Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 11


__ADS_3

Asmaraloka membuat banyak orang terbuai dan bahagia. Tapi tak sedikit pula yang membuat orang berada dalam posisi nestapa. Sama sepertiku yang terbuai bahagia saat bersama Tegar, namun juga bersusah hati saat ini. Terpaan angin mencoba menghiburku, membantuku untuk merilekskan otakku yang buntu. Aku menatapnya canggung. Ia sedari tadi tidak mau diam dan terus mendetail satu persatu barang-barang ku. Aku menjawab singkat pertanyaan-pertanyaannya. Banyak hal yang ia tanyakan. Termasuk hal-hal yang terjadi selama ia tidak di sini.


"Mas Kukuh mana sih. Kok belum pulang juga?"


"Em, ada urusan yang penting mungkin," jawabku untuk kesekian kalinya. Aku berbohong pada Sukma jika Mas Kukuh sedang keluar dan kebetulan mobilnya rusak. Jadi Mas Kukuh keluar dengan taksi. Beruntung Sukma langsung percaya dengan ucapan ku.


"Ya udah deh, aku mau rebahan dulu. Bolehkah?" tanyanya. Aku mengangguk setuju.


"Boleh."


"Tapi nebeng di kamar kamu ya." Dan secepat kilat menggeleng dan menghadang di depan pintu kamar. Tidak. Bisa gawat bila Sukma tahu di kamar ada Mas Kukuh. Dan Sukma bukan tipe orang yang bisa mengontrol emosi. Aku tidak ingin Sukma berpikir yang tidak-tidak.


"Kamar aku kayak kapal pecah, Ma. Tadi juga aku lihat ada lipan. Jadi aku manggil pemadam kebakaran untuk ke sini. Mungkin sebentar lagi sampe." Aku sampai heran bisa selancar itu berbohong pada Sukma. Dan tatapan Sukma sekarang tengah menelisik ku. Aku mencoba meyakinkan Sukma lewat tatapanku juga. Dan akhirnya ia menghela napas lalu mengangguk percaya.


"Ya udah deh, aku pulang dulu kalo gitu. Nanti kalo Mas Kukuh pulang langsung kabarin ya. Tapi jangan bilang-bilang kalo aku udah pulang ke sini," kata Sukma. Aku langsung mengangguk antusias. Sukma mengerutkan keningnya tapi aku langsung menghadiahinya dengan ciuman pipi melayang. Kami terkekeh bersama.


Langkahnya mulai membawanya menjauh. Aku melambaikan tangan untuk mengantar kepergiannya. Aku masuk ke dalam apartemen saat ia telah sempurna di bawa tenggelam oleh lift. Tak lupa aku mengunci pintu dari dalam. Aku menyender. Napas ku seperti tertahan sejak tadi. Kedatangan Sukma yang tiba-tiba sangat tidak menguntungkan bagiku. Jika saja Sukma tahu sudah dipastikan akan ada perang dunia ke-4 setelah peperangan hati.


Mataku terpaku pada pemandangan pertama yang aku lihat saat aku membuka pintu kamarku. Aku berusaha melangkah tanpa ada suara lalu mendudukkan diriku di pinggir ranjang. Mataku kini disuguhi wajah teduh dengan jambang tipis yang tumbuh di sekitaran dagu dan pipinya. Tanganku terulur dan memastikan suhu tubuhnya. Ternyata masih sangat hangat. Matanya masih terpejam. Ia sama sekali tidak terusik dengan keberadaan ku saat ini. Aku membelai rambutnya yang sedikit kecoklatan. Pria ini sangatlah sempurna dan juga sangat baik. Tapi aku telah menyeretnya ke dalam masalah yang seharusnya tidak pernah terjadi. Aku tengah mengukir luka untuk banyak orang, termasuk dirinya, Tegar, keluarga Tegar, Sukma, dan keluarga Sukma. Terkadang aku merasa tidak sanggup lagi. Aku tidak akan sanggup menghadapi satu persatu masalah nantinya. Dan aku tidak akan sanggup mengobati hati mereka satu persatu. Semua akan membenciku dan meludahi aku. Aku menyeka sudut mataku. Aku Gembira yang harus selalu gembira dan tegar, bukan menangis.

__ADS_1


"Dek," rintih Mas Kukuh.


