Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
mirip dia?


__ADS_3

Mereka telah sampai didepan rumah keluarga Salva, dapat tercium aroma yang b gitu lezat. Sudah dapat Salva pastikan jika bunda sudah memasak banyak untuk menunggu kedatangan mereka.


Sebenarnya hanya bunda yang tau kedatangan mereka, Salva sengaja melarang bunda mengatakan kedatangannya pada yang lain.


Saat ketukan pintu yang ketiga, pintu mulai terbuka dari dalam. Terlihat wajah ayah yang begitu terkejut melihat keberadaan dua manusia didepannya.


Ayah Ardi memicingkan matanya, menyakinkan bawah dia tidak salah lihat. "Ohh ya tuhan!!! apa Benar-benar putri dan menantu ku yang datang?!!"


"Assalamualaikum ayah...," ucap Salva bersama dengan Arya.


"Waalaikum salam."


Teriakan ayah sampai didengar bunda dan Nana, mereka buru-buru keluar menyambut mereka.


"Alhamdulillah... akhirnya kalian sampai juga!"


Sang ayah terdiam sesaat sembari memperhatikan wajah istrinya yang tampak bahagia. Seakan wanita itu sudah tau akan kedatangan mereka ke Jakarta.


"Kamu sudah tau mereka akan datang?" tanya Ardi penuh selidik. Bunda hanya bisa nyengir lebar, merasa bersalah pada suaminya.


"Maaf yah... kan kejutan," Ucap bunda lirih, bukan salahnya juga, karena permintaan Salva sendiri seperti itu.


"Aduhhh... Gak diajak kami masuk yah, Bun? Bukannya rindu sama Salva,malah asik berdua ngobrolnya." Salva menggeleng melihat tingkah kedua suami istri itu, meskipun sering kali bertengkar, tetap saja mereka akan kembali romantis.


"Aduhhh bunda jadi lupa... Ayuk masuk nak Arya."

__ADS_1


Salva terdia mendengar ajakan bundanya, bukankah tadi dia yang meminta masuk, tapi kenapa sekarang hanya suaminya yang diajak?


"Ayah??"


"Ya."


"Kenapa dengan bunda?"


"Memangnya ada apa dengan bunda mu?" Ardi bingung dengan pertanyaan yang diajukan Salva, ia rasa tidak ada yang salah.


"Ahh sudah... Tapi Nana dimana yah?" salva baru sadar dari tadi adiknya itu belum muncul.


"Entah lah, mungkin sedang didapur membantu bundamu. Ayo kita masuk, sebelum sang ibu ratu berteriak." Salva terkekeh kecil mendengar pangeran untuk bundanya itu, sang ratu, sangat cocok bagi Salva.


Setelah duduk diruang tamu Nana keluar dengan membawa minuman untuk mereka semua. Pantas saja gadis itu menghilang tadi, teen dia sedang mengambil hijabnya yang tertinggal dikamar. Itu memang kebiasaan Nana, didalam rumah yang tidak ada tamu ia akan membuka hijabnya.


Setelah menghidangkan minuman, Nana duduk disisi kakaknya sambil saling berbagi cerita. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan pada kakaknya ini, tapi ia sedikit sungkan dengan kakak iparnya.


"Banyak hal yang ingin aku tanya pada kakak, Bagaimana malam ini kita tidur bersama?" Salva sedikit bimbang dengan bisikan Nana, ia tidak yakin Arya mau ditinggalkan, apalagi ia masih baru disini.


"Kakak tak yakin dia mau ditinggalkan! Bagaimana dengan besok pagi?? kita perlu jalan pagi bersama." Nana menganguk Setuju, behind sambil jalan santai hal yang sangat ingin mereka lakukan sekarang.


"Baiklah... Berjanjilah untuk bangun cepat sembuh nanti. Aku tak yakin kak Salva bisa, palingan sudah duluan olahraganya sama kak ipar...," ejek Nana yang Lang dijawab dengan senyum malu-malu Salva. Mukanya langsung memerah, tebakan adiknya ini memang benar.


"Sudah lah dek, pokoknya kakak janjinya kita akan jalan pagi bersama!"

__ADS_1


*****


Salva membawa Arya beristirahat dilamarnya yang dulu waktu gadis. Mereka benar-benar merasa kekenyangan, bunda begitu banyak memasak, dan ia menyuruh Arya dan Salva untuk menghabiskan semuanya. dirinya yakin,tak lama lagi berat badannya akan bertambah jika lama tinggal disini.


"Dek?"


"Ya mas,"


"Apa kamu tau? Setiap mas melihat wajah adikmu, mas merasa mengingat sesuatu." salva mulai serius mendengar ucapannya suaminya.


Sesuatu apa ya? Apa mas Arya masih mengingat mantannya?


Salva mulai was-was mendengar ucapan Arya. "Apa dia mantan mas?"


Arya mulai menyadari ada keanehan dalam suara istrinya, pasti istrinya sudah berpikiran yang tidak-tidak.


"Belum dibilang juga, udah cemburu aja kamu dek...," ejek Arya sambil menarik pundak Salva untuk bersandar di dadanya, yang tidak ada penolakan dari Salva. "Maksud mas... Saat pertama kali mas lihat Nana, mas mengingat lia."


"Lia??"


"Itu loh dek... mamanya Gilang. wajah mereka sedikit mirip, mata, hidungnya dan senyum mereka hampir sama!" Salva mengangguk mendengar perkataan Arya, bagaimana pun dia belum pernah melihat wajah ibunya Gilang, jadi dia tidak bisa untuk membandingkan mereka.


"Aku tidak tau mas... kan Salva belum pernah bertemu dengan ibu kandung Gilang, jadi tidak tau apa mereka sama apa tidak!"


"Ya... setelah kita kembali ke Bandung, akan mas perlihatkan foto dia." Salva menganguk Setuju, jika seperti itu lebih baik.

__ADS_1


*****


__ADS_2