
Akhirnya mobil kami tiba di depan gedung pengadilan agama. Aku memejamkan mataku dan menyenderkan kepala. Ini yang selama ini aku inginkan. Tapi mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal? Bukan, ini bukan perasaan cinta. Tapi benar kata Mas Kukuh tadi, bahwa sulit untuk melepaskan apa yang telah kita miliki.
"Kamu yakin, Gembira?"
"Ini yang terbaik, Mas," jawabku. Mas Kukuh tersenyum, namun aku tidak bisa menyimpulkan senyuman itu. Ia turun dari mobil, begitupun dengan aku.
...
Ku rebahkan tubuh ini di atas ranjang sembari terus memijat pelipis ku yang terasa berdenyut sedari tadi. Sungguh aku tidak menyangka sebelumnya bahwa aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai dan sebentar lagi akan menyandang status janda. Beruntungnya hubunganku dan Mas Kukuh tidak sejauh itu hingga tidak terlalu membuatku rugi. Pernah hampir, tapi tidak sampai melakukan hubungan intim.
Baru sebentar hendak aku memejamkan mata, suara riuh anak-anak membuatku gagal terlelap. Sepertinya memang aku terlalu sore untuk pulang, jadi anak-anak masih bebas bermain di luar ruangan. Aku merogoh tasku mengambil sesuatu lalu keluar dari kamar. Sejenak merenggangkan otot seraya menikmati angin sore yang begitu lembut menerpa.
"Kak Gembira! Sini!" teriak salah seorang anak disusul dengan teriakan-teriakan rekan-rekannya dan meminta aku untuk bergabung.
"Hai, semuanya. Lihat sini, Kakak bawa lolypop untuk kalian."
"Yeeeeeee!" sorak mereka semua dan segera merapat, menyahut satu persatu lolypop.
"Pelan-pelan ya, jangan rebutan." Aku memperingati mereka yang semakin berdesakan.
"Yah, habis. Kakak, Hana nggak kebagian," keluh bocah berusia sekitar lima tahun padaku dengan nada menahan tangis. Aku berjongkok, menyeimbangi tinggi badan bocah itu.
__ADS_1
"Sayang, Hana. Maafin Kakak ya. Gimana kalo Hana makan jajan yang lain aja?" bujuk ku. Namun Hana menggeleng pelan, menahan isak tangisnya.
"Kakak, ini punyaku untuk Hana aja." Seorang bocah pria yang sudah beranjak bujang remaja menyerahkan lolypop miliknya. Hana langsung sumringah, meraih lolypop itu dengan antusias.
"Makasih, Mas Ande. Muaaahh." Hana mencium pipi yang dipanggilnya Ande itu. Tentu saja membuat pipi bocah pria itu bahagia dan juga merona.
"Makasih, Ande. Untung aja kamu datang."
"Sama-sama, Kak. Tadi ibu Lily bilang kalau Kak Gembira udah datang, Kakak disuruh keruangan beliau. Ada adik bayi baru di sana."
"Bayi? Ya udah, Kakak kesana dulu. Makasih sekali lagi, Ande." Aku memeluknya sebelum beranjak.
Langkahku terhenti di ambang pintu, terdiam sejenak menatap bayi itu yang sangat rewel di gendongan ibu Lily. Aku mengucap salam dan langsung dipersilahkan masuk oleh sang pemilik ruangan. Aku sebenarnya sedikit sulit menentukan perasaan. Haruskah bahagia karena ada anggota baru di rumah asuh ini atau harus sedih karena bayi yang tidak berdosa itu ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya tanpa belas kasihan. Tampak sudah serak suara bayi itu yang dengan kerasnya menangis.
"Sejak kapan, Bu?" tanyaku.
"Tadi pagi buta anak-anak menemukannya di depan asrama. Cup cup, jangan rewel ya Nak."
"Biar Ra yang gendong, Bu." Bu Lily mengangguk dan memberikan bayi itu padaku.
Aku menimang-nimangnya. Memberikan susu yang Bu Lily sodorkan. Tak berapa lama si bayi diam dan mau meminum susu. Bu Lily tampak mengucap syukur dengan lirih berulang-ulang. Bayi itu mendengkur halus setelah susu yang ada di botol hampir habis. Ah, imutnya. Aku ingin sekali punya bayi.
__ADS_1
"Kayaknya udah agak besar, Bu?"
"Dia sudah tengkurap, Ra. Ibu rasa sudah lebih dari lima bulan. Hanya saja tubuhnya yang kecil," jelas ibu Lily.
"Ra akan bantu Ibu jaga bayi ini sepulang kerja, Bu. Ra pengen banget punya bayi dan ngerasain gimana rasanya jadi seorang ibu. Ra akan coba untuk menyayangi bayi ini meskipun Ra nggak pernah merasakan kasih sayang ibu Ra sendiri."
"Ra, ibu kamu pasti bangga sekali sama kamu. Kamu itu wanita yang hebat, pekerja keras, dan mandiri. Semoga apa yang terjadi sama kamu saat ini bisa segera usai ya. Semoga Tuhan melancarkan segala urusan kamu di dunia." Bu Lily mengusap kepalaku dengan lembut layaknya sentuhan seorang ibu kandung.
"Aamiin. Terimakasih, Bu."
"Ra, apa suami kamu tau kalau kamu tinggal di sini?"
"Sebentar lagi dia bukan lagi suami Ra, Bu. Dia nggak perlu tau kalau Ra ada di sini. Keputusan untuk bercerai udah bulat, kami memang seharusnya tidak bersama," jawabku.
Pikiranku melayang pada saat pertama kali kejadian itu bermula, saat Bang Teguh gelap mata hendak melakukan hal keji padaku semata-mata ingin menjauhkan aku dari Tegar. Namun saat itu Mas Kukuh datang, menjadi malaikat penolong untukku meski akhirnya ia yang harus bertanggung jawab atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan. Pada saat yang sama, janji suci terucap tanpa bisa terelakkan. Mas Kukuh adalah orang yang sangat baik dan bertanggung jawab. Aku lah yang salah dalam rumah tangga kami. Aku lah yang terus menerus menginginkan perceraian. Hingga akhirnya memancing kemarahan Mas Kukuh.
Tapi aku sudah benar mengambil langkah saat ini. Aku maupun Mas Kukuh berhak bahagia dengan orang yang kami cintai.
Drrrt
"APA?"
__ADS_1
"Kenapa, Ra?" tanya Bu Lily. Aku mengatakan informasi itu pada Bu Lily. Sama terkejutnya dengan aku.