"Yes, i'm here." Aku membantunya yang berusaha untuk duduk. Wajahnya kian pucat. Dan lagi, ia menyender di dadaku seperti anak yang butuh pelukan ibunya.


"Sukma?" tanyanya. Aku mengangguk seraya mempererat dekapanku untuknya.


"Jangan sekarang. Lebih baik kita panggil dokter dulu ya," bujuk ku untuk kesekian kalinya. Namun Mas Kukuh tetap menggeleng.


"Di sini aja temenin Mas. Sebentar lagi juga sembuh. Pliiiss...." Mas Kukuh merengek seperti anak kecil. Selalu seperti ini saat ia sakit. Seolah dewasanya berganti dengan sikapnya yang manja dan kekanakan. Aku mengangguk lalu ia mengajakku untuk berbaring lagi.


"Waktu sehat kayak kakak. Waktu sakit kayak anak. Kasian Sukma nanti dapet suami labil begini. Aw. sakit, Mas." Aku menjauhkan kepalanya dari diriku karena baru saja ia menggigit bahuku dengan cukup keras.


Aku melenguh, badanku pegal-pegal karena tidur dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan. Aku sama sekali tidak bisa bergerak sebab sebuah kaki anakan gajah mengunciku dengan posesif. Aku semakin gerah. Keringat bercucuran sangat deras. Tapi aku tidak tega membangunkan Mas Kukuh yang tampak sangat nyaman dengan posisi memelukku. Sepuluh menit habis aku memandangi plafon putih. Menjadikannya dasar lukisan-lukisan yang aku buat sendiri melalui khayalanku. Membayangkan hidupku akan lebih indah setelah ini. Membayangkan setelah ini pria yang sedang memelukku akan segera meminang sahabatku, Sukma. Dan aku akan melanjutkan kisah cintaku bersama Tegar Mahameru. Cintaku yang sesungguhnya. Cintaku yang sebelas tahun ini berhasil merubah cara pandang hidupku. Cintaku yang selamanya ingin ku genggam. Menunggu swastamita dalam asmaraloka.


"Basah semua, Dek." Suara serak khas bangun tidur mengagetkanku yang tengah berkhayal di atas plafon.


"Bau ya?" tanyaku.


"Iya. Sweet candy nya udah nggak kecium lagi," kelakar Mas Kukuh. Aku langsung mendorongnya agar melepaskan pelukannya. Tapi bukannya menjauh, malah semakin erat mengunciku dengan tangan dan kakinya yang berada di atas tubuhku. Aku berdecak sebal dibuatnya.

__ADS_1


"Ya lepasin dong, Mas. Katanya bau."


"Five minutes!" serunya.


"Tapi aku—"


"Tegar?" Mas Kukuh memotong ucapan ku.


"Mobil Tegar aku bawa semalem, Mas. Aku harus ketemu Tegar sore ini. Kami harus lihat senja. Mas juga harus ketemu Sukma kan? Mas nggak mau ketemu Sukma? Udah enam bulan nggak ketemu emang nggak kangen?" Aku mencecar Mas Kukuh. Ia tampak diam dan perlahan ia mengendurkan pelukannya. Berhasil. Aku bersorak ria dalam hati.


"Kamu tengah malem bawa mobil sendiri? kalo terjadi apa-apa sama kamu gimana? Tegar kemana? kenapa pulang sendiri? apa kamu nggak takut kejadian dulu terulang lagi?" Mas Kukuh balik mencecar aku dengan banyak pertanyaan. Napas ku sedikit tercekat. Meskipun nadanya santai, tapi Mas Kukuh adalah orang yang tegas. Untuk itu aku masih enggan untuk membahas masalah satu tahun yang lalu dengannya.


"Em, ya aku firasat aja, Mas. Buktinya Mas semalem sakit, kan? untung aku dateng. Kalo nggak mungkin Mas Kukuh udah menggigil parah banget. Nggak ada yang nolongin," jawabku dengan lancar tapi gugup setengah mati. Aku menggigit bibir bawahku saat Mas Kukuh kembali mengunci tubuhku dengan erat.


"Bohong." Mas Kukuh menatapku tajam.


"Beneran, Mas." Aku mengusap kepalanya agar sedikit rileks.


"Teguh kan?"

__ADS_1


deg


__ADS_2