Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 14


__ADS_3

"Mas nggak pernah ngelarang kamu untuk deket sama pria lain. Tapi bukan berarti kamu seenaknya nerima lamaran Tegar, Dek. Apa kamu nggak bisa sedikit aja menghargai Mas sebagai suami kamu? Tolonglah, ngertiin Mas."


"Mas cuma mau dimengerti tanpa mau mengerti aku. Selama ini Mas cuma nyuruh aku sabar, sabar, sabar. Mau sampe kapan, Mas? Kita punya orang yang kita cintai. Aku punya Tegar dan Mas Kukuh punya Sukma. Apa salahnya kita akhiri aja hubungan kita, Mas?" jawabku dengan penuh penekanan. Rasanya saat ini aku ingin sekali meluapkan semuanya.


"Jaga mulut kamu, Dek. Pernikahan kita sakral. Dan jangan pernah lagi bahas masalah perceraian!" tegas Mas Kukuh.


"Mas, kita cuma nikah siri. Apa salahnya Mas talak aku sekarang. Aku tau, aku salah karna udah menyeret Mas Kukuh dalam masalah aku dan Bang Teguh. Tapi tolong lepaskan aku, Mas. Sebagai permintaan maaf, aku akan tetap berpura-pura menjadi istri kamu di depan orang tua kamu. Gimana?" Aku menggigit bibir bawahku setelah mengatakan itu. Kulihat rahangnya mengeras, menampilkan urat-urat yang tampak menahan amarah. Mas Kukuh berlalu dari hadapanku dan masuk ke dalam kamar. Sudah kuduga, semuanya akan sia-sia. Aku menendang sofa dengan frustasi. Dan ternyata sakit.


plak


Dua buah buku bewarna hijau dan merah terlempar ke atas meja. Dahi ku berkerut. Buku nikah? Nafasku tercekat melihat foto di dalam buku itu.


"Gimana mungkin? Kenapa ada buku nikah kita, Mas? Sejak kapan? Kamu sengaja kan mengikat aku dengan kuat, Mas?" tanyaku bertubi-tubi. Tangan kekar itu mengusap bahuku namun dengan segera ku tepis.


"Kalaupun kamu yang mau gugat Mas, itu akan sulit. Karena kamu nggak punya alasan yang kuat, Dek. Jadi tolong, jangan gegabah. Kita selesaikan semuanya pelan-pelan. Maaf ya, tadi Mas sempet bentak kamu," bujuk Mas Kukuh. Aku memejamkan mataku saat tubuh itu merengkuh tubuhku.


"Kenapa Mas makin mempersulit ini? Kita udah nyakitin pasangan kita masing-masing. Tolong lepasin aku, Mas. Tolong," lirihku sembari memukul-mukul punggung Mas Kukuh.


"Mas akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Dek. Dan Mas janji akan selalu ada di saat kamu butuh. Selamanya."

__ADS_1


"No no no," jawabku sembari melepaskan pelukannya. "Jangan bilang kalo Mas nggak akan menceraikan aku? Jangan bilang kalo Mas mau memutuskan hubungan dengan Sukma? Apa ini, Mas?"


"Dek, dengerin Mas dulu--"


"Nggak, Mas. Kamu tau sendiri aku sangat sangat mencintai Tegar. Dia ada satu-satunya pria yang ada di hati aku. Dan sekarang kondisi dia juga lagi nggak baik. Gimana kalo sampe terjadi apa-apa saat dia tau kalo aku udah menikah sama kamu, Mas? Aku nggak mau kehilangan Tegar. Sampai kapanpun aku mau tetep bersama dia!" Kata-kata dari mulutku mulai meninggi.


"Dan sampai kapanpun Mas nggak akan membiarkan itu terjadi. Mas nggak akan pernah menceraikan kamu walaupun kamu mencintai orang lain, Ra!" jawabnya tak kalah tinggi.


"Tapi kenapa, Mas?" tanyaku sendu.


"Karena Mas nggak pernah main-main dengan pernikahan. Dan Mas bener-bener pengen punya anak dari kamu, Dek."


