
Kesekian kalinya aku mengadu ke beberapa makhluk Tuhan yang yang sibuk menunjukkan keimutannya. Di kala hati menyengat kesakitan, rumah Raisa-lah yang menjadi tempat pelampiasan ku. Di rumah kecil ini, aku merasakan ketenangan setelah berbincang pelan dengan anak-anak Raisa yang menjadi sahabat baru ku.
Aku seorang diri. Hanya bisa membagikan keluh kesah ku pada makhluk-makhluk kecil ini. Lucu saja hidup ini. Kenapa harus aku yang menderita? Kenapa harus aku yang mempunyai alur kehidupan seperti ini? Seolah-olah tidak sadar, dia telah menyiksa sekuntum hati yang sangat rentan akan rasa sakit.
Ku sambar tas ranselku dan segera bergegas dari kesedihan yang selama ini tetap ku pendam. Langkah cepat ku dengan sigap memangkas perjalanan. Melewati ribuan orang yang juga tengah sibuk menjalani hari ini. Rambutku terkucir tinggi dengan setelan pakaian kantor pada umumnya. Bedanya dengan wanita lain, aku lebih suka mengenakan celana dasar. Dan saat terjadwal ke stasiun radio, aku lebih suka memakai jeans.
"Selamat pagi, Bu Mirna," sapa ku sopan.
"Selamat pagi, Bu Rara," balasnya tak kalah sopan.
Hanya basa basi saja, aku langsung masuk ke dalam ruangan ku. Tumpukan-tumpukan berkas sudah tertumpuk tinggi dan siap untuk disambangi. Aku tersenyum. Ingat, aku tersenyum bukan mengeluh. Pekerjaan yang menumpuk ini sangatlah membantuku melupakan sejenak pikiran-pikiran yang penuh akan dunia yang semakin kejam mempermainkan ku. Jemari lentik ku mulai menari di atas keyboard. Sembari menunggu lingkaran loading, aku melirik ke arah cermin lalu mengedipkan sebelah mataku. "Semangat!" Itulah yang aku serukan pada diriku sendiri sembari mengepalkan tangan ke atas.
Tok tok tok
"Masuk!" seru ku. Pandanganku tak beralih dari layar monitorku. Aku sudah mengira bahwa itu Pinus, rekan kerjaku yang sering ditugaskan untuk mengantar dan menjemput file dari ruangan ku.
Lima detik, sepuluh detik, tiga belas detik. Aku tak mendengar sepatah katapun dari orang yang baru saja masuk. Aku menghentikan jemariku. Celingak-celinguk mencari orang yang tadi mengetuk pintu dan masuk. Tapi nihil. Tiba-tiba tengkukku bergidik kala aku merasakan hembusan napas seseorang dari belakang.
"Laporan pengiriman barang ke Timur belum terupdate." Suara bariton yang sangat membuatku terkejut.
"Mas, ke-kenapa ada di sini?" tanyaku konyol. Jelas saja ia di sini untuk memantau semuanya baik-baik saja. Toh, dia juga anak dari pemilik perusahaan kopi ini.
__ADS_1
"Tolong segera hubungi pihak pengirim. Seharusnya barang sudah sampai kemarin, kan? Dan sampai hari ini belum ada laporan barang itu sudah sampai."
"Baik, akan saya hubungi segera," jawabku sambil mengalihkan lagi pandanganku pada layar monitor.
Tak ada sahutan lagi dari Mas Kukuh. Ia langsung saja melewati ku tanpa menoleh. Aku melayangkan tinjuku di udara setelah pintu tertutup. Yang benar saja, jelas-jelas aku merasakan bibir lancang itu tadi menempel di leherku. Dan setelah ia bersikap seolah tak memiliki salah apa-apa. Aku mendengus. Sudah lima hari aku tak bertegur sapa dengan suamiku itu sebab penolakan ku saat itu. Hari di mana ia mengharamkan langkahku keluar adalah hari di mana ia kembali menuntut hak nya sebagai seorang suami. Tapi aku tetap pada pendirian ku yang tak ingin mengkhianati Tegar lebih dalam.
Ting
"Saya ingin bicara empat mata sama kamu. Saya tunggu di Resto Clarinet setelah jam kerja." Tulis pesan dari seseorang yang mengetahui rahasia ku.
Baik, bukan tidak ada yang mengetahui rahasiaku. Ada. Hanya satu orang selain Mas Kukuh. Dan aku mengiyakan ajakan itu untuk menghargainya.
***
Sat set sat set. Itulah yang aku lakukan sekarang, menyalip lihai mobil-mobil yang kesulitan bergerak cepat.
"Maaf, Pak. Saya terlambat, ya? Sudah lama nunggu? Sebagai permintaan maaf, saya yang bayar bill nya nanti, ya?" cercaku. Namun pria di hadapanku tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan ku dan memilih memanggil pelayan restoran.
gleg
"Jadi bera-"
__ADS_1
"Mbak, cofee late satu sama makanan biasanya, ya." Pak Sam membuatku berdecak tapi juga lega karna aku tidak jadi membayar minuman dan makanan yang sudah pak Sam pesan sebelum aku datang.
"Kamu nggak bisa narik kata-kata kamu, Gembira," kata Pak Sam seolah bisa membaca pikiranku.
"Tapi saya kan belum gajian, hehehe."
"Gampang, tanggal gajian kamu saya majukan hari ini. Tapi terpotong dengan tagihan makan kita. Saya sudah nunggu kamu satu jam lebih, loh." Aku meng-oke kan dengan pasrah. "Tapi saya akan membayar semuanya jika...." lanjutnya.
"Beneran, Pak?" tanyaku antusias yang mengundang gelak tawa Pak Sam.
"Dengan syarat, kamu harus menceritakan masalah kamu ke saya dengan jujur," ucapnya membuatku terpaku.
"Ma-masalah apa? Ya udah, saya aja yang bayar bill-nya. Saya permisi ke kasir dulu."
"Kukuh sebenarnya adalah orang yang gigih keras kepala, Ra. Sekeras apapun kamu mau melepaskan diri, itu akan sulit. Minim harapan," ujar Pak Sam. Aku kembali mendaratkan diriku di kursi.
"Tapi anda tau, kan? Saya hanya mencintai Tegar. Juga sekeras apapun Mas Kukuh menahan saya, itu tidak akan merubah perasaan saya sedikitpun. Dan satu lagi, Sukma juga sahabat saya. Saya tau dia pasti akan marah dan kecewa dengan pernikahan yang saya jalani dengan kekasihnya."
"Tapi semuanya sudah terjadi. Belum tentu setelah semua terbongkar, Tegar ataupun Sukma mau menerima kalian lagi. Mungkin hatinya sudah hancur dan memilih mundur? Terus setelah itu? Kamu mau ke mana? Cuma Kukuh satu-satunya orang tempat kamu pulang, Ra. Cuma suami kamu. Saya yakin dia bisa membuat kamu bahagia."
"Tapi-"
__ADS_1
"Saya orang pertama yang akan membantu kamu pergi jika itu terjadi. Jika Kukuh menyakiti dan mengkhianati kamu, saya yang akan membawa kamu pergi. Saya janji," tegas Pak Sam.
Aku hanya buang-buang waktu di sini. Tidak ada yang bisa membantu sepenuhnya seperti yang aku inginkan. Sore menjelang malam ini, matahari mulai berkemas untuk pergi menyinari sisi lain bumi ini. Aku pun berkemas. Capek. Marah. Frustasi.