Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
pesan terakhir


__ADS_3

Tidak seharusnya ada keadaan yang sulit seperti ini, jika saja dirinya tidak berbuat kekanak-kanakan, mungkin hubungannya dengan sang istri masih baik-baik saja.


Malam ini ia kembali menemukan ayah mertuanya untuk membujuk pria itu mengurungkan niatnya untuk memisahkan mereka.


"Ada apa?" Kali ini Ardi yang Langsung bertanya.


"Ayah ... Aku tidak setuju dengan permintaan ayah tadi siang!" ucap Arya sedikit tidak sabaran.


"Apa aku peduli?" Ardi membuang tatapannya. "Aku hanya ingin putriku bahagia, tapi kamu sepertinya tidak bisa melakukannya!"


Diam, hanya itu yang mampu menjawab ucapan ayah mertuanya itu. Nyatanya apa yang dikatakannya memang benar. Ia belum memberikan kebahagiaan untuk istrinya, selama ini hanya luka. Bahkan ia begitu sibuk sampai tidak memedulikan istrinya sudah begitu jauh berubah.


"Aku tau salah ... Tapi aku akan berusaha untuk lebih baik ayah. Aku tidak mau berpisah dengan istriku. Dia sudah menjadi separuh hidupku, bagaimana bisa aku kehilangannya?" Itu tulus dari hatinya, hanya itu yang mampu ucapkan untuk meluluhkan hati ayah mertua, tapi ternyata itu membuahkan hasil.


Ardi menarik nafas dalam-dalam sebelum ia mengucapkan sesuatu yang akan mungkin merubah keputusan menantunya ini.


"Kau tau? kenapa ayah mengambil keputusan ini?" Arya hanya menggeleng.


"Ini bukan masalah masa lalu... tapi masa depan kalian! mungkin setelah ini kau akan berubah pikiran nak!"


"Tidak akan." Arya tetap pada pendiriannya, baginya menikah hanya sekali dan pada akhirnya hanya maut yang akan memisahkan mereka. Ia tidak akan menyerah secepat ini, bahkan berjuang pun belum ia lakukan.


"Kau yakin?"


Arya mengangguk dengan yakin, bahwa ia tidak akan berubah pikiran apapun yang akan terjadi, menerima apapun yang sudah ditakdirkan untuk dirinya.


"Kami sudah bertemu dengan psikiater, dan hasil yang kami dapatkan sangat mengecewakan."

__ADS_1


Arya yang belum paham hanya mengerutkan keningnya tak paham, "Maksud Ayah?"


"Istrimu sedang tidak baik-baik saja nak! Mungkin dia belum bisa melupakan peristiwa masa lalu ... sekarang ia dinyatakan sedang stres berat, bahkan dia bisa menjadi lebih buruk jika masih dalam keadaan seperti ini ...," Ardi menggantung Ucapannya, ia sendiri merasa sulit mengatakan hal buruk itu untuk putrinya.


"Apa maksudnya?"


"Jika Salva tak bisa keluar dari Trauma ini Mungkin dia akan semakin stres. Dan sebagai dokter kau tau apa yang akan terjadi setelah itu," ucap Ayah lesu, tidak ada lagi wajah garang seperti tadi.


"Salva ... Salva Trauma? stres? depresi??" Sungguh dirinya belum dapat mencerna kejutan ini, ia bahkan tidak menyadari perubahan pada istrinya itu.


"Dokter bilang ini masih bisa diobati. Salva baru tahap awal mengalami stres ini, tapi kalau dia Semakin tertekan, mungkin akan ...,"


"Tidak, itu tidak boleh terjadi!"


"Sekarang pilihan ada padamu nak. Jika kamu benar-benar mencintai putriku, maka berjuanglah bersamanya dimasa sulit ini. Tapi jika kau tak mampu, tinggalkan Salva dari awal ini. Meskipun akan membuat ia semakin tertekan dan sedih, tapi itu lebih baik dari pada dia harus hidup dalam keraguan!"


"Ayah memberikan waktu untukmu berpikir dua hari... setelah itu keputusanmu akan menentukan masa depan kalian!"


"Tidak!" tolaknya cepat. Arya mengambil tangan ayah mertuanya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Salva, itu janjiku padamu."


Ardi tersenyum melihat ketulusan Arya dalam mencintai putrinya, ada tetesan air mata yang ia usaha untuk ia tutup dari menantunya. Nyatanya meskipun hanya sebatas ayah angkat, tapi baginya orang yang sudah menjadi anaknya, batinnya tetap terluka saat Putrinya dilanda dalam masalah yang rumit ini.


"Sejujurnya, anakku juga bukan sengaja untuk mengabaikan mu ... Dia hanya merasa Trauma saat kau mendiaminya, ia merasa kau akan meninggalkannya seperti yang dilakukan Kaivan.


Ayah Mohon... Cobalah mengerti disisi Salva, dia bukan tidak mencintai mu, tapi rasa takut dengan masa lalu yang belum bisa ia lupakan."


Arya terdiam mendengar semua kebenaran ini, apakah benar istrinya begitu terluka? Jika benar ia berjanji akan selalu menemani istrinya apapun yang akan terjadi.

__ADS_1


*****


Arya memasuki kamar yang begitu gelap, mungkin Salva sedang menyendiri lagi, mematikan semua lampu kamar mereka lalu menangis di dalam kegelapan.


"Sayang?"


Tidak ada jawaban dari dalam. ia mulai mencoba untuk menyalakan lampu kamar.


"Sayang ... Kamu dimana?" panggil Arya lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.


Setelah memeriksa setiap sudut kamar, Arya melihat selembar kertas di atas meja. Dengan tangan bergetar ia mengambil surat yang ditinggalkan istrinya, perasaan benar-benar tak enak, apa terjadi sesuatu pada istrinya?


SURAT UNTUK SUAMIKU


Setelah kamu menemukan surat ini, mungkin semuanya akan berubah mas. Mungkin di saat kamu memanggil namaku, diri ini sudah tak ada lagi disisi mu.


Aku memilih untuk menuruti permintaan ayah, mungkin ini yang terbaik untuk sekarang. Aku pergi bukan berarti akan melupakan mu, tapi aku pergi untuk kembali dalam pelukanmu.


Aku berjanji akan kembali setelah semuanya lebih baik, dengan kebahagiaan, senyum dan tawa kita, biarlah aku melupakan masa sulit ini.


Aku tidak ingin ada perpisahan ini ... tapi nyatanya Allah berkehendak lain.


Selamat tinggal, sayang. Aku mencintaimu dengan jarak yang memisahkan kita!


I LOVE YOU SUAMIKU TERSAYANG ❤️


-END-

__ADS_1


*******


__ADS_2