
Seorang wanita sedang duduk termenung dengan lamunannya sendiri, entah apa yang ia pikirkan tak ada yang tahu, hanya dia dan tuhan yang tau.
Mungkin sekarang ia benar-benar merasakan kebahagian dalam pernikahan, tak pernah terpikirkan kebahagiaan ini akan datang begitu cepat, ia bahkan pernah meragukan keadilan yang diberikan Allah.
"Apa yang sedang istriku pikirkan?" Salva tersentak ketika sadar suaminya sudah memeluknya.
"Sejak kapan mas pulang? Kenapa aku tidak dengan suara mobil?" Salva membalas pelukan suaminya tak kalah erat.
"Nah kebiasaan nih... orang bertanya dibalas dengan pertanyaan, gak sopan tau." Salva terkekeh kecil saat Arya mencubit pipinya.
"Aku hanya duduk aja mas... Tidak ada yang ku pikirkan."
"Benarkah? jadi seharian ini kamu tidak memikirkan suami tampan mu ini?" tanya Arya percaya diri, yang langsung disambut tawa Salva.
"Kamu benar-benar berubah mas, Tidak pernah terbayangkan oleh ku pria dingin dulu berubah seperti ini!!" Salva melanjutkan tawanya, sedangkan Arya hanya nyengir kuda, ia sendiri tak tau kenapa ia bisa berubah, padahal dulu ia lebih suka dengan hal yang serius dari berkata lebay seperti sekarang.
Sepertinya aku benar-benar berubah... Sejak kapan aku menjadi begitu puitis? Tapi tidak apa-apa, apa yang membuat istriku bahagia akan kulakukan dengan senang hati.
Arya memandang wajah istrinya yang sedang tertawa, ia terlihat begitu cantik dengan senyum diwajahnya. Ia bahkan rela mengorbankan apa pun untuk selalu mempertahankan senyuman cantik itu, agar tetap diwajah istrinya.
"Aku mencintaimu, istriku!"
Salva langsung berhenti mendengar kata cinta suaminya, ia tau ucapan itu begitu tulus, dan ia sangat senang mendengarnya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, suamiku!" Balas Salva tak kalah romantis.
"Kenapa malam-malam seperti ini, kamu malah duduk diluar rumah. kamu bisa sakit sayang," bisik Arya.
"Tidak apa-apa aku sakit, karena aku sudah ada dokter pribadi untuk merawat ku nanti." Arya terkekeh mendengar jawaban istrinya.
"Dan suami tampan mu ini tidak akan membiarkan istrinya sampai sakit, Nanti jatahku akan berkurang." canda Arya.
"Ihh mas mesum!!"
"Tidak apa-apa mesum sama istri sendiri! Dan sekarang ayo kita masuk dalam, agar aku bisa menghangatkan tubuh istriku ini...."
Salva hanya tersipu, ia bahkan membiarkan Arya mengendong tubuhnya. Saat mengingat jatah entah mengapa ia merasa malu, padahal tiga hari ini mereka selalu melakukan kegiatan panas itu, mungkin hanya belum terbiasa, pikirnya.
******
Sepasang kaki jenjang Salva seperti terpaku ditempatnya berdiri, ia tak mampu bergerak setelah melihat kaivan, mantan suaminya yang selalu ia hindari dan sekarang sedang berdiri dihadapannya dengan gagah.
Ia sempat ingin berbalik dan meninggalkan pria itu, tapi itu semua ia urungkan saat mendengar suara Kaivan.
"Kenapa kau harus setakut itu Salva?"
Mau tak mau ia harus menghadapi ocehan mantannya itu. "Tentu saja takut! uhhh... Kaivan... maksudku, tolong jangan temuiku lagi. Sudah ku bilang, diantara kita sudah berakhir, kenapa kau masih ingin menganggu hidupku?" Tak lagi ada embel-embel mas untuk memanggil mantan suaminya itu.
__ADS_1
"Kau berhutang penjelasan dengan ku va... aku hanya ingin meminta sedikit waktu mu."
"Maaf aku tidak bisa! Aku harus pergi."
Ada rasa menyesal dalam dirinya, seharusnya ia mendengar nasehat suaminya untuk tidak keluar tadi. Padahal ia hanya ingin berjalan-jalan santai untuk menenangkan pikiran, tapi malah mendapat banyak pikiran.
"Aku tau kau sudah menikah!!" teriak kaivan. "Kau mencoba untuk menutupinya dari ku? apa begitu cepat cinta mu berubah?" Salva menatap Kaivan dengan mata menyala.
"Cukup!! Kau tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan hidup ku!" salva mendelik marah. "Seharusnya kau belajar dari masa lalu, Apa kau tidak malu datang dihadapan wanita yang kau buang ini? lalu kenapa kau datang seolah-olah dirimu yang terluka disini?!" Salva benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi, untung mereka sedang berada di taman, jadi suasananya sedikit sepi.
"Kau jangan marah dulu," Kaivan berkata sedikit menyesal. "Aku minta maaf,"
Sejenak Kaivan menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang getir.
"Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu? aku mengaku salah, maafkan kebodohan ku dimasa lalu Va... hanya saja aku memperbaiki hubungan antara kita." Kaivan menarik nafas berat. "Kamu juga tau, disini tidak sepenuhnya kesalahan ku. salsa yang sudah menipu kita semua."
Salva menatap Kaivan dengan sinis, Apa tidak ada alasan yang lebih baik lagi. Kata maaf memang mudah terucap dari mulut seseorang, tapi hati yang sudah itu untuk sembuh.
"Apa anda lupa tuan Kaivan? aku sudah pernah mengatakan padamu. 'Saat kebenaran terungkap dan hubungan kita berakhir, kau akan menyesal, dan akan merindukan wanita jelek ini. Dan sekarang kau menyesal setelah menghancur leburkan hati dan perasaan ku? Maaf cintaku sudah kuberikan pada suamiku, pria yang Benar-benar mencintai ku dengan tulus."
Salva tak menunggu Kaivan menjawab ucapannya, ia langsung berlari pergi dari sana. ia tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk mengingat masa lalu.
******
__ADS_1