Gembira Fajarini

Gembira Fajarini
Episode 8


__ADS_3

"Selamat pagi sobat ZetFM!"


"Selamat pagi, Gembira!"


"Cuaca lagi sendu banget ni, Wan. Kayaknya ada yang lagi kangen nih sama seseorang."


"Waduh, siapa nih...."


"Pacar paling...."


"Sahabat rasa pacar bisa jadi...."


"Atau malah si mantan tapi nggak tersampaikan nih kangennya."


Hari ini jadwal ku untuk on air. Profesi yang sudah aku geluti selama masih duduk di bangku kuliah. Mungkin sebagian orang akan menganggap kuno. Tapi bagiku, radio jockey adalah healing terbaikku selama ini. Kurang lebih aku bisa mengekspresikan diriku yang harus selalu gembira. Seperti saat ini, aku dengan antusiasnya menyambut hari meskipun sang mentari asik bersembunyi di balik awan. Seperti nama rekan ku juga, namanya Awan.

__ADS_1


"Cuaca kayak gini emang cocok banget untuk rebahan, makan yang anget-anget, kangen-kangenan, dan yang pastinya ditemenin sama lagu-lagu populer sepanjang masa dari ZetFM. Kira-kira lagu apa yang cocok yah? langsung aja kita dengerin yuk. Cekidot...."


Mulai dari musik, wawancara, adlibs, dan acara kirim salam. Semuanya lancar dan menyenangkan. Lagi-lagi bersyukur itu penting. Di saat manusia-manusia tidak memanusiakan manusia lain, syukur Tuhan masih memanusiakan aku. Pagi merangkak siang. Siang berangsur menjadi sore. Aku sebenarnya enggan untuk beranjak dari sini. Aku merasa berbeda saat telah berada di luar stasiun radio. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menghadapi segala situasinya dengan ketegaran.


Hiduplah seperti aliran air. Jangan berhenti sebelum membasahi. Tapi jangan merusak yang sudah dilewati. Sore ini hujan. Seketika menimbulkan kata-kata baru dari bibirku. Aku selalu menjiwai suasana saat tengah sendiri. Kaki melangkah dengan cekatan untuk segera sampai di halte. Hujan membuatku basah. Membuatku larut dalam pikiran-pikiran random. Bus tiba. Tapi sopir bus tampak memperhatikan aku yang basah. Aku mengusap-usap bajuku sendiri berharap cepat kering. Aku akan merasa bersalah bila bangku yang ku duduki basah.


"Masuk aja, Mbak Ra. Kok malah ngalamun!" seru sopir bus yang sering aku tumpangi. Aku mengangguk dan tersenyum sebagai tanda terima kasihku.


Hujan semakin jadi. Aku cemas akan kota ini. Kota yang tak pernah lepas dari banjir saat musim penghujan. Seharusnya kota ini selalu indah kala hujan dan terik. Kota ini penuh sekali dengan kenangan-kenangan masa gembira dan tegar ku. Aku berharap akan tetap pulang ke tanah ini sejauh apapun kakiku melangkah. Mataku menyapu pinggiran kota yang tampak sepi. Biasanya ramai sekali pedagang-pedagang kaki lima dan anak-anak pengemis. Tapi kali ini hanya satu-dua yang masih nekad demi untuk menyambung hidup. Aku selalu berpikir, apakah aku akan menjadi seperti itu bila tidak ada Tegar dan keluarganya? miris.


drrrrt drrrrt


"Kenapa nggak nungguin sih, Ra? Sekarang kamu di mana? Aku jemput ya." Tegar mencecar ku dengan pertanyaannya setelah aku mengirim pesan bahwa aku sudah naik bus untuk pulang.


"Aku udah mau sampai di halte deket apartemen, Toy. Maaf. Nanti jam tujuh jemput, ya. Aku mau ketemu sama ibuk bapak," kataku. Akhirnya Tegar mengiyakan setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja.

