
Pagi ini aku memilih berangkat lebih awal. Melewati manusia-manusia yang menatapku aneh. Aku hampir tidak pernah bertemu fajar. Tapi kali ini, aku putuskan untuk menyapanya. Menatapnya dengan penuh harap, semoga hari ini kan cerah. Begitu juga dengan diriku. Sedari sepuluh menit terakhir ponselku terus berdering. Satu nama yang yang sepertinya tak kunjung putus asa untuk menghubungiku. Aku acuh. Memilih menikmati kesejukan hembusan nafas alam tanpa pencemaran. Aku teringat Tegar. Aku lupa untuk mengabarinya. Aku ingin bercerita padanya tentang cintaku yang tumbuh subur dengan sempurna. Aku ingin seperti langit yang selalu mencintai senja dengan caranya sendiri. Aku juga ingin seperti pasangan burung angsa yang senantiasa bersama belahan jiwanya hingga akhir hayat. Aku ingin mencintai Tegar sampai kapanpun. Cintaku teramat besar. Hah, kata-kata ku terlalu lebay namun seperti itulah seseorang jika selalu dilanda asmara.
"Minum dulu." Seorang pria bertubuh jangkung menyodorkan sebotol air mineral padaku. Aku nyengir sambil menerimanya. Entah sudah berapa jauh aku berjalan dari apartemen. Membuat dahagaku kering. Aku menatap silih berganti orang-orang yang tengah memulai harinya.
"Ngapain ke sini?" tanyaku.
"Tadi nggak sengaja lihat Gembira yang kehilangan Tegar-nya. Jadi aku samperin deh, takut nanti Gembira nyari Tegar yang lain. Kan kasian si Mahameru." Aku berdecih menanggapi ucapan Mulyana, teman Tegar. Aku tidak akan melakukan itu, Tegar. Tidak ada Tegar lain. Bahkan setitik air di padang rumput pun tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku berharap tidak akan pernah ada luka, meski aku sendirilah yang tengah merakit luka itu.
Pukul 07.00 WIB. Saatnya untuk bergegas merajut hari. Demi masa depan yang selalu aku dan Tegar impikan terwujud. Hidup bersama dengan cukup, memiliki putra dan putri yang bisa hidup dengan layak, dan tetap berdampingan di saat gembira dan tegar. Tidak ada kesedihan, hanya ada gembira dan ketegaran. Semoga.
Kakiku melangkah dan terus melangkah hingga sampai di depan gerbang perusahaan tempatku bekerja. Entah seperti apa bau badanku sekarang. Terserah saja, aku tidak peduli. Bagiku kerja ya kerja. Tidak perlu terlalu banyak tebar pesona dan cari perhatian. Cukup saja kompeten, tidak muluk-muluk.
"Gembira Fajarini!! Apa kamu tidak pernah memperhatikan penampilanmu saat bekerja? Lihatlah, bau badanmu dan baju lusuh mu itu sangat tidak profesional. Sangat tidak pantas dengan posisimu di perusahaan ini!" Seorang wanita berumur sedang mencelaku. Aku hanya tergelak. Tidak ada waktu untuk mengurusi bawahan yang tidak derajatnya hampir sama denganku.
__ADS_1
"Ciih. Rupanya dijadikan anak emas membuatnya lebih besar kepala," sindir wanita pendukung yang membuat telingaku gatal.
Aku langsung berkutat dengan laptopku saat telah usai menyalakannya. Memastikan pekerjaanku terselesaikan dengan sempurna. Para monyet perusahaan ternyata masih sibuk menggunjing ku. Aku sudah biasa.
"Denger-denger dia kencan sama anak pemilik perusahaan ini. Pantes aja jadi anak emas."
"Di kantor ini CCTV masih berfungsi dengan baik. Dan saya sudah menghubungi pihak atasan untuk menyaksikan drama kalian pagi ini. Jadi, jangan salahkan saya kalau kursi-kursi kesayangan kalian akan tergantikan dengan orang-orang baru yang lebih profesional dan menjaga attitude nya dengan baik," ucapku tanpa mengalihkan pandanganku pada mereka sambil menahan gelak tawa.
"Selamat kepada Gembira Fajarini. Karena hari ini anda genap dua tahun bergabung di perusahaan ini. Tepuk tangan dong semuanya!" Buk Mirna, rekan kerjaku yang sangat antusias.
