
Swastamita telah tiba. Memancarkan pesona lewat jingganya yang pekat bak cahaya anala. Cahaya yang merekah memantul lewat beningnya lautan. Mewarnai bumi dengan begitu hebatnya. Semua orang tahu bahwa jingga adalah momen sempurna sepanjang hari. Tapi tidak semua orang menikmati momen itu. Lima, empat, tiga, dua, satu. Senja sempurna tenggelam dengan menyisakan takjub bagi penggemarnya.
Seperti biasanya, hari ini aku bersama Tegar. Aku sudah menghubungi Mas Kukuh untuk membeli makanan saja hari ini. Karena mungkin malam ini aku akan menginap di rumah keluarga Tegar. Sudah lima pekan lebih aku tidak berkunjung. Jadi hari ini ku putuskan untuk membesuk mereka. Aku tidak ingin disebut sebagai orang yang lupa akan jasa orang lain meskipun aku tahu mereka tidak akan seperti itu.
"Kita sampai, Ra." Tegar membukakan pintu mobil untukku. Mataku menyapu ke seluruh halaman dan sudut-sudut rumah. Tidak ada yang berubah dari rumah ini. Tetap bersih dan terasa damai. Aku benar-benar nyaman berada di rumah ini. Bagiku di sinilah aku lahir. Di sinilah seorang Gembira Fajarini mempunyai jati dirinya sendiri. Tegar menggandengku. Ia tak pernah merangkul ku saat tengah berjalan. Meskipun aku menginginkan hal itu, tapi aku berusaha untuk tidak protes. Karena bagaimanapun, yang terpenting aku berada di samping Tegar. Sampai kapanpun. Semoga ia menerimaku dengan lapang dada.
"Ibuk, Bapak! Tegar sama Ra pulang!" seru Tegar. Ibu dan bapak yang sedari tadi sudah menunggu pun langsung menyambut ku dengan suka cita. Mereka sudah seperti orang tuaku sendiri. Hati mereka sangatlah lembut dan tulus. Ibu memelukku dengan erat, begitu juga dengan bapak. Mereka tidak memiliki anak perempuan. Dan bagi mereka aku ialah bidadari kecil mereka.
"Kamu itu jangan sibuk kerja terus, Ra. Sering-sering pulang. Apa kamu nggak kangen sama kami?" Ibu mencebikkan bibirnya.
"Maaf, Buk. Akhir-akhir ini memang kerjaan Ra banyak banget. Ra janji akan lebih sering lagi ke sini," jawabku mencoba untuk meluluhkan ibu yang manyun.
"Kamu itu sama aja kayak Tegar. Selalu bilang begitu. Kenapa kalian ini gila sekali kerja, sih?"
"Tegar sama Ra kan mau mempersiapkan masa depan kami, Buk. Kan bapak pernah bilang, selagi kita sehat jangan menyia-nyiakan waktu. Ya kan, Pak?" Aku mengedipkan sebelah mataku ke arah bapak. Bapak hanya tergelak sambil menggelengkan kepala. Sedetik kemudian ibu mencubit hidungku dengan gemas karena aku telah mengada-ada omongan. Setelah berbincang-bincang receh, akhirnya ibu mengajak kami untuk makan.
Seperti biasanya, aku menyajikan nasi serta lauk pauk untuk bapak dan ibu. Ini salah satu bakti ku untuk mereka. Keluarga yang sama sekali tidak pernah menuntut ku untuk membalas budi dan tulus menganggap ku
sebagai seorang anak.
__ADS_1
"Kok nggak ada yang manggil aku?" Suara bariton berhasil membuatku terkejut. Mataku membulat dengan sempurna tatkala aku menyadari bahwa pemilik suara itu ialah Bang Teguh, kakak kandung Tegar.
"Eh, Bang. Aku kira udah tidur." Tegar mempersilahkan Bang Teguh duduk di sampingnya. Seketika suasana hatiku berubah menjadi kesal. Bang Teguh adalah satu-satunya orang yang tidak menerimaku dalam keluarga ini. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya karena ia sedang mengepahkan sayapnya dalam bidang hukum. Bang Teguh sudah terkenal di mana-mana karena keberhasilannya menjadi seorang lawyer. Dan dia sudah lama sekali tidak tinggal di rumah ini. Tapi hari ini sepertinya akan menjadi kesialan bagiku.
"Tegar aja nih yang diambilin? Bang Teguh juga dong. Jangan setengah-setengah kalo melayani," sindir Bang Teguh. Aku mengepalkan tanganku geram. Ingin rasanya aku melayangkan pukulan-pukulan ku di wajah songong nya itu.
