
Kematian tidak akan bisa dihindari oleh seluruh makhluk di muka bumi ini. Bahkan oleh orang-orang yang mengaku sakti sekalipun. Kematian, tidak bisa dikatakan sebagai kebetulan karena kematian adalah takdir. Rahasia Sang Penguasa yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Serta bukan ajang pemilihan random untuk sekedarnya mengurangi populasi makhluk. Semuanya telah tertulis, setiap makhluk sudah dibatasi sampai mana langkah hidupnya akan berakhir.
Begitu juga ayah. Sosok yang sangat penyayang pada anak-anaknya dan juga aku sebagai menantunya. Ku usap figura yang sengaja dipajang dengan ukuran dan bingkai yang besar. Terus ku lantunkan doa dan juga permintaan maaf atas apa yang telah terjadi sebelum beliau wafat. Tenang di surga, Ayah.
Aku sedikit terkejut tatkala seseorang menepuk pundak ku.
"Ra, kamu ngapain di sini? Semuanya udah nungguin kamu untuk sarapan. Ayo, buruan." Pak Sam mengajakku untuk segera keruang makan. Aku mengangguk dan mengekor di belakangnya. Tersenyum miris karena bukan Mas Kukuh yang seharusnya menghampiri aku.
"Ra, ayo sini, Nak. Bibi udah masak yang enak-enak, loh. Ayo sini duduk di samping suamimu." Seorang wanita yang lebih muda dari ibu itu menarik kursi untukku.
"Terimakasih, Bibi. Maaf, Ra nggak bantuin Bibi masak tadi," ucapku tak enak hati.
"Nggak papa kok, kamu pasti capek seharian kemarin kurang istirahat. Kata suamimu, masakan kamu enak, nanti siang kita masih bisa masak bareng, ya." Bibi sangat antusias. Aku mengangguk sembari tersenyum. Aku menoleh dan melihat Mas Kukuh tampak acuh tak acuh. Tangannya mulai menggapai centong nasi.
"Mas, biar aku aja. Nasinya dua centong, kan?" tanyaku sembari mengambil alih centong dari tangannya.
"Satu centong aja!" ujarnya dengan suara tegas yang tak biasa. Aku mengangguk dan tersenyum, tetap tenang.
__ADS_1
"Kamu biasanya suka ayam kecap, kan? Aku ambilin ya?" tawar ku lagi. Tapi Mas Kukuh malah meraih sendok sayur lain dan sama sekali tidak menjawab aku.
Aku tersenyum miris. Kamu kenapa, Mas? Tuli atau buta? Aku sebesar ini, loh. Suaraku juga tidak ada yang salah. Kenapa? Bukannya semalam Mas Kukuh sudah memaafkan aku meski tanpa bicara? Atau jangan-jangan sebenarnya maaf untukku belum ada? Jadi, arti yang semalam saling memeluk itu apa? Sungguh, aku merasa sangat bodoh saat ini.
Aku meletakkan lagi sendok yang akan aku gunakan untuk mengambil lauk tadi. Segera berdiri dan melihat ibu sebentar, makanan yang ada di piringnya hanya diaduk-aduk tanpa berniat untuk memakannya. Bahkan ibu sama sekali tidak bersuara sedari tadi.
"Mau kemana, Ra? Kamu belum makan loh, Nak." Bibi mencegahku. Ya, hanya Bibi. Suamiku? ibu mertuaku? Mereka sedang larut, harap memaklumi.
"Ra mau ada urusan sebentar, Bi. Makan aja duluan, Ra nanti nyusul.
Aku undur diri. Tak lama setelah itu, Pak Sam menyusul ku. Dia juga bisu saat di meja makan tadi. Ah, entahlah. Tidak ada di antara mereka yang ingin menghidupkan suasana agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Eh, Pak Sam di sini? Dari tadi?" tanyaku basa basi saat ia kini berdiri di depanku. Mungkin kesal karena aku tak menggubris sama sekali kehadirannya.
"Baru aja kok, Ra," jawabnya dengan mimik wajah kecewa yang berusaha ia sembunyikan. Sayangnya aku bisa menangkapnya lebih dulu.
"Oh, oke kalau gitu. Saya permisi mau ke kamar dulu ya, Pak. Pak Sam kalo mau lanjut lihat pemandangan, silakan. Permisi," pamit ku. Aku berusaha keras untuk menahan tawaku. Bagaimana tidak? Aku menyuruhnya melihat pemandangan, padahal jelas-jelas di luar jendela itu hanya ada tembok pagar yang sudah lumutan. Sama sepertinya, duda lumutan. Sok-sokan mau menampungku setelah bercerai nanti. Modus.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar, Mas Kukuh ada di sana. Duduk di tepi ranjang mengarah ke luar jendela.
"Kenapa kamu menghubungi Sukma? Kamu nggak mikir sedikit aja apa? Kamu tau kan, kalau ibu nggak pernah suka sama Sukma. Sebenernya mau kamu apa sih, Ra?" cerca Mas Kukuh saat langkahku baru dua.
"Ada lagi yang mau kamu tanyakan, Mas?" tanggap ku sesantai mungkin.
"Apa kamu lupa kalau penyebab semua kekacauan hidup saya itu kamu?"
deg
Nyeri sampai ulu hati ucapan itu. Memang benar, aku penyebab hidup orang sekitarku pupus bahkan hancur.
"Yang pertama, aku menghubungi Sukma karena dia berhak tau. Yang kedua, otakku masih ada kok, Mas. Masih bisa dipake. Yang ketiga, justru aku meminta Sukma kesini supaya Sukma bisa membuat ibu kamu luluh dan mau menerima Sukma sebagai menantunya nanti. Yang keempat, kamu tau mau ku apa, Mas. Aku minta jangan mempersulit sidang mediasi kita supaya kita bisa cepet selesai." Aku menghela napas dan melanjutkan ucapan ku, "Aku memang penyebab kekacauan hidup kamu, Mas. Maafin aku karna menikah sama aku, hubungan kamu dan Sukma hampir menjadi korbannya. Untuk itu, tolong bantu aku. Tolong bantu aku untuk mengembalikan keadaan seperti dulu lagi meskipun akan ada cerita kita sebelumnya."
Mas Kukuh mengacak-acak rambutnya untuk menyalurkan energi stress nya.
"Aku-"
__ADS_1
"Tanah kuburan ayahku belum kering. Masih basah sekali. Tapi anaknya sudah harus menceraikan istrinya karena istrinya yang keras kepala dan nggak berhati nurani seperti kamu, Ra!" hardik Mas Kukuh bertepatan dengan dibukanya pintu dari luar.
"Teruskan!!!!"