
Salva tetap tidak rela Arya memeriksa lukanya, bagaimana pun hubungan mereka masih begitu canggung.
"Aku tidak mau! biarkan saja lukanya," ucap Salva.
Arya Semakin geram, bagaimana mungkin dirinya biarkan istrinya terluka sedangkan ia seorang dokter.
"Kamu buka, atau aku yang buka?" Salva langsung menggeleng cepat, astaga seharusnya ia tidak merintih tadi, jika sudah begini ia sendiri yang malu. mau tidak mau ia harus melakukannya.
"Baiklah... baiklah! kamu pejamkan matamu dulu...." Arya menurut saja, jika tidak perempuan ini akan merengek lagi.
Salva mulai membuka bajunya dengan canggung, sesekali ia melihat Arya, memastikan pria itu tak melihat. Setelah selesai Salva berbaring tengkurap menutupi dadanya, sedangkan punggung sudah tak tertutup apapun lagi.
"Sudah?" tanya Arya.
"Ya...."
Arya membuka matanya, hal pertama ia lihat kulit putih bersih yang membuat ia menelan ludah kasar. Ia melihat disana ada memar yang cukup besar, Arya menarik nafas panjang, sudah seperti ini perempuan ini masih saja keras kepala, padahal lukanya sudah membiru.
"Aku akan mengambil obat dan air hangat dibawah... kamu jangan bergerak dulu." salva menganguk canggung.
Fokuskan pikiran mu Arya, ini bukan yang pertama, bahkan kamu pernah melihat lebih dari ini... tapi kenapa dia begitu menggoda?
__ADS_1
Arya memukul pelan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran mesumnya. ia tidak boleh memaksa kehendak pada istrinya, jika tidak dia akan semakin memperburuk hubungan mereka.
Arya mulai mengobati memar Salva dengan canggung, entah mengapa rasanya begitu panas sedang menyerang dirinya.
"Apa sakit?" salva hanya menggeleng.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu bisa terluka?" tanya Arya lagi.
"Hanya jatuh... apa sudah selesai? aku akan memakai pakaian ku lagi." dengan cepat Arya menghentikan gerakkan Salva. salva yang bingung langsung waspada pada Arya.
"Sebaiknya tidak usah... jika dipaksakan akan membuat lukanya Semakin memerah nanti," ucap Arya, ia menyelimuti tubuh Salva sampai leher.
"Arya?" ini pertama kalinya ia memanggil nama Arya secara langsung, membuat dirinya sedikit canggung. "Bukankah tadi pagi kau bilang ingin berbicara? apa yang ingin kamu bicarakan?"
Arya berbaring disamping Salva, banyak hal yang ingin ia bicarakan berdua, tapi ia takut akan menyingung perasaan Salva, dirinya sendiri tak tau untuk memulainya dari mana?
"Apa kamu tidak ingin bercerita pada ku?"
"Apa?" tanya salva balik, ia tidak mengerti.
"Ya apa saja... aku ingin tau istriku lebih jauh, apa boleh?" Arya menoleh, menunggu reaksi yang diberikan Salva.
__ADS_1
Deg....
Jantung Salva serasa mau berhenti, apa sekarang akhirnya? atau awal dari segalanya? atau Arya sudah tau siapa dirinya?
Salva meremas selimut, ia benar-benar tidak tau bagaimana menjelaskan nya? bagaimana reaksi yang diberikan Arya setelah tau siapa dirinya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Salva yang masih tengkurap membenamkan wajahnya di bantal.
"Semuanya... aku ingin tau semuanya, jika bisa!"
Salva mencoba untuk bangkit, posisi seperti ini sangat tidak nyaman untuk mengobrol, lebih baik ia mengenakan pakaian dan berbicara serius dengan Arya. Tapi Arya langsung menghentikannya, ia menatap tajam Salva.
"Bukankah kita ingin berbicara? aku tidak bisa seperti ini," ucap Salva, seolah meminta izin pada Arya.
"Aku sudah bilang tidak bisa ... kamu akan kesakitan!" peringat Arya.
"Tapi ...." melihat tatapan Arya yang semakin tajam membuat nyali Salva menciut.
"Baiklah aku akan mencari baju yang nyaman untuk mu, lebih baik kamu berbaring!" ia pikir Arya marah, tapi ternyata pria itu tetap saja mengalah. benar-benar suami idaman....
******
__ADS_1