangannya yang baru saja menamparku. Gemetar. Tangan itu gemetar. Tapi aku tak kalah gemetar, membuka satu persatu kancing bajuku tanpa mengalihkan pandanganku ke lain arah.


"Dek, kamu mau ngapain?" tanyanya. Aku tersenyum sinis dan tanganku masih sibuk dengan kancing baju yang mulai terbuka satu persatu.

__ADS_1


"Kenapa kaget? Mas mau tubuhku kan? Sekarang aku akan melayani kamu dengan sukarela. Bukannya tubuh ini milik kamu? Ayo sini," ujar ku dengan sangat gila.


Mas Kukuh memundurkan langkahnya. Seirama dengan itu, aku pun semakin maju mendekatinya yang berusaha menjauh.


"Ayo, kenapa makin jauh? Aku udah siap melayani kamu, Mas. Atau Jangan-jangan kamu-"


"Cukup! Oke, kalo itu mau kamu." Ia menyambar bibirku dengan penuh napsu. Aku memejamkan mataku berusaha untuk menahan isak tangis ku.


"Udah?" tanyaku setelah ia melepaskan panggutan nya. Aku menjatuhkan kemeja ku ke lantai. Air mata terus ku usap agar tidak luruh, menahan gejolak diri yang hampir gila.


Brak


Pintu didobrak paksa dari luar.


....................


Lamat-lamat aku mendengar suara-suara yang memanggilku. Aku berusaha untuk membuka mataku yang masih sedikit berat. Menatap langit-langit, berharap jika aku sekarang sudah keluar dari mimpi buruk. Mimpi buruk yang menghancurkan segalanya.


"Ra...." Seseorang menggenggam tanganku.


"Tegar, kamu kenapa di sini?" tanyaku lirih.


"Aku akan menemani kamu, Ra," jawabnya tak kalah lirih. Tegar menciumi tanganku seolah takut aku tidak baik-baik saja.


"Tapi, apa masih pantas? Ra udah berkhianat, Tegar." Aku terisak, berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Tegar.

__ADS_1


"Semuanya salahku, Ra. Aku gagal menjaga kamu."


Aku menggeleng, kembali menatap langit-langit dan berkata, "Aku adalah wanita terburuk. Aku adalah wanita yang nggak becus menjaga diri sendiri. Aku gagal menjaga kepercayaan kamu, Gar."


"Jangan pernah bicara begitu, Ra. Jangan. Aku akan tetap mendampingi kamu apapun yang terjadi. Maaf, aku udah melanggar janji aku untuk selalu melindungi kamu. Maaf."


"Tapi kamu lihat air mata ini? Aku nggak bisa menjadi seorang yang tegar seperti yang kamu inginkan. Aku lemah, Tegar. Aku nggak sekuat itu. Aku bukan Gembira." Tegar memelukku. Menyalurkan energi yang ia punya untuk kembali menguatkan aku. Sempat terpikir olehku, bahwa kedua orang tuaku keliru dalam menganugerahkan nama Gembira padaku. Nyatanya aku tidak bisa menjadi wanita se-gembira itu. Aku punya titik rapuh.


Tiga belas menit berlalu, Tegar berhasil memenangkan emosiku. Ia terus mengatakan kata-kata yang membuat pikiranku teralihkan. Senyumnya yang indah dan wajahnya yang teduh, kembali membuatku tenang. Ia sama sekali tidak mengizinkan aku mengalihkan pandangan dari matanya.


"Tegar, gimana kalau nanti Ra jadi janda?" tanyaku saat Tegar tengah menyiapkan makanan untukku. Aku melihatnya tertegun.


"Terus?" tanyanya. Dahi ku berkerut.


"Toy-"


"Itu bukan alasan yang kuat untuk aku meninggalkan kamu, Ra."


"Tapi Tegar pernah bilang sama Ra; kalau sampai Ra mengkhianati Tegar, maka Tegar akan meninggalkan Gembira."


"Nggak usah mikir macem-macem. Sini aku suapin." Tegar mulai menyendok kan makanan untukku. Tak bisa dipungkiri, hatiku masih sangat tidak karuan. Nestapa ini harus cepat berlalu.


Tegar memapah ku untuk duduk di dekat jendela rumah sakit ini. Kami berada di lantai sebelas yang memberi kesempatan untuk menikmati senja lagi untuk kesekian ribu kalinya.


Langit dengan sejuta pesonanya, kembali memamerkan keindahannya lewat cakrawalanya yang menjingga. Burung-burung camar ikut menyambut ria sang cahaya. Aku juga, menantikan tenggelamnya selama empat puluh tujuh detik tanpa bersuara. Hanya doa-doa yang terlantun dalam hati, merayu Tuhan agar mempermudah urusan duniaku. Dan juga, cinta. Aku ingin cintaku tetap pada pria yang mencintaiku juga, Tuhan. Sedikit memaksa, aku ingin Tegar, Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2