Tangan Mas Kukuh terulur untuk merangkup wajahku. Tatapan teduh itu seolah memohon padaku. Napasnya menyapu wajahku dengan hangat saat wajah itu semakin dekat dan tatapannya mengarah ke bibirku. Tapi Mas Kukuh hanya berhasil mencium pipiku karena aku sigap membuang muka.


"Aku tetap pada pendirian ku, Mas. Jangan paksa aku untuk tetap di sisi kamu," ucapku kemudian berlalu dari hadapan Mas Kukuh. Aku berlari dan menutup pintu apartemen dengan kencang.


Napas ku naik turun saat aku telah mendaratkan diri di ranjang apartemenku. Entah mengapa ada perasaan damai saat Mas Kukuh berniat untuk membina rumah tangga bersamaku selamanya. Tapi dengan cepat perasaan itu bergantikan dengan kesal dan kecewa. Aku kira Mas Kukuh menikahi aku hanya untuk menjaga maruah ku. Tapi ternyata salah, Mas Kukuh malah berniat menyakiti hati Sukma dan memilih hidup bersamaku. Semuanya ini berawal dari tragedi satu tahun lalu.


Flashback on

__ADS_1


"Bang Teguh ngapain ke sini?" tanyaku histeris saat aku melihat kilatan benci di matanya. Ia melangkah mendekat dan semakin dekat.


"Udah saatnya untuk memberi pelajaran untuk wanita yang nggak tau malu kayak kamu," makinya dengan sengit.


"Jangan mendekat, brengsek!" teriakku sambil mengarahkan pisau yang ku genggam. Namun gerakan tangan Bang Teguh lebih sigap, ia merebut pisau itu dari tanganku lalu menggendongku seperti memikul beras.


bruk


Tubuhku dihempaskan ke atas ranjang dengan kasar. Aku menggeleng saat Bang Teguh mulai melepaskan pakaiannya. Aku melirik ponselku yang menyala. Entah siapa yang menelepon ku, dengan cepat ku geser tombol hijau tanpa sepengetahuan Bang Teguh.


"Ayo kita seneng-seneng, Ra. Aku udah nggak sabar mau buka segel kamu. Dan aku udah nggak sabar untuk menghancurkan kamu hari ini juga."


"Jangan gila, Bang. SIAPAPUN TOLOOOOG!!! PASSWORD 220809!!" teriakku berharap seseorang di ponselku mendengarnya.


"Sssst. Jangan teriak-teriak, Ra. Kita kan belum mulai. Hahahahaha, nggak akan ada yang denger kok. Hari ini aku akan membuat kamu nggak akan melupakan momen hari ini, karna kamu udah berani menolak mentah perasaan cinta tulus ku dulu, Ra. Sekarang kamu rasakan bagaimana sakit itu. Hahaha." Ia mencekal tanganku dengan kuat membungkam mulutku dengan sapu tangan. Aku tidak bodoh, aku tahu ada obat bius di sapu tangan itu.


"Awwww...." Aku berhasil menggigit tangannya tanpa ampun. Saat ia lengah, dengan segera aku mendorongnya dan berusaha melarikan diri. Tapi gagal, Bang Teguh menarik rambutku dari belakang. Aku berteriak meminta ampun. Tapi pria iblis itu tak memberikan kesempatan untukku memberontak dan menghentikan perbuatannya. Hingga mataku sudah mulai sayu akibat pengaruh obat bius itu. Ia mulai melucuti pakaianku dengan kasar. Aku hanya bisa pasrah jika harus hancur di tangan kakak dari pria yang kucintai.


brakk

__ADS_1


Sayup-sayup aku mendengar kegaduhan. Aku yakin orang itu tengah berusaha menyelamatkan aku dari kebringasan Bang Teguh yang hendak menggagahi tubuhku. Aku sempat melihat bagaimana pria iblis itu tersungkur ke lantai. Hingga mataku sempurna terpejam dengan keadaan tubuh yang hampir tak berbusana.


__ADS_2