Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
Lebih baik nakal


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Salva sudah berdandan cantik untuk pestanya sore ini. Pesta sengaja dilakukan sore sampai jam tujuh malam, karena dari mereka sudah banyak yang berkeluarga tidak mungkin pulang malam-malam.


Kali ini ada yang beda dari dandanan Salva, ia mengunakan hijab yang membuat penampilannya Semakin manis. Itu sudah syarat dari Arya jika ingin pergi ke pesta Tampa dirinya, ia hanya tidak ingin aurat istrinya dilihat orang lain. Meskipun itu hanya rambut Arya tetap tidak rela,jika ia bisa ingin sekali ia menyuruh istrinya itu selalu menggunakan hijab, tapi ia tidak berani mengekang istrinya, ia ingin Salva sendiri yang sadar dan berubah untuk dirinya sendiri.


Salva memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, sekarang ia merasa percaya diri dengan penampilannya yang baru.


Saatnya tebar pesona sayang. Kapan lagi bisa bisa bersenang-senang!


Baju yang digunakan Salva tidak terlalu sempit ataupun terlalu longgar, tapi sangat pas ditubuhnya, dan juga tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kali ini ia memilih menggunakan baju dipasangi dengan celana, ia tidak ingin menggunakan gaun, karena ini bukan acara formal.


"Bunda... Salva pergi ya!!!"


"Gak usah teriak Va, bunda dengar kok," Ucap bunda yang keluar dari dapur, mungkin ia sedang memasak.


"Wahhh kamu cantik banget sayang..! Bunda sampai pangling loh." Bunda zera sungguh takjub dengan penampilan Salva.


"Beneran Bun?"


"Iya. Apalagi kamu pake hijab, kamu makin cantik pokoknya." Salva tersipu mendengar pujian bundanya.


"Makasih loh Bun...,"


"Kamu pergi naik apa Va?"


"Taksi Bun," Jawab Salva.


"Ya udah. Hati-hati ya."


Setelah mencium tangan bunda Salva pamit pergi, ia langsung masuk ke dalam taksi yang telah ia pesan tadi.


"Pak, ke alamat ini ya," ucap salva sambil memberi alamat sama pak supir.


"Iya mbak."


Sekitar lima belas menit Salva sampai ditempat yang dijanjikan. Jangan kalian pikir mereka melakukan pesta dengan mewah disebuah hotel, itu bukan tipe teman-teman Salva. Mereka berpikir dari pada menghabiskan uang cuma-cuma mending mereka gunakan untuk hal yang lebih berguna.

__ADS_1


Disana, dirumah salah satu teman salva hampir semua teman-temannya sudah berkumpul. Tempatnya sudah disulap begitu indah dengan dihiasi begitu cantik.


Salva menyapa mereka yang ia rasa kenal, dan juga bertemu sahabat-sahabatnya saat Sekolah dulu. Ada yang bersalaman adapula yang saling memeluk melepas rindu.


"Astaga Salva..! kamu cantik banget," ucap salah satu sahabat Salva.


"Bisa aja kamu mel. Apa kabar?" salva membalas pelukan meli.


"Baik, kamu bagaimana?"


"Baik juga," jawab Salva. "Apa sudah semuanya ngumpul?"


"Tidak juga, mereka yang datang hanya yang masih dikota ini. Dari teman-teman kita sudah banyak yang pindah dan punya keluarga, jadi banyak yang gak bisa hadir." Salva mengangguk mengerti ucapan Meli.


"Kamu sudah nikah Mel?" Pertanyaan itu membuat mereka jadi canggung. Salva merasa ada yang salah dari ucapannya.


"Sudah Va. Hanya saja ...," Meli menjeda ucapannya, "Kami berpisah setelah setahun menikah."


Salva cukup terkejut, padahal kabar yang Salva dengar dari teman yang lain Meli sudah menikah dengan orang yang dicintainya, mereka sudah berpacaran sejak SMA.


"Gak apa-apa Va, biasa aja kali kayak sama siapa aja."


Waktu SMA mereka sangat dekat, karena memang mereka sudah berteman dari kelas satu SMA sampai mereka lulus. Meli ini sama nakalnya dengan Salva, paling hobi nonton balapan liar dan juga ikutan hanya untuk bersenang-senang dengan yang lain. Untung taruhan mereka tidak sehebat itu, sudah dibilang mereka hanya ikut-ikutan agar terlihat keren semasa remaja.


"Aku rindu masa sekolah," ucapan meli membuka Salva tersenyum.


"Aku juga. Oh ya, Rahma bagaimana? Apa anak itu sudah bertobat dengan sifat playgirl nya?" Salam satu sahabat Salva yang suka gonta-ganti pacar, maklum wajah cantik membuat banyak pria terpikat pada sahabatnya itu.


"Emang kamu gak tau Va?"


"Apa?"


"Rahma sudah meninggal tiga bulan yang lalu." salva sungguh syok mendengarnya, bagaimana gadis periang itu bisa begitu cepat berpulang.


"Kok bisa Mel?"

__ADS_1


"Ya bisa lah ... Makanya gak baik punya banyak pacar, jadi petaka kan?"


"Maksud kamu?"


Meli berdecak kesal. "Kamu benar-benar ketinggalan banyak berita Salva sayang! Sahabat centil kita itu meninggal karena dibunuh kekasihnya dihotel!"


Salva terbelalak tak percaya, sungguh sadis berita yang ia dapatkan. Sebenarnya masih banyak yang ingin Salva tanyakan, hanya saja teriakkan dari temannya menganggu acara ngerumpi mereka berdua.


"Woy! Kalian malah sibuk ngerumpi berdua!! sini gabung!!"


Mereka melihat sumber suara yang berteriak tadi, ternyata Gibran sang ketua kelas mereka dulu. Salva dengan Meli hanya nyengir lebar saat mendapat tatapan dari teman-temannya.


"Maaf," ucap mereka serempak sambil menuju mereka berkumpul.


"Kalo mau ngerumpi berdua gak usah undang kita, tuan rumah kok Malah ningalin sih!" Gibran langsung menyindir meli selaku tuan rumah dalam pesta ini.


"Kan udah minta maaf gib. Lo mah Baperan orangnya." Balas meli gak mau kalah. Tapi Gibran tidak memperdulikan ucapan meli, ia lebih tertarik untuk melihat Salva yang terlihat berbeda.


"Ini lagi. Sejak kapan Lo tobat Va?" Tanya Gibran yang langsung disambut tawa yang lain.


Salva memandang Gibran kesal. bukannya ditanya kabar dulu, tau mungkin hanya untuk basa-basi, tapi malah bertanya seperti itu.


"Gak usah banyak omong Gib! Kenapa yang ngumpul cuma dikit?" Tanya Salva mengalihkan pertanyaan Gibran.


"Maklumlah... Mereka sudah sibuk dengan urusan pribadi, hanya kita yang bisa datang." Salva menganguk mengerti.


Mereka kembali melanjutkan pesta ala-ala mereka, yang hadir hanya sekitar lima puluh orang, membuat interaksi mereka semakin mudah.


Nyesel dah dandan cantik-cantik, tapi datang hanya segini. Mana yang datang cuma yang nakall Waktu sekolah aja, gak ada gitu yang anak rajin dan pintar dulu mau hadir? Ternyata berteman dengan orang nakal itu lebih baik dari pada dengan orang yang alim dan pintar, tapi dengan mudah bisa melupakan teman-temannya.


Salva larut dengan pikirannya, sapi seorang pria mengejutkan mereka semua.


"Maaf gue telat!!!"


****"

__ADS_1


__ADS_2