Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 21


__ADS_3

Deburan ombak begitu merdu mengiringi senja ini. Sinar itu telah berada di pelupuk dengan jingganya yang mempesona. Hamparan laut pun tak mau kalah untuk ikut mengabadikan momen ini dengan memantulkan cahayanya.


Empat puluh tujuh detik berlalu tanpa awan yang menghalangi pesonanya. Aku menoleh, menatap pria yang masih memejamkan matanya menikmati kehangatan sore ini. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan pria yang tak kalah hangatnya ini? Aku tersenyum ikut memejamkan mata, menyenderkan kepalaku di atas bahunya. Memeluknya dari samping.


"Aku pengen selamanya kayak gini sama kamu, Ra. Dan di sana." Tegar menunjuk ke arah barat daya. "Akan ada anak kita yang lupa waktu karna asik menyusun istana pasir dan juga ada adiknya yang selalu berusaha merobohkan istana itu."


"Gembira di mana?" tanyaku.


"Gembira duduk di sini. Tapi mulutnya selalu teriak untuk mengajak anak-anak pulang. Sambil naruh tangan di pinggang. Kaya gini, 'Anak-anak, ayo pulang!' " Tegar memperagakan adegan itu. Adegan yang belum pasti terjadi kedepannya itu. Aku tergelak, mencubit perutnya gemas.


"Dan kamu tau apa yang akan ayah lakukan?" Aku menggeleng.


"Membungkam ibu pakai ini." Tegar menunjuk bibirnya sendiri. Aku makin terpingkal, sekali lagi mencubit perutnya gemas.


Satu bulan yang lalu, dua hari setelah aku keluar dari rumah sakit, Mas Kukuh menghilang dari pandanganku. Dia hanya menatapku sendu sebelum pergi. Aku tahu, Ia menemui Sukma. Wanita yang sebenar-benarnya Ia cintai itu kini terbaring lemah di rumah sakit karena aksi konyolnya yang melakukan percobaan bunuh diri. Penyebabnya tentu saja karena ia sudah mengetahui hubunganku dan kekasihnya.


Aku bukan pengecut yang bersembunyi karena sampai saat ini belum mau menemui Sukma. Aku hanya takut jika kehadiranku hanya akan membuat emosi Sukma membuncah dan tak terkendali. Aku berharap akan ada kata maaf nantinya. Mau bagaimanapun aku memang salah karena telah menghancurkan kehidupan orang lain. Sebentar lagi, hanya selangkah lagi pernikahan yang terjadi dengan terpaksa ini akan berakhir.


"Mikir apa?" tanya Tegar yang membuyarkan lamunanku.


"Bukan mikir, tapi lagi menghayal apa yang kamu bilang tadi."


"Ra, maafin aku yang gagal menjaga kamu. Aku janji setelah ini akan selalu memastikan kamu baik-baik aja. Aku akan selalu menjadi pelindung saat orang-orang ingin menyakiti kamu. Jangan pernah berhenti untuk mencintai aku, apapun yang terjadi."


"Aku juga minta maaf karena gagal menjaga kepercayaan kamu untuk aku, Toy. Aku gagal menjadi wanita yang sempurna untuk kamu. Tapi setelah menjalani pernikahan itu aku sadar, bahwa cinta itu nggak bisa dipaksa. Dan aku semakin sadar bahwa cinta Tegar memang se-tegar itu. Se-tegar karang yang terus diterpa oleh ombak. Dan seikhlas langit mencintai senjanya. Apapun yang terjadi aku akan selalu di samping kamu, Tegar."

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Ra," ucap tegar lirih. Pandangannya lurus ke depan, namun hatinya tulus menatap hatiku.


"Aku juga cinta kamu, Tegar."


Kami merebahkan diri di atas hamparan pasir putih beralaskan kain kemeja milik tegar. Aku menutup mata, masih menikmati kemesraan ini. Memeluk tubuh Tegar dengan erat. Nyaman dengan kehangatan yang ia berikan sepanjang waktu. Sebelas tahun yang tidak mudah, aku berjanji akan merayakan dua belas tahun kebersamaan ini dengan indah dan sangat berkesan. Tinggal beberapa minggu lagi. Tuhan, terimakasih telah mengirimkan Tegar untukku.


Hari sudah cukup larut, aku dan Tegar memutuskan untuk pulang meskipun sangat enggan beranjak. Mobil berhenti tepat di depan sebuah panti asuhan. Ya, setelah aku mengurus perceraian, aku memutuskan untuk menjual apartemen. Sementara waktu aku singgah di rumah ratusan anak ini. Tempat di mana aku berasal.


