Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 29


__ADS_3

Pagi ini, pancaran arunika belum sepenuhnya menyambar bumi. Suara anak-anak sudah bersahutan sedari tadi sebelum fajar bersinar. Sedangkan aku, masih meringkuk di bawah selimut tebal sesekali melirih gemetaran karena disiram air dari awan semalam. Entah pukul berapa aku pulang dan baru bisa memejamkan mata menjelang subuh tadi.


Aku memaksakan diri membuka mata saat silau matahari menyelinap lewat celah yang mengenai ku. Ku raih jam beker, mataku menyipit melihat angka yang tengah jarum pendek tunjukkan lalu menghempasnya begitu saja. Pelipis ku terasa berdenyut dan berat. Jika tidak mengingat hari ini adalah sidang terakhir perceraian ku, mungkin aku tidak akan sampai nanti siang. Ah, mataku pasti masih sangat sembab sekarang. Apa Mas Kukuh nantinya akan mengira aku menangisinya? Sangat ketara ternyata. Rasa bersalah masih menggebu-gebu ditambah lagi kekecewaan ku sebab ketidakhadiran Tegar semalam.


Pukul 08.13 aku mulai beranjak dengan langkah sempoyongan. Ku paksakan diri untuk mandi selepas itu makan dan minum paracetamol. Biasanya Mas Kukuh yang selalu menyediakan aku obat setiap kali kehujanan. Biasanya? Ralat, setahun ini. Hanya setahun. Tapi mengapa rasanya seperti sudah terbiasa saja, aku merutuki diri sendiri. Aku mengecek ponselku lagi. Tiada satupun panggilan terlewatkan ataupun pesan. Kemana sebenarnya Tegar? Aku kembali menghubungi Sendawa namun tetap nihil. Tersambung namun tidak diangkat oleh sang pemilik ponsel. Untuk Tegar, aku akan mencarinya nanti di rumahnya. Sekarang urusanku dengan Mas Kukuh harus segera diselesaikan.


Tentang pernikahan ini. Pernikahan yang dilandasi oleh kesalahan fatal. Pria iblis yang selalu berusaha untuk menyingkirkan aku dari hidup Tegar hanya karena cintanya ku tolak di masa lalu. Meskipun cinta itu telah pudar, namun dendamnya padaku seolah tak pernah ada habisnya. Seperti saat ini, kurasa ia memperlakukan ku dengan baik hanya untuk mengelabuhi saja. Ku pandang gedung bercat hijau yang ada di hadapanku kini. Seseorang berpakaian hitam menepuk pundak ku dari belakang, aku menoleh dan mengangguk.


Selama sidang berlangsung, aku maupun Mas Kukuh tidak menyela ataupun menyangkal semua putusan hakim. Semua berjalan semestinya seperti yang aku inginkan dari awal. Isak tangis dari belakang membuatku terasa semakin pilu.


tok tok tok

__ADS_1


Sah. Aku dan Mas Kukuh resmi bercerai. Suara tangisan dari arah belakang semakin tergugu. Aku belum berani menoleh, air mataku semakin deras membanjiri pipiku. Sedangkan Mas Kukuh langsung beranjak menenangkan sosok yang ia panggil ibu itu.


"Gembira," panggil ibu dengan suara seraknya. Aku menyeka air mataku dan berdiri menahan tangis.


"Ibu." Aku langsung menghampirinya dan bersujud di kaki nya. "Maafin Ra, Bu. Maaf Ra nggak bisa jadi menantu yang berbakti untuk Ibu. Tolong jangan benci Ra, Bu."


"Ibu yang salah, Nak. Ibu yang memaksa dan tidak mau mendengar penjelasan kalian waktu itu. Ibu dan ayah yang menyebabkan kalian terjebak dalam pernikahan kalian. Maafkan Ibu, Nak." Ibu ikut melorot ke lantai dan memelukku. Tangis pecah tak bisa dihindari lagi. Sungguh aku tak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.


"Dek, bagi Mas kamu yang terbaik. Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri karena ini semua sudah diatur sama Tuhan. Dan kamu jangan menyalahkan apa yang sudah terjadi di masa lalu." Aku mengangguk, kembali menatap wanita paruh baya yang masih terlihat sangat pilu. Belum lama ayah meninggalkan dunia ini namun ibu harus sudah menghadapi kenyataan bahwa anaknya kini menjalani perceraian.


Aku menenangkan ibu, membatunya berdiri kemudian memapahnya menuju mobil.

__ADS_1


"Mas." Aku mencegah Mas Kukuh yang hendak masuk kedalam mobil. "Makasih udah hadir di hidup ku selama ini. Jangan pernah membenci aku."


Mas Kukuh berjalan mendekatiku lagi dan menatap mataku intens sembari merentangkan kedua tangannya. Aku yang tak kuat lagi langsung menghambur memeluknya dengan erat. Pria baik yang sudah mengisi hari-hariku selama satu tahun lebih ini membisikkan ku kata-kata yang seolah memberiku booster untuk memulai lagi hari esok tanpanya.


"Mas pamit ya. Kamu jangan kangen, hahaha," seloroh Mas Kukuh lalu melanjutkan ucapannya, "Semoga kita bisa ketemu lagi. Kamu jaga diri baik-baik, Dek. Tetap simpan kisah singkat kita di sini." Mas Kukuh menunjuk hatiku.


"Aku akan menyimpannya di ruang yang tidak seorangpun bisa membukanya, meskipun ia bertahta di ruang besar hati ini. Aku akan menyimpan ruang kecil berisi kenangan kita untuk diriku sendiri. Hati-hati di jalan, Mas. Selamat menempuh hidup duda mu. Hahaha." Mas Kukuh ikut tergelak dan memelukku lagi dengan erat.


"Mas pergi, Dek." Aku mengangguk, melambaikan tanganku.


Terkadang saat kita berada di persimpangan jalan, mustahil untuk kita berjalan di kedua jalan tersebut. Kita harus memilih salah satu jalan yang menurut kita baik meskipun harus menyakiti hati banyak orang. Bukan demi siapapun, namun demi dirimu sendiri yang harus memilih kebahagiaan apa yang akan kamu gapai.

__ADS_1


Tapi tidak bisa dipungkiri, alur kehidupan sudah ditata serapi mungkin oleh sang Pencipta. Jadi, jika ada yang masih khawatir esok akan bagaimana, harus kemana, apakah kedepannya akan berakhir tragis, atau kebahagiaan, sejatinya sudah ditetapkan semua. Semua yang ditetapkan Tuhan adalah tentang kebaikan semua. Ada pun kalau kita menemukan cerita yang mungkin saja buruk dalam hidup kita, itu kemungkinan kita sendiri yang merubah takdir baik itu menjadi buruk.


__ADS_2