__ADS_1


Hujan luruh menggebu-gebu membasahi bumi. Banyak hati yang menabur harapan-harapan. Berharap hujan segera reda, dan kebahagiaan akan menghampiri. Termasuk aku, aku juga begitu. Ingin semua beban dan masalah segera berakhir. Ingin berbahagia dengan orang yang sangat aku cintai. Langkahku sangat cepat untuk segera meneduh. Air sudah setinggi mata kaki. Semoga hujan lekas reda. Dan bahagia akan segera datang. Bajuku sudah basah semua. Aku segera bergegas untuk membersihkan diri sebelum suhu tubuhku naik. Lantai apartemen ikut basah karena tetesan dari bajuku yang kuyup. Aku tidak peduli.


Hari ini tidak ada senja. Senja sedang bersembunyi di balik lebatnya awan hitam yang membawa hujan. Aku semakin mendekap jaket tebal ku. Berharap hujan ini kan usai. Berharap Tuhan masih berbaik hati untuk memberi titik terang setiap permasalahan.


"Kenapa nggak masak?" Aku sedikit terkejut, tapi pura-pura rileks saat mendengar suara pria yang sangat aku kenali itu.


"Males. Nggak ada yang makan," jawabku ketus. Sudah tiga hari ini masakan ku selalu sisa bahkan terkadang tidak disentuh. Aku tak mendengarkan suaranya lagi. Aku menoleh, ternyata Mas Kukuh merebahkan tubuhnya di atas ranjang ku. Aku menghela napas. Dengan menyingkirkan segala egoku, aku menghampiri Mas Kukuh.


"Mas, laper?" tanyaku. Mas Kukuh langsung duduk sambil menepuk sisi kasur agar aku duduk di sampingnya. Aku menurut.


"Mas udah pesen makanan. Setelah itu kamu minum paracetamol, ya." Aku mengangguk. Ia seperti sudah hafal betul dengan kondisiku setelah kehujanan. Aku menghela napas. Bahkan saat bicara pun Mas Kukuh tidak mau menatap mataku. Ia sepertinya selalu menghindari pertanyaan yang akan aku layangkan.


Menjadi dewasa bukanlah perihal yang mudah. Harus siap menahan emosi saat benar-benar marah. Dan harus bersikap biasa saja kala masalah tak kunjung reda. Seperti saat ini. Lagi-lagi aku harus menahan diri saat jawaban atas masalahku tak kunjung terjawab. Aku lelah menjadi dewasa. Tapi aku juga tak ingin mengulang kembali masa lalu. Karena aku pasti akan kembali lagi menjadi dewasa dengan segala situasi dan problemnya.


Aku membatalkan rencana hari ini bersama Tegar. Karena kurasa air sudah tinggi sebab hujan deras yang makin menjadi-jadi. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kota ini akan kembali banjir. Aku tidak pernah menyalahkan kinerja pemerintah. Karena sedari dulu segala upaya telah dilakukan untuk membebaskan Kota ini dari banjir. Meskipun aku tidak tahu, kinerja itu sungguh-sungguh atau tidak. Aku tidak tahu, aku tidak ingin berurusan dengan poltik. Saatnya nyoblos ya nyoblos. Itu saja, haha.

__ADS_1


Malam berangsur larut. Tapi aku masih terjaga. Aku masih harus bekerja di malam hari untuk memenuhinya kebutuhan. Tapi aku merasa lebih baikan saat ini. Suhu tubuh yang tadi sempat tinggi, kini mulai normal. Sudah tiga tahun ini. Sudah satu tahun aku menjalani malam-malam seperti ini. Tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali Tegar. Aku tetap diam. Menunggu saat yang tepat untuk menyelesaikan semua ini. Aku sangat mencintai Tegar. Salahkan aku tetap menginginkan ia singgah meski aku telah menanam luka? Ku lirik pergelangan tanganku yang terdapat gelang di sana. Terukir nama Tegar dibaliknya. Malam-malam seperti ini selalu membuatku ngilu. Napas ku masih terengah menuliskan kata demi kata untuk dijadikan sebuah karya. Malam yang panjang menjadi saksi akan hati, otak, dan raga yang tidak sejalan.


Doaku setiap malam hanya satu. Semoga esok saat matahari terbit, saat cahaya menjejak ujung-ujung pinus kaca kota ini, semoga semua masalah akan berkurang sedikit. Tidak muluk-muluk. Sedikit saja.


__ADS_2