
Lampu yang begitu terang membuatku menyipitkan mataku yang baru saja terbuka. Aku baru saja sadar setelah pengaruh bius itu hilang. Tenggorokanku terasa sangat kering dan aku menerima gelas yang disodorkan untukku.
"Jadi lebih baik kalian menikah secepatnya," tegas seorang lelaki yang tak kukenal suaranya. Aku terkejut dengan kalimat pernyataan itu kemudian memijat pelipis ku yang masih terasa pusing.
"Ma-maksudnya apa? Ada apa ini? kalian siapa?" tanyaku tanpa tahu apa maksud pria yang barusan melontarkan kata-kata pernikahan. Aku pun bertambah bingung karena ada beberapa orang juga di kamar ini.
"Nak, Kukuh akan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan padamu. Kamu jangan khawatir ya," timpal seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingku sembari mengusap bahuku. Jujur aku masih bingung dengan kondisi saat ini. Aku beralih menatap Mas Kukuh yang hanya diam menatapku.
"Maaf tapi saya sama Mas Kukuh-"
"Kami memang berencana untuk menikah. Tapi ini semua salah saya karena terburu-buru untuk melakukan hal yang tidak senonoh." Mas Kukuh memotong ucapan ku.
"Tapi-"
"Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan ke kamu, Gembira. Maafkan saya."
"Baiklah saudari Gembira dan saudara Kukuh, kalian harus segera bersiap untuk melakukan pernikahan secepatnya," timpal seorang pria berpakaian rapi dengan kontras seperti tokoh agama. Aku tercekat. Masih berusaha mencerna semua yang terjadi hingga aku harus tiba-tiba menikah.
"Nak, kok ngelamun. Ibu udah bawakan kamu kebaya. Sekarang kamu pake, ya," ucap wanita paruh baya tadi setelah semua orang meninggalkan kamar kecuali Mas Kukuh yang masih bertahan. Aku menatap wanita itu penuh tanya, namun wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Tapi saya harus bicara dulu sama Mas Kukuh, Bu. Bisa?"
"Saya cuma nggak mau nama baik kamu tercoreng, Ra. Jadi biarkan saya bertanggung jawab atas kejadian ini. Menikahlah dengan saya," timpal Mas Kukuh. Aku menggeleng namun wanita yang berstatus sebagai ibu Mas Kukuh itu menggenggam tanganku untuk meyakinkan.
"Akan tidak baik jika tidak disegerakan, Nak. Bukan hanya nama baik kamu yang nantinya akan tercemar, tapi juga keluarga kami."
Ingatanku melayang pada malam tadi. Pria iblis yang hampir saja meniduri ku dihajar habis oleh pria yang ku yakini Mas Kukuh. Di satu sisi aku sangat bersyukur bisa terselamatkan dari malam naas itu. Tapi di sisi lain aku harus melibatkan orang lain untuk menutupi aib ku yang sudah orang lain saksikan. Mas Kukuh sempat bercerita tentang semalam, di mana ia ingin membenahi pakaianku namun secara bersamaan keluarganya datang memergoki kami. Mas Kukuh sudah berusaha untuk menjelaskan pada keluarganya, namun ayahnya tetap bersikukuh untuk menikahkan kami sebab ada beberapa tetangga apartemen yang juga ikut heboh dengan kejadian semalam.
Dan hari itu hari di mana Mas Kukuh mengikrarkan janji suci dihadapan Tuhan dan beberapa saksi. Hari itu aku tidak menjadi wanita yang gembira, karena terlalu berat menghadapi kenyataan bahwa aku telah menjadi istri dari kekasih sahabatku, Sukma.
Flashback end
Hingga hari ini, sudah satu tahun lebih aku menjadi istri Mas Kukuh tanpa banyak orang tahu. Selama ini aku dan dia saling bekerja sama dalam berbagai hal. Aku pun enggan membahas masalah perceraian sebab mengingat jasanya yang sudah membantuku bebas dari jeratan pria itu. Namun aku sudah tidak tahan saat ini. Aku tidak ingin terus-menerus menyakiti Sukma dan Tegar.
Tubuhku menghangat. Aku larut dalam kenyamanan ini. Aku merasa ada yang memelukku tapi aku enggan membuka mata karena tak ingin keluar dari dunia mimpi ini.
Enam jam menuju pagi yang terasa sangat singkat. Aku merasa baru saja terlelap tapi kicauan alarm sudah sangat memekakkan telinga. Aku segera beranjak. Sudah saatnya memulai hari dengan kegembiraan-kegembiraan.
"Sarapan dulu, Dek."
__ADS_1
"Nggak usah, Mas. Tegar udah hampir sampe," jawabku yang membuat wajahnya menampilkan raut kecewa.
"Tapi Mas udah masak dari subuh tadi, loh. Dan cuma makanan ini yang berhasil mateng dengan sempurna. Kamu cobain dulu, ya," bujuknya. Aku menghela napas lalu mengangguk. Sekilas aku melirik dapur yang sudah seperti kapal pecah.
"Nggak usah khawatir, habis ini Mas bersihin kok. Silahkan duduk, Tuan putri." Mas Kukuh mempersilahkan.
Aku mulai menyendok dan mengaduk-aduk makanan itu dengan ragu. Mas Kukuh bukanlah Tegar yang pandai bergulat dengan peralatan dapur. Satu suapan mendarat di lidahku. Aku mengunyah sembari memejamkan mata. Tanpa sadar aku tersenyum.
"Enak," pujiku.
"Beneran, Dek? Kalau gitu besok Mas masakin lagi ya." Aku menggeleng.
"Nggak perlu, Mas. Mas nggak perlu melakukan itu semua untuk mempertahankan hubungan kita. Karna aku tetap pada pendirian ku. Aku akan segera mencari pengacara, Mas," tegas ku kemudian beranjak dari dudukku.
"Hari ini aku mengharamkan langkah kamu untuk keluar, Gembira!"
deg
Langkahku yang sudah di awang-awang pintu terhenti saat mendengar kata-kata Mas Kukuh. Aku membalikkan badanku. Tatapan tajamnya menusuk seolah melemahkan saraf-saraf tubuhku. Aku tak melangkah maju ataupun mundur. Air mata yang sudah berada di pelupuk segera ku halangi agar tidak jatuh. Aku membuang muka saat Mas Kukuh melangkah mendekatiku. Aku merasakan hembusan nafasnya menerpa pipiku.
__ADS_1
"Jangan pergi, please. Cuma kamu yang mengerti saya luar dalam. Saya sudah berkomitmen sejak dulu untuk hanya menikah sekali seumur hidup. Hiduplah dengan saya. Selamanya," ucapnya sendu. Ia merangkup wajahku. Menatap mataku sangat dalam hingga ke jantung.
Wajahnya semakin mendekat hingga hidungku hampir menyentuhnya, kurasakan napasnya semakin dekat denganku, hingga terasa sesuatu menyentuh bibirku dengan lembut. Aku terbawa suasana nyaman yang ia ciptakan.