
"Saya tidak mungkin menyukainya karena itu adalah istri Tuan Fabiano," jawab Miki.
Fiorella menghela nafas lega, ia pikir Miki akan membongkar semuanya dan sama saja itu adalah bunuh diri. Fabiano menatap istrinya yang memakan kentang goreng dengan santai kemudian kembali menatap Miki.
"Miki, kamu setia padaku 'kan? Kamu intai Fiorella dari pagi, sore sampai malam! Cari pria yang sudah membuat Fiorella berubah!" pinta Fabiano.
Fiorella menghela nafas panjang, ada-ada saja Fabiano itu, ia hanya ingin bercerai tanpa adanya masalah tapi kenapa pria itu selalu menghalanginya. Dasar pria egois yang tidak memikirkan perasaan istrinya! Dia hanya memikirkan dirinya sendiri mentang-mentang selama ini Fiorella membebaskannya.
"Fabiano, aku hanya ingin bercerai dan setelah itu silakan kamu bisa hidup bersama Gracia beserta anakmu yang kamu dambakan. Maaf, aku belum bisa memberimu anak. Di usiaku yang sudah 30 ke atas sangat sulit sekali hamil anak pertama," ucap Fiorella.
"Fio, kamu akan menyesal berpisah denganku. Aku sudah bilang tidak akan menikahi Gracia dan aku hanya bertanggung jawab pada anak itu saja dan kita bisa menjaganya," jawab Fabiano.
"Fab, kamu masih belum sadar juga? Kehadiran anak itu juga menyakiti perasaanku apalagi rencanamu, kita mengurusnya bersama-sama? Kamu terlalu mengentengkan perasaanku. Wanita mana yang akan mau merawat anak suaminya dengan wanita lain? Tak ada yang mau melakukan itu," jawab Fiorella.
Fabiano menatapnya dengan lekat. "Jadi kamu tidak suka dengan kehadiran anakku? Kenapa kamu jahat sekali? Setidaknya kasihanilah dia karena dia tidak bersalah."
"Apa pun ucapanmu aku tetap pada pendirianku yaitu ingin bercerai. Kita bisa berpisah baik-baik dan aku tidak akan menyebarkan ke media jika kamu berselingkuh, itu demi reputasimu yang katanya seorang CEO terbaik se- Italia," jawab Fiorella.
Wanita itu lekas pergi dari sana sebelum emosinya membludak, Miki masih berdiri di dekat sang tuan kemudian hanya tersenyum tipis dengan aksi tegas dari nyonya-nya tersebut. Fabiano menggebrak meja, ia sudah kalah dengan wanita itu.
Brak!
"Michael, ikuti wanita sialan itu! Cari tahu semua tentang pria di belakangnya! Aku ingin tahu pria itu punya power apa sampai Fiorella berani bercerai denganku. Apakah dia pengusaha konglomerat? Anak orang kaya atau bahkan punya tambang emas? Cari tahu semua tentang itu!" pinta Fabiano.
Asalkan kamu tahu, pria itu adalah aku dan aku hanyalah seorang gigolo biasa yang memanfaatkan uang istrimu. Betapa hinanya aku. Batin Miki.
"Baik, Tuan Fabiano."
Fabiano lekas pergi dari sana bersama Miki, ia harus menghancurkan Fiorella yang sudah membuatnya kecewa berat. Padahal Fabiano sendiri lebih memilih mempertahankan istrinya ketimbang Gracia, saat dengan Gracia ia hanya membutuhkan nafsu saja sedangkan saat bersama Fiorella entah mengapa kehidupannya sangat sempurna.
Sesampainya di rumah.
Fiorella menangis di dalam kamar, ia sebenarnya juga tidak mau bercerai namun dengan adanya bayi itu maka ini adalah keputusan yang baik. Dia melirik foto pernikahannya dengan Fabiano, dulu saat mereka menikah beritanya sampai menjadi trending topik di negara itu sampai berminggu-minggu. Mereka adalah pasangan yang sempurna bahkan semua orang sangat iri dengan mereka. Tak ingin membuat malu, Fiorella lebih baik menyimpan kebusukan suaminya itu demi dirinya sendiri. Dia tidak mau dianggap istri yang tidak pecus dalam mengurus suami.
__ADS_1
Sampai jam 10 malam, Fabiano tidak pulang ke rumah dan ini menandakan perpisahan harus terjadi, pria itu pasti memilih menunggu Gracia di rumah sakit. Saat bersamaan, bel rumah berbunyi yang ternyata adalah Miki.
"Kenapa malam-malam datang ke sini?" tanya Fiorella.
"Cuman memastikan kamu baik-baik saja," jawab Miki.
"Aku baik-baik saja. Oh iya, kamu tadi mengantar Fabiano ke rumah sakit?"
Miki mengangguk. "Iya, pastinya ke sana."
"Oke," jawab Fiorella singkat.