"Terimakasih semuanya, aku bukan siapa-siapa di sini tanpa kalian. Ini perayaan untuk kita semua." Mereka bersorak ria. Di balik pintu, datang seorang pria yang berseragam rapi dengan tatanan rambut yang sangat profesional. Siapa lagi kalau bukan boss sekaligus anak pemilik perusahaan ini, Pak Sam.
"Selamat dua tahun, Gembira Fajarini." Aku membalas jabatan tangannya. Pak Sam memberikanku sebuah tropi dan sebuah piagam penghargaan. Ini kedua kalinya aku mendapatkannya. Semua pegawai juga sama denganku. Selalu ada penghargaan setiap tahunnya. Aku bersyukur karena para atasan puas dengan kinerja ku. Aku berjanji akan lebih giat lagi setelah ini. Bukan setelah ini, tapi mulai dari detik ini.
__ADS_1
Hari ini begitu santai. Pak Sam membuat acara kecil-kecilan untuk lebih dekat dengan kami. Beliau memiliki pribadi yang baik, bahkan kami tidak pernah sekalipun mendengar berita miring tentang beliau. Banyak wanita yang mengidam-idamkan beliau, tapi duda keren itu sama sekali belum tertarik untuk memulai hubungan yang baru. Mungkin trauma. Sedikit cerita, Pak Sam adalah kakak kandung dari Mas Kukuh.
Hari beranjak sore, saatnya kaki kembali berjalan untuk mengakhiri hari. Aku dengan segera bergegas mencari kuda beroda yang siap aku tumpangi. Tanpa basa-basi. Aku harus segera pulang. Tentunya dengan alasan untuk menghindar dari Mas Kukuh. Aku tidak marah, hanya saja aku tidak ingin membicarakan apapun dengannya. Aku malas. Delapan menit yang lalu Tegar menghubungiku. Katanya ia harus singgah dua hari lagi. Aku tak bertanya apa alasannya. Aku hanya memberinya pengertian serta mengatakan bahwa aku sudah teramat rindu. Terdengar sangat menggelikan bagi orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta dengan teramat sangat dalam.
Sepuluh menit perjalanan tanpa macet. Akhirnya aku sampai di depan apartemen. Dengan langkah tergesa-gesa aku masuk. Tak perduli dengan tatapan-tatapan julid. Aku hanya ingin cepat sampai sebelum Mas Kukuh pulang. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dengan tidak sabaran aku menanti pintu lift terbuka.
"Mbak Gembira, apa kabar?" sapa tetanggaku yang berpapasan denganku. Aku hanya menjawab sewajarnya bahwa aku baik-baik saja. Aku langsung berpamitan karena aku sangat terburu-buru. Ku tekan angka-angka yang menempel di sisi kiri pintu apartemenku. Begitu terbuka, aku langsung menguncinya dari dalam. Tak ingin ada orang lain menerobos masuk.
Aku melempar asal kemeja dan celana dasar ku. Memulai untuk merebahkan tubuhku di atas sofa minimalis dengan hanya menyisakan tang top dan hotpants yang melekat di tubuhku. Rasanya hari ini benar-benar gila. Berangkat pagi buta, pulang berlari bagai kuda. Rasanya aku ingin cepat-cepat menikah dengan Tegar. Aku ingin ia segera mengatakan niat baiknya. Tapi tidak bisa sekarang juga. Ya Tuhan, aku tidak tahu akan seperti apa skenarioku setelah ini. Mataku sudah lima watt. Sudah tidak kuat lagi menompa beratnya bulu mata. Tapi sedetik kemudian, mataku tidak sengaja melihat sebuah kotak bertuliskan Selamat Menikmati tergeletak di atas meja makan. Seperti mendapat durian runtuh, mataku langsung berbinar. Apalagi melihat ada sebotol kecap cap burung pinguin di sampingnya. Aku yang sudah tidak sabar langsung menyambar kotak berisikan martabak itu. Aku belum makan sedari tadi pagi. Saat di kantor, tentu saja aku segan untuk memakan banyak cemilan.
Satu gigitan melumer di mulutku. Perpaduan sempurna antara martabak dan kecap.
"Raisa sakit ya, Dek?" Suara bariton berhasil membuatku tersedak makananku sendiri. Meraih air yang pria itu tuangkan. Aku tertegun setelah menghabiskan segelas air putih. Mas Kukuh?
__ADS_1