Makan malam kali ini membuat ku canggung. Aku hanya menjawab sewajarnya saat ibu dan bapak menanyaiku. Aku dan Bang Teguh saling bersitatap dengan sengit. Pria yang menyandang sebagai kakak kandung Tegar itu adalah penyebab dari semuanya. Dia adalah dalang dari semua yang menimpaku saat ini. Dan aku bersumpah untuk tidak akan pernah memaafkannya meskipun ia bersujud sekalipun.
Aku memutuskan untuk langsung pergi ke kamar saat telah usai membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci piring. Aku beralasan pada ibu dan bapak bahwa aku sedang tidak enak badan demi untuk menghindari lelaki iblis itu. Pria yang sangat licik dan ingin selalu menjatuhkan aku. Dia menganggap bahwa aku hanyalah pengganggu dalam keluarga ini dan menganggap ku tidak pantas mendapatkan kasih sayang di rumah ini.
"Hai, Gembira."
Aku langsung menoleh menatap pria di depanku dengan was-was. Aku melihat senyum liciknya barusan. Sekarang apa lagi yang akan ia lakukan. Ia melangkah mendekati aku dan semakin dekat. Aku tidak bisa kemana-mana lagi. Punggungku sudah menempel di jendela. Wajah pria itu perlahan mendekat, membisikkan sesuatu di telingaku.
"Sepertinya kejadian satu tahun yang lalu nggak membuat kamu jera, Gembira Fajarini," bisik nya tepat di depan telingaku. Aku menggertak kan gigiku. Tanganku melayang ingin segera menghajar pria itu, namun ia sigap mencekal tanganku terlebih dahulu.
"Adududu. Rupanya kamu tetap bersikap seperti singa betina, Gembira. Hei, sampai kapan kamu mau membohongi adikku? Apa aku harus ikut bicara untuk membongkar semua kebusukan mu?"
"Cukup!!" Aku menendang tulang keringnya hingga ia mundur beberapa langkah dan mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Berani kamu?" Kilatan mata marahnya jelas terlihat.
"Apa kamu lupa kalau kamu adalah seorang pengecut yang bisanya menghancurkan hidup seseorang?" ucapku bersulut-sulut.
"Ssssttttt. Jangan teriak-teriak, Gembira. Apa kamu nggak takut kalau ada yang melihat dan menikahkan kita?" Aku menepis kasar tangannya yang berusaha mengusap wajahku.
"Najiiissss!! ciuhhh!" Aku meludah ke lantai. Aku masih sadar. Bila tidak sudah ku ludahi wajahnya.
"Menikah? oh, aku melupakan satu hal kalau kamu su—"
"Tutup mulutmu, Bang!" Napas ku sudah naik turun tak bisa lagi membendung emosi. "Aku tau kalau setahun ini Abang menghindar dari masalah ini. Apa Abang tau betapa tersiksanya aku hingga saat ini? aku nggak nyangka Abang bakal ngelakuin hal sekeji itu sama aku. Salah aku di mana, Bang? Aku nggak seberuntung hidup Abang yang masih punya orang tua lengkap. Tapi kenapa Abang masih iri sama hidupku, Bang? Kenapa Abang tega menghancurkan hidupku hanya untuk kepuasan Abang sendiri? Dan untuk Tegar, kurasa anda tidak pantas untuk dipanggil dengan sebutan Abang!!"
"Pelan kan suaramu, Ra. Dan tutup mulut kotor mu itu." Matanya tak berkedip. Aku menatapnya tajam dengan air mata yang selama ini sangat anti untukku luruh kan.
"Dengan dulu kamu melakukan itu semua, malah semakin membuat rumit, Bang. Nggak menutup kemungkinan saat Tegar tau semuanya, dia akan kembali jatuh. Jantungnya lemah, Bang. Abang terlalu berpikiran pendek. Abang menginginkan aku pergi dengan mengorbankan nyawa Tegar. Dan sekarang, akibat ulah Abang, aku harus menutup rapat semua kebenaran dari Tegar demi untuk menjaga kondisinya. Aku cinta sama Tegar, Bang. Aku nggak mau dia pergi dengan cepat karena tau semua hal ini." Aku menahan sesak. Sudah lama aku ingin meluapkan ini semua. Tapi pria pengecut di depanku ini memilih menutup mata dan telinga. Yang ia inginkan sejak dulu ialah menghancurkan aku dan menyingkirkan aku dari kehidupan keluarganya. Bang Teguh tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun saat aku telah berhenti bicara. Ia berbalik hendak meninggalkan aku.
"Satu lagi aku ingatkan sama Abang. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintai dan melindungi Tegar meskipun nanti kami tidak ditakdirkan untuk bersama."
plak
__ADS_1
Satu tamparan sengit mendarat di pipiku.