
Pada akhirnya Fiorella dan Miki terpaksa membawa putranya ke toko mainan untuk membeli boneka bayi namun setelah sampai di sana Alessandro kecewa karena bayi itu memakai baterai untuk berbicara padahal adik teman-temannya itu tak perlu menggunakan baterai.
"Mau yang laki-laki atau perempuan?" tanya Miki.
"Aku gak mau yang ini. Ini mainan dan yang punya temanku bukan mainan, dia bayi asli tanpa baterai," ucap Alessandro sangat polos.
Fiorella dan Miki hanya menggaruk tengkuk leher mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi canggung dan bingung karena mau mereka harus program anak lagi.
"Sementara ini dulu saja. Mau?" tanya Miki.
"Gak mau! Aku mau pulang saja," ucap Alessandro kemudian keluar dari toko mainan itu.
Fiorella dan Miki ikut keluar lalu melihat anaknya marah. Miki membelai rambut putranya dan berjanji akan memberikan adik untuknya sementara Fiorella hanya diam saja karena ia belum cukup siap untuk punya anak lagi.
Setelah itu mereka pulang ke rumah, sesampainya di rumah Miki dan Fiorella menyuruh anaknya untuk bermain sendiri sementara itu mereka berbicara berdua di depan balkon kamar.
"Mau punya anak lagi? Aku belum siap," ucap Fiorella.
"Putra kita sudah berumur 5 tahun. Mau menunda apalagi?" tanya Miki.
"Huh! Aku masih trauma akan melahirkan. Kamu tak bisa merasakannnya makanya seperti ini."
__ADS_1
Miki mengusap pipi Fiorella sembari tersenyum kecil. Dia tak akan memaksa jika Alessandro tidak meminta tapi Fiorella akan memikirkannya karena ia juga masih mau punya anak perempuan.
Selepas itu mereka berkonsultasi ke dokter untuk program anak perempuan. Jika dibutuhkan pun mereka akan melakukan bayi tabung supaya bisa mendapatkan bayi perempuan. Konsultasi demi konsultasi berlalu dan saat ini sudah bulan kedua Fiorella menunggu saat yang pas untuk bayi tabung. Dengan biaya yang tidak murah mereka melakukannya.
"Miki, saatnya kita melakukan bayi tabung."
Miki mengangguk pelan sembari bersemangat karena ia akan hendak punya anak perempuan yang tentunya cantik seperti sang ibu.
***
Waktu yang ditunggu tiba saat program bayi tabung berhasil. Janin itu lantas disuntikkan pada rahim Fiorella berjenis kelamin perempuan. Alessandro sangat senang sekali ketika mendapat kabar akan kehadiran adik bayinya. Kehamilan kedua Fiorella menjadi kabar baik bagi media. Pemberitaan terus menerus dilakukan apalagi nama Fiorella semakin naik daun. Memang benar jika berbeda suami maka akan berbeda rezeki pula, saat bersama Fabiano dia tidak seperti ini dan semenjak menikah dengan Miki rezekinya kian mengalir.
"Sandro, berikan Mama mu susu ini supaya adik bayi bisa sehat," ucap Miki.
"Tentu saja. Biar sehat dan tumbuh besar."
Alessandro mengangguk kemudian berlari kecil menghampiri sang mama. Dia memberikannya sembari melihat perut sang mama yang masih rata dan wajah mamanya yang pucat.
"Gara-gara adik bayi Mama jadi sakit ya? Maafkan aku, Mah! Seharusnya aku tidak meminta adik bayi pada Mama," ucap Alessandro sedih.
"Tidak, Mama senang akan punya anak lagi dan yang pasti wajahnya tak jauh berbeda dari Alessandro yang lucu. Kamu jangan berpikiran seperti itu ya!"
__ADS_1
Alessandro mengangguk lalu memberikan susu itu pada mamanya. Fiorella harus menahan rasa mual yang menyiksa ini apalagi demi buah hatinya. Sementara itu Miki harus berangkat bekerja mengurus perusahaannya yang kian berkembang pesat namun sebelum itu ia menyambangi makam adiknya terlebih dahulu.
Sesampainya di makam Carina, Miki tak lupa membawakan bunga untuk adik tercintanya yang sudah tiada sejak 6 tahun yang lalu. Waktu cepat sekali berlalu sampai-sampai Miki menyadari jika seharusnya saat ini Carina bisa bahagia dengan masa depannya seperti menikah dan punya anak tapi usia Carina terhenti tepat di usianya yang baru saja 20 tahun.
"Carina, aku sangat rindu. Apa kabarmu? Maaf sudah berbulan-bulan tidak datang ke sini. Aku membawakanmu kabar jika Fiorella tengah mengandung anak perempuan lagi dan aku akan menamai Carina seperti namamu. Boleh kan? Aku hanya ingin selalu mengenangmu walau lewat anakku," ucap Miki.
Miki tak lupa menaruh seikat bunga di atas makam sembari mendoakan yang terbaik untuk adiknya di atas sana. Saat bersamaan seseorang datang dan sudah berdiri di belakangnya.
"Lama tak berjumpa," ucap Fabiano.
"Oh, Fabiano?" Miki berdiri sembari menjabat tangan pria itu. "Kenapa ada di sini?"
"Hem, aku mengikutimu dan ternyata kamu masih menjenguk adikmu."
Miki tersenyum kecil, jika bukan karena adknya ia tak akan menjadi seorang gigolo. Mereka lantas berbincang di luar makam sembari bertanya kabar satu sama lain, sejak saat itu Fabiano menghilang entah kemana.
"Aku mendengar kabar jika Fio hamil lagi. Selamat," ucap Fabiano.
"Terima kasih. Lalu bagaimana dengan kabarmu? Kamu sudah menemukan wanitamu?" tanya Miki.
Fabiano tersenyum kecil. "Tentu saja sudah."
__ADS_1
#satu bab lagi tamat ya.