
Miki menunggu adiknya yang sedang diperiksa oleh dokter, ia sangat panik sekali karena tadi melihat adiknya itu kejang-kejang. Miki menunggu sambil mondar-mandir sementara ia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak untuk masalah adiknya.
Setelah menunggu setengah jam, dokter keluar dengan wajah yang tidak bisa tertebak namun Miki menyadari jika Carina....
"Maaf, Miki. Adikmu sudah tidak tertolong lagi," ucap Dokter.
Miki sangat murka dan menarik jas dokter tersebut, ini salah mereka yang menunda operasi dengan berbagai alasan padahal Miki siap untuk membayar biayanya. Pihak rumah sakit tentunya ada pertimbangan untuk mengoperasinya apalagi di saat kondisi yang masih belum stabil namun apalah daya, sebelum operasi dilaksanakan Carina malah sudah berpulang terlebih dahulu.
"Ini semua salah kalian, aku akan menuntut rumah sakit ini," ucap Miki emosi.
Dokter yang lain menenangkan dan melerai mereka, Miki tak kuasa menahan tangisannya karena ia sudah kehilangan semangat hidupnya.
"Carina! Carina!" teriak Miki.
Di sisi lain, Fiorella mendapat kabar dari orang suruhannya jika Carina sudah tiada. Dia lekas menuju ke rumah sakit saat ini juga, hal yang ia pikirkan pertama adalah Miki. Pria itu pasti sedang frustasi dan tidak baik-baik saja untuk saat ini.
Fiorella memakai pakaian panjang serta menggunakan syal karena malam ini dingin dan sesampainya di sana ia melihat Miki hanya termenung di depan ruang jenazah.
"Miki? Kamu baik-baik saja?" tanya Fiorella.
Wanita itu berjongkok di depannya sembari menggenggam tangan Miki. Miki masih diam saja dengan mata yang sembab, dia sudah tidak punya orang tua bahkan kini adiknya menyusul orang tuanya.
"Miki," ucap Fiorella merasa prihatin.
Fiorella duduk di sebelahnya sembari menarik kepala Miki untuk bersandar pada bahunya. Miki hanya bisa meratapi kepergian adiknya yang selama ini mau berjuang bersamanya.
"Semuanya sudah selesai," gumam Miki.
"Apa yang sudah selesai? Perjalananmu masih panjang," jawab Fiorella.
"Carina satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup dan kini dia sudah tiada, semuanya lenyap begitu saja," ucap Miki.
Fiorella mengecup pucuk kepala pria itu lalu menggenggam tangannya. "Ada aku di sini, aku akan selalu disampingmu saat kamu membutuhkanku."
Di ujung lorong sepasang mata melihat dengan nanar, rasa sakit hati menyeruak bahkan ia merasakan apa uang istrinya rasakan waktu itu. Siapa lagi jika bukan Fabiano? Setelah mendengar kabar kematian adik dari Miki dia langsung ke rumah sakit namun apalah daya, ia malah melihat pemandangan menyakitkan itu.
Apakah itu gigolomu? Batin Fabiano.
Fabiano melihat Miki merasa nyaman di dekat Fiorella, jadi pria itu menjadi asisten barunya hanya untuk menjadi mata-mata? Sialan! Fabiano tertipu bocah 25 tahun itu yang jauh lebih muda darinya. Pantas saja Miki selalu memihak Fiorella jika sedang berdebat.
Hanya karena ini sedang berduka membuat Fabiano merasa kasian, ia malah mendekat dan ingin sekali menghantam wajah Miki. Benar saja, ia langsung menarik kerah baju Miki kemudian menghantamnya berkali-kali menggunakan bogem mentah. Fiorella kaget, ia mendorong Fabiano untuk menjauh dari Miki.
__ADS_1
"Aku sudah curiga padamu, Sialan!" bentak Fabiano.
"Fab, diamlah! Ini rumah sakit, kamu bisa membangunkan jenazah yang tertidur di dalam sana," ucap Fiorella.
"Aku akan membuatnya tertidur seperti jenazah," jawab Fabiano.
Dia menarik kerah Miki lagi dan meninjunya berkali-kali, Miki tidak melawan karena dia masih dalam keadaan sedih. Andai saja dia melawan pasti Fabiano akan kalah karena besar tubuh mereka berbeda.
"****! Keparat kamu!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Cukup!" teriak Fiorella sambil memeluk Miki yang sudah terkapar di lantai.
