Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 27


__ADS_3

Ku tatap gedung satu persatu manusia yang lalu lalang riuh terdengar. Sepasang manusia yang melintas di depanku tengah mengabadikan momen kebahagiaan mereka yang mungkin tidak bisa diulang dihari tua. Di meja paling tengah, sebuah keluarga yang sama menikmati weekend tentunya sangat berantusias memilah makanan yang akan dipesan dengan sedikit keributan karena berbeda argumen tentang makanan yang akan mereka makan. Aku tersenyum, sangat hangat melihat orang-orang yang memiliki seseorang yang berharga dan juga keluarga yang bisa selalu dibanggakan. Aku menutup laptopku, sejenak mengecek jam di ponselku sembari memeriksa beberapa pesan.


Hari lumayan sore rupanya. Sudah ramai sekali pengunjung yang datang dan pergi silih berganti di restoran ini. Aku segera berkemas. Ini hari yang penting bagiku. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan. Ku ikat rambutku dengan asal. Ah, siaal. Kakiku tersandung kaki meja, untung saja tidak sampai jatuh. Seorang ibu-ibu menyapaku dan ku balas dengan ramah.


"Lain kali hati-hati, Nak." Aku berterimakasih padanya dan pamit undur diri dengan rasa malu.


Aku sangat bersemangat. Langkah cepat ku terus menggiringku ke sebuah halte bus. Tanganku mengotak-atik ponsel untuk menghubungi seseorang yang ikut membantu aku mensukseskan hari terpenting ini. Bus berhenti tepat di depanku. Tanpa ragu aku masuk dan bus membawaku melaju dengan kecepatan sedang. Kota lumayan ramai sore ini namun tidak sampai macet seperti biasanya.


Dua puluh tujuh menit tiba di halte dekat dengan tempat yang akan aku tuju. Aku kembali melangkah menyusuri jalan dengan senyum merekah yang tak redup sedari tadi. Sebentar lagi, cahaya terang itu sebentar lagi akan ku gapai.


Tok tok tok


Dalam hitungan detik pintu terbuka.


"Dawa!" Aku memeluknya erat dan antusias.


"Ra, aku bisa mati," protes Sendawa diiringi canda.


"Kamu bener-bener dapet tempatnya?" tanyaku untuk memastikan lagi. Sendawa mengangguk mantap. Aku memeluknya lagi dengan girang.

__ADS_1


"Penerangannya sesuai dengan request kamu, cahaya kuning dari lampu bohlam kecil yang banyak dan lilin di tengah meja. Dan satu lagi, menu kesukaan Tegar sudah dipersiapkan sama koki terbaik di—"


"Di? Di mana, Wa?" tanyaku karena Sendawa menggantung ucapannya.


"Di— apartemen ini," jawabnya dengan percaya diri, tubuhnya berputar dengan tangan yang merentang lebar.


"Maksudnya? Kamu yang masak?" tanyaku lagi. Yang ditanya hanya mengangguk, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Hebat kamu, Wa. Yang kamu masakin chef loh, Wa." Aku bertepuk tangan tiga kali. "Lidahnya nggak akan keseleo walaupun ada aku di depannya nanti loh, Wa. Bawa sini aku cicipi dulu!" Sendawa menghalangi langkahku.


"Oke-oke. Aku nggak bakal cicip. Tapi aku mau colek dikiiiiit aja."


Aku benar-benar membasuh tubuhku tanpa cela. Berkali-kali aku menyabuni tubuhku supaya bebas kuman dan wangi. Bahkan busa-busa sudah seperti gumpalan awan di atas lantai.


Selesai dengan kegiatan mandi, aku dibawa Sendawa ke kamarnya dan mendudukkan aku di depan meja rias. Perlengkapan make up yang sangat lengkap dari merk-merk lokal yang tak kalah bagusnya dengan produk luar. Aku hanya diam saat kuas-kuas ajaib Dawa menari di atas wajahku. Sendawa begitu pandai dalam hal kecantikan meskipun ia jarang menggunakan make up terkecuali sedang menghadiri pesta atau acara-acara yang mengharuskan untuk berdandan.


Sudah tiga puluh menit lebih aku disulap sedemikian rupa sampai tak sadar aku memejamkan mata dan tertidur. Aku mendengar omelan Sendawa, namun mataku sungguh-sungguh tidak bisa dibohongi. Belakangan ini aku sering kali begadang mengejar deadline.


Semenjak aku bicara baik-baik kepada ibu dan berpamitan dengan cara yang baik pula, aku memilih menyibukkan diri dengan urusan kantor, menjadi radio jokey, dan berbagai kegiatan kepenulisan. Saat setelah aku berbicara baik-baik pada ibu, ibu akhirnya mengerti dan memahami aku begitupun dengan keputusanku. Dengan satu syarat, aku akan terus menjadi anak perempuan ibu sampai kapanpun. Pulang dari rumah ibu, Mas Kukuh mengantar ku ke panti asuhan, menemui Bu Lily dan Pak Widodo dengan maksud mengembalikan aku pada mereka dengan baik-baik. Pak Widodo sempat terkejut saat itu, lain dengan Bu Lily yang sudah tahu permasalahannya hanya diam sembari mengusap bahu Pak Widodo.

__ADS_1


"Aw, Sakit!" Aku reflek berteriak saat sesuatu menjepit kelopak mataku. Sedangkan Dawa ikut meringis seolah ikut merasakan sakit.


"Maaf, Ra. Abisnya kamu merem terus, jadi susah kan jepit bulu matanya." Dawa membela diri.


"Ah, udah deh gini aja. Ini bedaknya udah tebel banget, Wa. nggak usah ditambah-tambah lagi. Aku mau ke bawah sebentar, aku kelupaan kue tart nya dititipin ke satpam sama ojolnya."


"Eh, eh. Nanti kamu keringetan luntur, Ra!" Dawa terus mengejar ku sampai di depan pintu lift.


"Udah tenang aja, nanti kamu nggak usah nyariin. Aku langsung keatas aja. Kalo Tegar dateng, anterin sampe atas ya, plis," bujuk ku dengan tangan mengatup di depan wajahnya. Meskipun kesal, akhirnya Sendawa mengangguk.


Aku turun ke lantai bawah untuk mengambil kue dan kembali lagi ke atas. Ralat, aku langsung ke atas. Paling atas. Tidak di lantai apartemen Sendawa lagi.


Mataku dibuat takjub dengan pemandangan di atas gedung tiga puluh enam lantai ini. Jutaan lampu yang menyala bak bintang itu seperti berserak begitu saja di dasar bumi. Dan lampu-lampu yang dipancarkan gedung-gedung seolah bintang yang ditempelkan pada kubus-kubus. Sendawa dan rekan-rekannya benar-benar menyiapkan tempat ini dengan sangat sempurna. Tempat yang awalnya kering dan mati, kini menjadi tempat yang takjub dan hidup.


Aku meletakkan kue di atas meja yang telah disediakan. Aku senyum-senyum sendiri sedari tadi. Entah mengapa aku tiba-tiba malu dengan acara yang aku siapkan untukku dan Tegar ini. Mulai grogi.


"Ehem!"


Aku menoleh ke sumber suara dan mataku membulat dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2