"Mau mampir dulu, Ayah?" tanyaku yang mengundang gelak tawa.


"Hahahaha, besok Ayah ke sini lagi kok, Bu. Jangan rindu." Tegar meraih wajahku, mendekatkan wajahku dan wajahnya hingga hidung kami saling bersentuhan, napas yang saling menghangatkan. Kami berpelukan, selayaknya sepasang kekasih yang selalu dimabuk asmara.


Aku segera masuk ke dalam panti dan menghampiri Ibu Lily, selaku pengasuh di sini.


"Gembira, kamu udah pulang. Gimana kerja kamu hari ini, Nak?" tanya Bu Lily sembari menyambut uluran tanganku. Aku mencium punggung tangannya dengan ta'zim.


Setelah cukup berbincang dengan Ibu Lily, aku pamit undur diri untuk menuju ke kamar yang sebenarnya disiapkan untuk tamu. Sementara aku menempatinya sampai apartemenku laku terjual. Namun sebelum aku membuka pintu, aku dikagetkan dengan suara seorang lelaki yang mengucapkan salam, seperkian detik aku membalas salamnya.


"Pak Ammar, ngapain di asrama putri?" tanyaku mengintimidasi.


"Saya tadi habis dari pondoknya Pak Widodo. pas saya lewat lihat kamu kayaknya baru pulang dari kerja? Benar?"


"Benar, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit ku.


Aku merebahkan diriku di atas kasur kapuk yang sangat nyaman bagiku. Memukul-mukul kepalaku. Pusing. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak lagi bertemu dengan Pak Ammar. Bukan karena sombong, tetapi aku tahu bahwa Tegar tidak pernah suka dengan pria itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku kembali beraktivitas seperti biasa. Menjadi penyiar radio, tak sedikit anak muda yang menggemari aku. Meskipun radio tak sepopuler dahulu, tapi masih banyak sekali generasi milenial yang mendengarkan radio lewat aplikasi maupun website.


"Halo, Bestie. Apa kabar? Lama nggak ketemu, loh."


"Hai, Dawa. Kabar aku baik banget. Kamu kemana aja? Ngilang gitu aja nggak ada kabar?" Aku menghambur memeluknya.


Namanya Sendawa. Nama yang cukup unik dan aneh bagi kebanyakan orang. Namun setiap orang tua pasti memiliki harapan yang baik untuk anak-anaknya lewat nama yang diberikan.


"Maaf ya. Mulai hari ini aku kerja di sini lagi kok. Ingetin aku ya kalo ada salah." Aku mengangguk dan mengajaknya ke studio. Tidak memaksanya untuk bercerita lebih.


"Selamat pagi sobat ZetFM! Kembali lagi bersama Gembira Fajarini!"


"Awaaan!"


"And Dawa Asmara. I'm back!"


"Wah, Selamat datang kembali Dawa, semoga kedepannya bisa terus bergabung dan yang pastinya menghibur Zeteners di manapun dan kapanpun ya." Awan.


"Aamiin, terimakasih Awan. Dan semoga Zeteners senantiasa sehat dan pastinya dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa." Dawa.


"Dan perhatian untuk hari ini guys, menurut ramalan cuaca di Kota A bagian Timur, Barat, Utara, maupun Selatan diperkirakan akan terjadi hujan petir yang merata. Jadi untuk Zeteners yang mau keluar jalan-jalan atau aktivitas yang nggak penting-penting banget lebih baik di rumah aja deh. Daripada daripada nanti ditengah perjalanan kehujanan, kan nggak seru."


"Bener banget, guys. Lebih baik kalian bersih-bersih rumah, masak, atau rebahan aja kali ya. Yang penting aku saranin untuk stay di rumah aja daripada nanti kamu kehujanan dan sakit." Awan.


"Nah karna lagi hujan nih, untuk Zeteners yang suntuk di rumah atau yang lagi kerja, kami punya lagu-lagu kenangan yang paling cocok disetel pas lagi hujan. Pas juga untuk kamu yang lagi pengen mengenang seseorang. Jangan kemana-mana, tetap di ZetFM. Cekidot!"

__ADS_1


Mulai dari ramalan cuaca, request lagu, wawancara, adlibs, dan acara kirim salam. Semuanya lancar dan menyenangkan. Ditambah lagi dengan kehadiran Sendawa yang kulihat semakin baik sejak terakhir kali ia ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya. Meskipun aku tidak tahu cerita detailnya seperti apa, tapi aku tahu ia begitu terpuruk karena kepergian kekasih yang sudah enam tahun bersamanya itu. Setidaknya sekarang Sendawa sudah bisa tertawa dan melanjutkan hidupnya.


__ADS_2