
Angkasa terselimuti awan hitam yang begitu pekat dan merata. Menghalangi sinar cakrawala yang baru saja menerbitkan sinarnya, kini suram. Sesuram situasi saat ini kala Sukma kembali menanyakan kebenaran antara aku dan Mas Kukuh. Sudah setengah jam lebih aku tertahan di sini mendengarkan perselisihan mereka berdua yang tak kunjung usai.
Meskipun canggung, tapi aku tidak secanggung tadi saat ketakutan Mas Kukuh akan membongkar semuanya. Beruntung, Mas Kukuh masih memikirkan resikonya jika pernikahan kami terbongkar sekarang.
"Kalau gitu aku mau berhenti kuliah. Aku mau kita menikah, Mas."
Aku meneguk jus orange dengan kasar hingga menimbulkan bunyi. Pernyataan sekaligus permintaan Sukma membuat Mas Kukuh diam seketika. Ia melepaskan kacamata dan menatap Sukma dengan intens. Aku masih menyimak, menanti keputusan yang akan Mas Kukuh ambil sembari menggigit pipet.
"Kenapa kamu tiba-tiba mau nikah, Sayang? Dari dulu kamu selalu nolak kan kalo aku ajak kamu nikah? Dan sekarang kamu mau memutus mimpi kamu gitu aja?" cerca Mas Kukuh.
"Aku berubah pikiran, Mas. Setelah dipikir-pikir, lebih baik aku menikah sebelum kamu jatuh di tangan orang lain."
"Memang udah jatuh, Ma. Kamu telat," batinku. Entah kenapa aku merasa kesal dan juga janggal dengan keputusan tak terduga dari Sukma.
"Ra, maafin aku udah salah paham dan nuduh kamu yang nggak-nggak, ya. Aku terlalu cemburuan sama Mas Kukuh. Padahal harusnya aku tau kalo kamu nggak akan mengkhianati Tegar."
Aku mengangguk untuk kemudian berkata, "Kalian berdua harus bicara. Kalian udah sama-sama dewasa, udah saatnya untuk kalian meresmikan hubungan kalian. Aku yakin, kalian itu berjodoh." Aku tersenyum miris. Entah perasaan apa yang mengganjal dalam hati. Aku yakin bahwa aku mencintai Tegar, tapi yang menjadi suamiku saat ini ialah Mas Kukuh. Jadi mungkin wajar saja aku merasakan ini. Hanya perasaan simpatik antara istri untuk suaminya.
Aku berpamitan setelah menyedot habis minumanku secepat kilat.
Hujan lebat siang ini. Sedikit mempersulit diri yang sudah membuat janji bertemu dengan manusia iblis yang telah menghancurkan segalanya. Jalanku tergesa, menyusuri jalan yang mulai padat kendaraan. Aku memilih berjalan karena jarak restoran tadi dengan tempat yang manusia iblis itu janjikan tidak terlalu jauh.
Aku sedikit berlari memasuki sebuah kafe setelah menitipkan payung ke petugas.
"Mbak, meja atas nama Teguh Bromo di mana, ya? Saya keliling dari tadi nggak ketemu."
__ADS_1
"Beliau ada di ruangan VIP, mbak. Mari saya antar."
Perasaanku sedikit tidak enak saat mendengar pernyataan bahwa manusia itu sedang menungguku di ruangan VIP. Sebenarnya apa yang ia rencanakan lagi? Aku mengutuk habis-habisan pria itu.
"Ada apa?" tanyaku ketus setelah mendaratkan bokongku di sofa. Aku terus mengawasinya yang seolah menelanjangiku lewat mata jelalatan nya.
"Halangi pernikahan suamimu dengan pacarnya."
"Nggak akan!"
