
Tok...tok...tok...
Seorang pria masuk setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan, dengan tegap dan penuh semangat pria itu ingin melaporkan hasil penyelidikan pada sang bos. sudah hampir seminggu ini ia berkutat dengan pekerjaannya yang terasa begitu rumit, tapi hasil yang didapatkan memang tidak mengecewakan.
"Selamat siang tuan," ucap pria itu ramah pada kaivan dan Adam yang masih bingung dengan situasi ini, apalagi melihat wajah Kaivan yang seperti gugup.
"Siang... bagaimana hasilnya? aku harap tidak mengecewakan!" balas Kaivan seperti biasa dengan bawahannya, tegas.
"Tenang saja tuan, saya sudah mendapat kesaksian yang sebenarnya. dan beberapa bukti dari kejadian itu." Kaivan terlihat gugup, entah lah? kenapa hatinya berdetak penuh ketakutan saat mendengar ini.
"Katakan!"
"Tapi tuan?" Seolah bertanya,apa tidak apa-apa menjelaskannya didepan Adam yang tidak dikenalinya.
"Tidak apa-apa,dia sahabat ku."
"Baiklah,"
Sang pria mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tasnya, Dan langsung disodorkan pada Kaivan. Kaivan bisa pastikan itu pasti hasil yang didapat, tapi kaivan masih bingung kenapa pria ini bisa dengan cepat mendapatkan bukti ini? seminggu waktu yang cukup lama, tapi kalo udah menguak kasus yang sudah-sudah lewat beberapa tahun ini, tentu akan memakan waktu yang cukup lama.
Kaivan mulai membuka amplop coklat itu dengan hati berdebar, entah kenapa ia begitu takut. mungkin ia takut apa yang diucapkan ayahnya terbukti,dan itu pasti akan menjadi penyesalannya seumur hidup.
Adam yang juga ikut penasaran, mendekatkan duduknya di sisi kaivan.
"Bagaimana?" tanya Adam, tapi tak dijawab kaivan. karena terlalu fokus dengan benda yang dibukanya membuka dia tidak peduli dengan pertanyaan Adam.
Semoga ini akan membuktikan semuanya...
__ADS_1
Saat hal pertama yang dibuka kaivan, terlihat foto Salva yang sedang memangku tubuh Naira yang bersimbah darah. dan itu membuat tubuh Kaivan semakin menegang.
"Aku sudah mencari saksi yang sebenarnya taun,dan itu seorang wanita tau... dia melihat kejadian itu saat ia berjalan kaki,dan kesaksian dia sudah saya rekam dalam flashdisk ini." ucap sang pria sambil menyerahkannya.
karena memang didalam amplop itu tidak terlalu banyak foto yang menguatkan bukti, karena hanya terlihat Salva yang mencoba membatu Naira saja.
"Disini juga ada cctv yang menjadi barang bukti kita, tapi itu tak bisa menguatkan, karena letaknya agak jauh."
Kaivan mulai mengambil laktop,dan mulai membuka video bukti yang diberikan Haris.
Isi rekaman suara
"Nek aku hanya ingin bertanya tentang kecelakaan itu? bukankah nenek bilang melihatnya?" terdengar Haris mulai bertanya pada sang nenek yang menjadi saksi.
"Iya... itu memang benar... saat itu aku baru kembali dari warung,dan melihat seorang gadis ingin menyeberang. awalnya aku tidak Ngeh, tapi aku melihat mobil yang mengikutinya dan saat dia ingin menyeberang menemui temannya mobil itu seolah langsung tancap gas dan sengaja menabrak Gadis cantik itu...." sang nenek menghentikan ceritanya sejenak.
"Saat gadis itu terpelanting, seorang gadis juga berlari mendekati nya. ia memeluk temannya itu,aku melihat Seseorang keluar dari mobil mengunakan penutup wajah dan seluruh tubuhnya. entah dari mana segerombolan orang langsung datang, tapi dia bukan dari warga kami. aku tidak mengenal mereka. mereka langsung mengatakan Gadis itu yang sudah menabraknya dan mereka sepertinya sengaja memperlambat kan waktu." kembali sang nenek berhenti bercerita karena terbatuk-batuk.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" desak Haris,pria itu Begitu bersemangat.
"Tak lama mereka membawa dengan mobil pribadi, bahkan mereka tidak melapor kepolisian jika itu kecelakaan murni,aku yakini itu pasti sudah direncanakan!"
"Lalu kenapa mereka bilang itu mobil temannya itu? apa tidak ada warga yang lain melihat?" sang nenek langsung mencoba mengingat-ingat.
"Ada satu lagi yang lihat, pemilik warung kecil-kecilan di sana,kamu bisa cari bukti disana juga. aku masih ingat didepan kedainya memiliki kamera." nenek itu dengan semangat memberi tau Haris.
"Dan masalah mobil itu,si pengendara kabur dan meninggalkan mobil itu. Dan yang mengakibatkan sebagai warga itu menuduh temanya yang pemilik mobil..."
__ADS_1
"Apakah nenek mau menjadi saksi jika kasus ini dilaporkan?" tanya Haris.
"Aku masih ingat dengan jelas... aku akan menjadi saksi jika itu dibutuhkan!" terdengar Haris menarik nafas lega, setidaknya ada saksi yang mendukung.
"Baiklah nek... aku ucapkan terima kasih," ucap Haris sebelum menutup rekaman itu.
******
Nafas kaivan memburu,ia begitu marah mendengar penjelasan sang nenek yang menjadi saksi.
"Ini tidak mungkin... jadi selama ini aku hidup dalam kebohongan!!!" brakk... Kaivan memukul meja sebagai pelampiasan kemarahannya.
"Tenang lah kawan! kita harus Lihat bukti selanjutnya!" Kaivan mengeram kesal, bagaikan dia bisa tenang. ternyata selama ini, hidupnya dikendalikan orang lain tanpa dia sadari.
"Aku akan memberi tau ayah masalah ini!!" Kaivan bersiap untuk menelpon ayahnya.
"Tidak perlu tuan Kaivan... tuan besar sudah mengetahuinya, sebenarnya kasus mu ini sudah aku selidiki dari jauh-jauh hari."
"Apa?? kenapa ayah tidak memberi tau ku!"
"Karena tuan besar melarang ku... dia bilang tuan Kelvin harus berusaha sendiri untuk masalah ini." Jawab Haris tanpa dosa. yang semakin menyulut emosi kaivan. jika dia tidak ingin Haris orang kepercayaan ayahnya, sudah dia pukul dari tadi.
"Sekarang aku mengerti kenapa ayahmu meminta bantuan pada ayahku!" Kaivan melihat Adam yang seperti berpikir.
"Kenapa?"
"Akan aku jelaskan! tapi sekarang kita harus memenui mereka!" sekarang giliran Haris yang bingung. ia tidak tau jika masalah perkantoran.
__ADS_1
"Baiklah aku permisi...."
*****