"Apa dia yang memberikan bekas merah di lehermu?"
Fiorella hanya diam saja sambil menangis.
"Sadar diri Fabiano! Kamu juga sama malah jauh lebih dulu seperti itu. Kamu jangan munafik! Aku seperti ini karena kamu juga," jawab Fiorella.
Di saat bersamaan, petugas keamanan datang untuk melerai pertengkaran mereka. Fabiano menatap Miki dengan tajam.
"Awas kamu! Urusan kita belum selesai," ucap Fabiano.
Para pengawal Fabiano menarik Fiorella dan membawanya pulang. Fiorella meronta namun tenaganya kalah dari mereka, ia di bawa ke rumah bersama Fabiano yang tak kalah murka.
Sesampainya di rumah, tubuh Fiorella diikat di ranjang sekuat mungkin dengan tubuhnya yang telentang. Setelah para pengawal itu pergi kini Fabiano datang sudah memegang alat setrum yang selalu dia gunakan jika keadaan bahaya tapi kali ini ia akan menggunakannya untuk menghukum Fiorella.
"Jangan!" ucap Fiorella.
"Asal kamu tahu, aku sangat cinta denganmu," jawab Fabiano mendekat.
Fabiano mengarahkan alat setrum itu ke telapak kaki Fiorella, wanita itu langsung berteriak sekencang mungkin karena merasa kesakitan.
"Aaaarghhhh...."
__ADS_1
"Ini belum seberapa." Fabiano mengarahkan ke paha.
"Aaaarggggghhh...."
Air mata Fiorella terus mengalir, semua pembantu di rumah itu tidak bisa berkutik bahkan tidak berani ikut campur.
"Aku ingin tahu apakah alat ini bisa memuaskanmu saat aku masukan ke bagian intimmu," ucap Fabiano.
"Jangan! Jangan! Aku minta ampun," ucap Fiorella.
Fabiano merobek celana kain yang dipakai Fiorella, wanita itu sudah kehabisan tenaga karena terus memberontak sampai dia pasrah. Air matanya mengalir ke pipinya kemudian jatuh ke bantal.
"Aku berselingkuh karenamu juga, kamu tidak bisa memuaskanku bahkan membuatku ketagihan juga tidak bisa. Lain cerita dengan Gracia, dia wanita liar yang mampu paham akan keinginanku," ucap Fabiano.
"Kamu jangan pulang, bagaimana aku bisa memuaskanmu? Kamu egois dan jahat!" jawab Fiorella sambil tersedu-sedu.
"Sudah aku bilang aku terlalu sibuk bekerja dan hanya Gracia yang ada di kala aku sibuk. Kamu mana paham? Yang kamu tahu hanya menghabiskan uangku dengan barang belanjaan konyolmu itu," ucap Fabiano.
"Uangmu itu juga uangku, saham terbesar di perusahaan itu milik papaku. Fabiano, kamu hanya menumpang nama saja," jawab Fiorella.
Fabiano mencekik Fiorella. "Aku tidak segan membunuhmu."
"K-kamu t-tidak t-tahu, ji-jika Gracia s-selingkuh dengan papaku," ucap Fiorella.
Fabiano mengernyitkan dahinya lalu melepaskan cekikannya. Fiorella mengambil nafas dalam-dalam sambil terbatuk-batuk.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Apa maksudmu?"
"Gracia sudah ada main dengan Papaku bahkan semua fasilitas mewahnya berasal dari Papaku. Rumah, apartemen, tas mahal, asal kamu tahu gaji sekretaris tidak sampai bisa membeli semua itu dalam sekejap," jelas Fiorella.
Fabiano kesal sekali mendengarnya dan tidak percaya, dia menurunkan celananya dan memasukkan miliknya. Fiorella menahan kesakitan karena perbuatan kasar Fabiano.
"Akh!"
"Jangan membuat fitnahan!"
Fiorella merasakan Fabiano mulai memainkannya. "Aku tidak bohong, Gracia sedang mengandung anak dari Papaku dan itu bukan anakmu."
Fabiano terhenti dari aktivitasnya, ia menatap lekat Fiorella. "Masalah ini dimulai karena Miki, tidak perlu mengubah topik pembicaraan!"
__ADS_1
"Kamu bisa cek sendiri faktanya dan untuk Miki, dia jauh lebih memuaskan darimu," ucap Fiorella sambil tersenyum mengejek membuat Fabiano semakin kesal.