"Cih. Apa kamu pikir setelah kamu bercerai dengan Kukuh, lalu Tegar mau menerima kamu sebagai janda? Jangan terlalu tinggi bermimpi, Gembira! Lebih baik kamu pertahankan rumah tangga kamu dan tetap mendapatkan Kukuh. Atau kamu bercerai tapi tidak mendapatkan siapapun di antara mereka berdua."
Aku terdiam. Mencerna setiap kata-kata yang Bang Teguh ucapkan. Aku memilih beranjak meninggalkannya.
"Aku lihat kamu makin kurus, Ra. Jaga kesehatan. Maaf," ucapnya saat aku memegang handle pintu.
"Aku udah keterlaluan membenci kamu, Ra. Seharusnya dulu aku nggak pernah mencintai kamu kalau akhirnya malah benci yang tertanam."
"Jangan urusi kehidupan aku yang udah kamu hancurkan, Bang. Aku tau yang terbaik untuk diriku sendiri. Tolong jangan buat aku semakin tertekan," jawabku.
"Aku akan jadi orang pertama yang melindungi kamu saat dunia tidak lagi berpihak ke kamu, Ra."
"Kamu pikir aku percaya sama ucapan kamu? Jangan berharap lebih. Ingat satu hal, kamu adalah penyebab semua ini. Aku benci kamu sampai kapanpun, Bang."
Aku pergi meninggalkan ruangan itu. Bang Teguh sebenarnya baik. Tapi kecemburuan dan obsesinya sudah menutup matanya. Aku yakin jika Tegar sudah menceritakan semuanya pada Bang Teguh. Tapi aku tetap tidak akan pernah memaafkannya.
__ADS_1
***
"Dari mana aja?" suara bariton menyambut ku yang baru saja melangkahkan kaki masuk.
"Ketemu Tegar," jawabku cuek.
"Mulai sekarang jangan temui Tegar lagi."
"Why? Jangan ngatur aku," jawabku sembari melepaskan sepatu dan kaos kakiku. Menanggapinya dengan acuh.
"Dek-"
"Lepaskan aku, maka semuanya akan baik-baik aja, Mas. Mas bisa menikah sama orang yang udah pasti mencintai Mas Kukuh. Apa Mas nggak capek, hampir tiap hari kita berdebat, Mas."
"Jangan pernah bicara itu. Cuma Mas yang berhak." Rahangnya tampak mengeras.
"Aku juga berhak, Mas. Aku berhak menentukan apa yang terbaik untuk hidupku. Aku akan urus semuanya sekarang!" seru ku. Tubuhku terhuyung saat hendak menyambar tas ku.
Aku memukul punggungnya sekeras tenaga. Berusaha memberontak atas apa yang ia lakukan saat ini. Namun ternyata aku tak sekuat itu melawan tenaganya yang sangat menggebu-gebu malam ini. Sumpah serapah dan teriakan terus terlontar dari mulutku. Hatiku benar-benar hancur. Malam ini, suamiku memperlakukan aku dengan kasar. Beruntung, belum sempat melakukan penyatuan, Mas Kukuh masih menggunakan akal sehatnya untuk tidak menyakitiku.
"Maaf," ucapnya lirih. Napasnya masih terengah.
"Kamu nggak lebih dari seorang bajiingan, Mas," ucapku dengan terisak. Membalikkan tubuhku membelakanginya.
"Maafin Mas yang nggak bisa mengontrol diri, Dek," bisik nya seraya memeluk ku dari belakang.
__ADS_1
"Aku benci kamu, Mas."
Aku membuka jendela. Angin berhembus sendu. Udara masuk ke rongga hidungku dengan teratur. Merespon setiap helaan nafas ku yang kasar. Menerpa wajahku dengan sangat lembut, seolah menenangkan aku. Aku sudah hampir gila menghadapi situasi ini. Menahan diri untuk tidak bersuara. Aku adalah pendosa yang berharap lepas dari genggaman suami hanya untuk pria lain. Dan tak tahu malunya aku terus merayu Tuhan.