
Beberapa hari kemudian.
Fiorella sudah diperkenankan untuk pulang ke rumah, dia membawa diantar oleh Miki sampai ke dalam rumah dan orang tua Fiorella hanya diam saja. Masalah Gracia tentu saja masih ada sampai sekarang karena dia hanya ingin memikirkan Miki saja yang selalu ada untuknya apalagi ia kehilangan janinnya karena ulah Fabiano, janin yang selama ini ia dambakan untuk menjadi anak saat sudah lahir nanti.
"Miki, rumahmu mana?" tanya Mama.
"Tak jauh dari sini, Aunty," jawab Miki sangat sopan.
"Fio dan Fabio belum resmi bercerai, sebaiknya kamu jangan sering bersama Fio dulu!" pinta Mama.
Fiorella langsung menggenggam tangan Miki. "Biarkan dia menemaniku!"
"Yasudah, Mama akan keluar dulu."
"Apa Mama sudah menyelidiki Gracia?"
Mama hanya diam sembari keluar dari kamar, Fiorella paham jika pasti beliau akan melakukan yang terbaik untuk pernikahannya sendiri. Setelah beliau keluar dari dalam kamar, Miki mengambilkan air putih untuk Fiorella. Dalam hati Fiorella memang ia sangat menyukai keberadaan Miki di sini apalagi Miki sudah tidak sibuk lagi dengan adiknya.
"Aku terkena pinalti di perusahaan suamimu karena mengundurkan diri padahal belum ada sebulan bekerja. Suamimu pandai sekali karena dia tidak memecatku tapi membiarkanku mengundurkan diri supaya aku bisa terkena pinalti sampai puluhan juta," ucap Miki.
"Aku akan membayarnya," jawab Fiorella.
Miki menggelengkan kepala, dia sudah tidak mau merepotkan Fiorella atau memanfaatkannya. Dia akan menjadi pria yang bertanggung jawab bahkan akan menafkahi Fiorella jika ia benar-benar bisa menjadi suaminya.
"Aku akan melamar pekerjaan di tempat lain, semoga saja masih ada kesempatan," ucap Miki.
"Jika kamu keluar dari perusahaan itu maka beberapa perusahaan lain akan memasukkanmu ke daftar hitam. Koneksi Fabiano sangat banyak sekali sehingga mungkin saja dia melakukan itu padamu," jelas Fiorella.
"Fio, bekerja tidak harus selalu di kantor. Dulu aku pernah ikut kerja proyek dengan gaji yang lumayan, aku akan bekerja di sana saja kemudian mengumpulkan uang untuk melamarmu," jawab Miki.
__ADS_1
Saat bersamaan pintu terbuka yang ternyata adalah Fabiano, dia di dorong menggunakan kursi roda oleh asisten pribadinya memasuki kamarnya dengan Fiorella.
"Kamu tidak tahu malu ingin melamar wanita yang masih menjadi istri orang? Miki, serendah itukah harga dirimu?" tanya Fabiano.
"Fab, sebentar lagi kita bukan suami istri. Kamu juga tidak sopan masuk ke kamarku padahal kita sudah pisah ranjang," ucap Fiorella.
"Aku tidak mau bercerai, aku memberikanmu kesempatan dan memaafkan kesalahanmu tapi buatlah pria tidak tahu malu itu pergi dari hidupmu," jawab Fabiano.
Miki menggenggam tangan wanita itu, ia semakin berani menunjukkan keseriusannya pada Fiorella. Fabiano merasa sangat kesal sekali, andai saja kondisinya sehat maka ia akan memukuli Miki saat itu juga.
"Kamu salah melawan orang, kamu pikir aku akan diam saja setelah drama tembak menembak kemarin? Tidak secepat itu, aku akan membunuhmu dan membuatmu kehilangan semuanya," ucap Fabiano.
"Cukup Fabiano! Kamu keterlaluan dan selalu menang sendiri. Pergi! Pergi dari sini! Rumah ini akan menjadi milikku karena aku akan menuntut rumah ini sebagai harga gono-gini. Kamu yang awalnya berselingkuh bahkan mengira selingkuhanmu hamil padahal itu bukan anakku. Kamu yang memulai pertengkaran ini namun sekarang malah bertindak sebagai korban. Aku lelah, biarkan aku bebas, aku tidak bahagia hidup denganmu tapi berbeda saat aku bersama Miki, dia memperlakukanku sangat baik bahkan aku seperti diratukan," jelas Fiorella sambil menangis.
