
Kejadian subuh tadi benar-benar tidak bisa dilupakan olehnya, bagaimana cara Arya menyuruh dirinya mencium tangannya, bagaimana Arya mengecup kening dengan lembut, benar-benar tidak bisa dilupakan.
"Ada apa? kenapa wajah mu memerah seperti itu? apa sakit?" Arya mencoba menyentuh dahi Salva, dengan cepat Salva menepisnya.
"Aku baik-baik saja... kau bersikap lah untuk pergi kerumah sakit," Ucap Salva gugup, benar-benar malu memandang wajah suaminya.
"Tolong Siapkan pakaianku... kamu tidak keberatan bukan?" Salva menggeleng cepat, tentu saja tidak keberatan, itu memang tugas seorang istri. Ahh kenapa wajahnya semakin panas, hanya karena mengucapkan satu kalimat itu.
"Sepertinya benar-benar sakit!! bagaimana jika ikut dengan ku kerumah sakit?" tanya Arya, yang langsung mendapat gelengan Salva.
"Apa kita jadi pindah rumah?" Arya mengerut keningnya, kemarin gadis itu menolak untuk pindah, kenapa sekarang malah bertanya?
"Tentu saja... setelah keadaan mu lebih baik!" Salva menganguk Setuju, ia sendiri belum siap untuk sekarang.
"Hai ini Gilang libur sekolah... Apa kamu bisa mengajaknya pergi keluar? aku takutkan ia semakin sedih melihat ayahnya yang sakit." Pinta Arya.
Salva hampir saja lupa jika suaminya punya seorang adik, mungkin karena tidak pernah bertemu membuat dirinya bisa lupa.
__ADS_1
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja?"
"Kemana adik mu? kenapa aku belum pernah melihatnya?" tanya salva, Arya menarik nafas panjang, ternyata menikah dengan orang yang belum kita kenal memang sedikit sulit, banyak hal yang tidak diketahui dan itu butuh waktu untuk menjelaskan nya.
"Dia ada dirumah ini... Hanya saja ia tidak bisa bertemu dengan banyak orang," ucap Arya sendu.
"Kenapa?"
Sekarang Salva mengerti mengapa saat pernikahan kemarin tak ada adik Arya keluar dan Gilang tiba-tiba menghilang. Gilang pasti sangat sedih melihat keadaan ayahnya, tidak ada ibu ada ayah malah tak bisa menjaganya, kasih sayang yang diberikan seorang nenek dan kakek tentu berbeda dari kasih sayang seorang ibu dan ayah.
"Baiklah... siang ini aku akan membawa Gilang bermain." Salva bersiap untuk keluar, mungkin sekarang ibu mertuanya sedang membutuhkan bantuan, meskipun dirumah ini ada pelayan tapi ibu si terbiasa untuk masak sendiri untuk keluarganya, katanya agar kasih sayang dalam keluarga tidak pernah hilang.
"Kau mau kemana?"
"Membantu ibu," ucap Salva, Arya menarik tangannya untuk mendekat.
__ADS_1
"Tidak usah... lebih baik kamu membantu suamimu bersiap." Salva mendelik kesal, apanya yang mau dibantu? semuanya sudah beres.
"Kamu...."
"Ada yang ingin ku bicarakan! tapi tidak sekarang, Tunggu aku pulang nanti." Arya tetap memegang tangan istrinya. "Ayo antar suamimu kedepan."
Apa Arya sedang melatih dirinya menjadi istri sesungguhnya? Kenapa sikapnya yang begitu dingin, sekarang berubah begitu cepat. Sepertinya ia harus lebih memahami sifat suaminya ini, meskipun dirinya merasa senang tapi ia takut ini hanya sementara, dan itu semakin membuat ia takut berharap.
"Ada apa? kenapa melamun?" salva tersentak saat Arya menyentuh pipinya, ia bukan tidak sadar dari tadi Arya memperhatikan dirinya.
"Aku tau kamu merasa bingung... setelah aku pulang nanti akan ku jelaskan." Arya membelai lembut pipi Salva, dan itu tidak ditolak sang empunya, membuat Arya merasa senang, itu berarti Salva bisa menerima.
"Ayo kita kebawah... ayah dan ibu pasti sudah menunggu dimeja makan." Salva yang masih terdiam mematung, mengikuti tarikan tangan suaminya.
Akankah ini awal yang baik? aku harap kali ini aku bisa menerima semua yang terjadi. dia suamiku... dia masa depan ku, aku harus meluruskan masa lalu yang kelam, aku berhak untuk bahagia meskipun dengan orang yang berbeda!!!
*******
__ADS_1