Miki membawakannya sebuah boneka kecil supaya menghibur suasana hati Fiorella. Wanita itu hanya tersenyum sembari menolaknya.
"Aku bukan anak remaja lagi, aku tidak butuh boneka," ucap Fiorella.
"Maaf, aku miskin dan tidak punya apa-apa tapi dengan lancang berharap padamu," ucap Miki.
"Kamu sungguh menyukaiku?"
"Secara tidak langsung kamu sudah melanggar kontrak kita, kita dilarang terbawa perasaan pada hubungan ini," ucap Fiorella.
Miki hanya diam saja kemudian menghela nafas panjang, ia berjalan melangkah pergi dari sana. Fiorella menatap kepergiannya, ia memang ada rasa pada Miki tapi kembali lagi pada dirinya yang tidak bisa menerima pria miskin walau ia sendiri kaya raya. Status sosial masih berlaku apalagi Fiorella anak dari keluarga yang berada.
Miki masuk ke dalam mobilnya, ia memukuli setir beberapa kali karena cintanya tidak berbalas. Dia juga merasa gila karena sudah jatuh cinta kepada sang nyonya yang sudah memberinya nafkah. Dasar tidak tahu diri dan malah berharap lebih! Miki kemudian kembali pulang ke rumah sakit, ia harus kembali kepada kehidupannya setelah pulang dari bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, ia melihat Carina yang semakin kurus kering dan rona wajahnya sudah menghilang. Miki menggenggam tangannya dan mengecupnya dengan lembut.
"Carina, aku sayang padamu," ucap Miki sambil meneteskan air matanya lalu dia tertidur di sebelah adiknya itu.
Keesokan harinya.
Miki sudah memakai jas lengkap dan siap berangkat ke kantor, ia mengecek ponsel dan tidak ada pesan dari Fiorella yang membutuhkan jasanya. Entah mengapa dia kecewa dan lekas menuju ke kantor.
__ADS_1
"Carina, aku berangkat dulu," ucap Miki.
"Kamu sudah memikirkan baik-baik? Kamu lebih baik bekerja untuk suaminya saja di kantor itu malah jauh lebih oke ketimbang menjadi gigolo untuk istrinya," jawab Carina.
"Carina, itu sama saja aku mengkhianati Fiorella. Sejak awal aku sudah bekerja dengannya bahkan dia juga yang membantuku masuk ke kantor suaminya. Untuk gaji juga jauh lebih tinggi Fiorella karena sekali tidur saja aku bisa mendapatkan..."
"Cukup! Aku tidak mau dengar. Lebih baik aku mati saja," ucap Carina sambil terisak.
Miki mengusap air mata adiknya itu. "Jika kamu mati maka aku juga akan mati. Kita harus mati bersama-sama."
"Huhuhuhu... Kamu jangan bicara seperti itu," jawab Carina tersedu-sedu.
Di depan pintu sudah ada Fiorella yang mendengarkan semuanya, ia membawa buah-buahan serta bunga untuk Carina. Sungguh sangat kasian sekali hidup Miki, ia membutuhkan uang yang banyak untuk biaya adiknya dengan cara menjual diri kepadanya.
Tok... tok...
Fiorella masuk ke dalam sembari tersenyum manis. Carina dan Miki langsung mengusap air matanya, Miki mendekat sembari tersenyum.
"Pagi-pagi sekali kamu datang kemari?" tanya Miki.
"Iya, kebetulan aku lewat jadi mampir juga," jawab Fiorella sambil menyerahkan apa yang dia bawa. "Oh iya, Miki. Ayo keluar sebentar! Aku harus berbicara denganmu."
Mereka berdua keluar dan mengobrol sambil duduk di kursi. "Aku tahu kamu adalah kakak yang baik dan bertanggung jawab. Maaf, tadi aku mendengar obrolan kalian. Jika kamu mau berhenti menjadi gigolo silahkan dan kamu bisa fokus bekerja di perusahaan Fabiano. Jangan khawatir! Aku sudah mengurus asuransi untuk adikmu jadi kamu tidak perlu pusing membayarnya, anggap saja itu hadiah untukmu karena sudah menjadi gigoloku."
"Bukankah ini terlalu cepat kamu mengatakan itu? Fio, aku akan buktikan jika aku lebih pantas untukmu ketimbang Fabiano. Aku memang tidak tahu diri namun yang jelas aku sudah jatuh cinta padamu dan ini bukan masalah uang melainkan perasaan," jawab Miki.
Cekrek!
Saat bersamaan ada yang memotret mereka dari kejauhan, pria itu berjas dan menggunakan kaca mata hitam.
"Ada yang mengintai kita," ucap Miki sudah menyadarinya.
Saat bersamaan juga terdengar suara alat-alat kesehatan Carina yang berbunyi, Miki langsung masuk dan melihat adiknya sudah kejang-kejang.
__ADS_1
"Carina!" teriak Miki.