Beban kesakitannya sangat berat sekali sampai ia mengeluarkan segala keluh kesahnya di depan dua pria itu.
"Aku hanya sebagai bonekamu, aku hanya sebatas istri formalmu yang dipamerkan di depan publik saja tapi pada kenyataannya aku hanya istri bayangan. Aku juga ingin seperti para wanita yang lain bukan materi saja yang didapatkan melainkan kasih sayang yang penuh. Apa kamu paham Fabiano? Miki memang tidak bisa memberikanku materi yang banyak melainkan dia bisa memberikanku sebuah kenyamanan," jawab Fiorella.
"Maaf, aku sudah menjadi suami yang payah untukmu tapi sekali lagi aku bertanya, apa kamu sungguh ingin bercerai dariku? Ini pertanyaan terakhir, apapun jawabannya aku akan mencoba untuk menerima dengan berat hati," ucap Fabiano.
"Iya, aku ingin bercerai, aku ingin kita pisah saja karena perasaanku kepadamu sudah hancur lebur," jawab Fabiano.
Fabiano mengangguk. "Baiklah jika itu maumu. Terima kasih sudah menjadi istriku selama dua tahun ini. Maaf untuk semuanya tetapi aku tetap tidak ikhlas saat melihatmu harus mendapatkan pria itu. Carilah pria yang setidaknya selevel denganmu!"
"Kamu tidak perlu mengurusi itu!" jawab Fiorella ketus.
Pria itu lantas mendekati lemari, ia meminta asistennya untuk mengemasi barang-barangnya. Fiorella hanya diam saja sampai foto pernikahannya pun diambil oleh asisten dari Fabiano dan di masukkan ke dalam tas.
"Kamu mau apakan dengan foto itu?" tanya Fiorella.
__ADS_1
"Setidaknya untuk dijadikan barang kenangan," jawab Fabiano.
Sejak tadi Miki hanya diam saja, akankah kamar ini akan menjadi kamar miliknya dengan Fiorella suatu saat nanti, kamar yang menjadi bekas percintaan antara Fiorella dengan mantan suaminya.
"Aku pergi, aku harap kamu tidak menyesal berpisah denganku."
"Pergilah Fabiano! Itu yang aku inginkan."
Setelah Fabiano pergi, Fiorella mengusap air matanya, ia tersenyum sembari menggenggam tangan Miki. Apapun itu ia tidak akan menyesal karena lebih memilih gigolonya.
"Maaf sudah menghancurkan rumah tanggamu. Carina pasti di sana semakin kecewa kepadaku," ucap Miki.
"Memang sebelumnya pernikahanku sudah hancur. Oh iya, aku ingin makan bubur buatanmu. Mau buatkan untukku?"
"Oke, aku akan ke dapur," jawab Miki kemudian mencium kening Fiorella.
Miki mulai hari ini sudah tinggal di sana bersama Fiorella dan tentunya akan tidur di ranjang yang sama. Dia menjaga Fiorella dengan baik dan mendukungnya dalam segi psikologis untuk menyembuhkan traumanya. Sesampainya di dapur, ia mengeluarkan bahan masakan kemudian memasaknya.
Apa hidupku akan bahagia jika aku merebut istri orang lain? Kenapa baru kali ini aku memikirkan dampak ke depannya? Melihat wajah Fabiano yang memelas tadi membuatku merasa kasian. Ah! Biarlah, itu karma yang harus dia tanggung akibat perbuatannya. Sekarang aku harus fokus bagaimana cara membahagiakan Fiorella.
"Aku belum selesai denganmu."
Miki menoleh yang ternyata Fabiano.
"Carilah wanita lain! Fio sudah memilihku," ucap Miki.
"Kamu hanya dianggap pelarian saja dan jika bosan akan dibuang," jawab Fabiano.
"Hem, setidaknya kamu dulu yang dibuang olehnya. Fabiano, kamu sudah kalah dan harus mengakui kekalahanmu!"
__ADS_1
"Santai saja! Aku akan melihat bagaimana rumah tangga kalian seperti apa? Mungkin saja Fio akan mencari gigolo lain untuk memuaskannya?" ejek Fabiano dan untung saja Miki tidak tersulut emosi.