Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 17


__ADS_3

"Kenapa, Tuan putri?" tanya Tegar yang sedari tadi menyaksikan ke-bad moodan ku.


"Nggak papa, Toy. Mau peluk...." rengek ku manja. Aji mumpung suasana kafe sedang sepi. Dan tanpa basa-basi, Tegar langsung membawa ku ke dalam dekapannya yang hangat.


"Masalah kerja, ya? Perlu bantuan?" tanyanya lagi. Aku menggeleng seraya mengeratkan pelukan kami.


"Ini lebih berat dari masalah kerja, Tegar," batinku.


Setelah puas melepas rindu, Tegar memutuskan untuk mengantarku pulang. Motor yang tadi aku kendarai sudah dititipkan pada satpam yang menjaga kafe. Sepanjang perjalanan aku menggenggam tangan Tegar dan tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Tegar yang terlihat bercahaya di temaram malam. Matanya selalu memandang ku dengan tatapan cinta, tangannya selalu menggenggam tanganku kala cemas, dan tubuhnya selalu merengkuh ku kala aku lelah. Masa yang terasa cepat berlalu sejak sebelas tahun aku bersamanya. Dia Tegar, pria yang sebelas tahun terakhir selalu menjadi rindu kasihku, menjadi fajar senjaku, dan menjadi gembira-tegar ku.


***


Pagi itu, pancaran arunika belum sepenuhnya menyambangi bumi. Suasana pagi begitu asri. Hidup di tengah kota ini memang tak seindah persawahan desa maupun namun kita sebagai insan harus tetap bersyukur karena masih diberi napas untuk bertahan hidup. Sedari tadi sebelum fajar bersinar, aku sudah duduk di sudut kanan jendela kamar ini, dengan secangkir kopi di tanganku. Hari ini, aku yang notabenenya jarang sekali menyambangi matahari terbit memutuskan untuk menyambutnya dengan penuh rasa harap.


"Tumben ke sini?" tanya seorang pria dengan suara khas bangun tidurnya.


"Hm, iya," jawabku sembari menghampirinya. Aku duduk di tepi ranjang melihat Mas Kukuh yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Mas mau mandi dulu."


"Mas," cegah ku saat Mas Kukuh hendak beranjak.


"Mau belanja bulanan, ya? Nanti Mas kirim."

__ADS_1


"Aku mau minta maaf, Mas," kataku sungguh-sungguh.


"Baju kamu yang kotor nanti Mas cuci."


"Mas," ucapan ku terpotong karena Mas Kukuh lebih memilih untuk berlalu dari hadapanku dan menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Setelah merapikan ranjang dan menyiapkan pakaian Mas Kukuh, aku memutuskan untuk keluar. Namun belum sempat selangkah kakiku keluar, aku melihat bingkai foto yang terdapat foto pernikahan kami terpampang di dinding belakang pintu. Aku tertegun sejenak. Foto itu diambil ala kadarnya tanpa ada guratan bahagia di antara kami. Keadaan terdesak kala itu sungguh membuat siapapun yang ada di posisi ini akan frustasi.


Aku menoleh tatkala mendengar suara pintu terbuka. Membuyarkan lamunanku.


"Ehem."


Aku langsung membuang muka, mengarahkan pandanganku pada apapun selain pria itu. Segera aku keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Bertepatan saat aku meraih handle pintu utama, seorangpun tengah melakukan hal yang sama dari arah luar.


Mataku hampir lepas dari tempatnya. Jantung memompa darah dengan kecepatan tinggi. Kemudian aku buka suara, "Sukma? Sukma kapan kamu sampe?" tanyaku. Namun tak kunjung mendapat jawaban. Sukma masih diam tak bersuara.


"Sukma, mesin cuci Mas Kukuh rusak, jadi Mas Kukuh numpang nyuci tempat aku. Tadi aku ke sini untuk ngasih tau Mas Kukuh kalo bajunya masih di apartemen aku. Eh, nggak taunya Mas Kukuh masih mandi dan kamu dateng. Tapi tenang ya, kami nggak ngapa-ngapain kok. Sumpah," jelas ku.


"Sejak kapan Mas Kukuh nyuci? Bukannya Mas Kukuh selalu laundry?"


"Em, kita masuk dulu aja, ya. Nggak enak sama tetangga, Yang," bujuk Mas Kukuh.


"Dengan penampilan Mas Kukuh sekarang, udah cukup menunjukkan bahwa ada apa-apa di antara kalian. Gimana? Seru ya main di belakang?"

__ADS_1


"Sukma, kamu salah paham. Tolong percaya sama penjelasan aku," bujuk ku.


"STOP! Jangan coba untuk membodoh-bodohi aku, Ra!" hardik Sukma kepada ku.


"Tapi-"


plak


Tamparan keras mendarat mulus di pipiku tanpa toleransi. Aku melihat sekujur tubuhnya gemetar dengan napas naik turun.


"SUKMA!" bentak Mas Kukuh.


"Jangan, Mas. Jangan bela aku, pliss," batinku.


"Silakan bela, Mas. Aku pergi!"


"Sukma, tunggu dulu."


Aku menahan tangan Mas Kukuh dan melarangnya. "Mas jangan gila," ucapku.


"Jangan tahan Mas, Ra. Mas harus bicara sama Sukma!" jawabnya dengan sedikit emosi.


"Iya, tapi Mas pake baju dulu!"

__ADS_1


Ia mendengus kasar sembari mengacak rambutnya frustasi.


"Makanya,cepet dinikahin!" seru ku yang mendapat lemparan handuk sebagai balasan. Aku terkikik geli membayangkan pria itu berjalan tanpa mengenakan pakaian dan handuk sama sekali karena kesal denganku.


__ADS_2